Assalamualaikum!!
Aku mau bagi-bagi cerita nih tentang ilmu.
Yes, knowledge. Hal yang perlu kalian
ketahui adalah aku bukanlah orang yang berilmu tapi, aku berusaha untuk belajar
supaya menjadi orang berilmu. Lalu, hal yang hendak aku share mulai dari sini...
Sejak aku berprinsip untuk berubah
menjadi Niar yang sekarang, aku berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi Niar
yang sekarang. Banyak jalan yang aku lewati setelah jatuh sakit selama satu
minggu. Salah satunya adalah adanya blog ini. Dari awal blog ini dibentuk,
tujuan aku adalah membagi ceritaku supaya bermanfaat. Karena aku sadar, bahwa
ceritaku ini sangatlah unik dan banyak moral
value-nya. So, sayang banget kalau
tidak dibagi. Kalau bisa diwariskan sih, hehehe...
Hal utama yang aku lakukan
adalah mendekatkan diri kepada-Nya. Sholat dibenerin. Lebih khusyu‘ gitu, terus
baca Al Quran + artinya, terus sholat dhuha, nonton ceramah ulama yang aku
percaya dan baca buku. Awalnya aku memutuskan baca buku itu karena anjuran di
Al Quran untuk terus Iqra‘. Makna Iqra‘ di sini bukan hanya baca Al Quran. Tapi,
semua ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, serta informasi-informasi yang
tersebar dari yang gratis sampai diskonan sampai berbayar itu dibaca juga, bro
sis. TAPI, jangan baca ff porno yaak
:v JANGAN BACA DISKON DI RAMAYANA JUGAA, ITU TIDAK BAIK UNTUK KESEHATAN
KANTONGGG J J
Karena dari smp aku tertarik
membaca karya sastra berupa novel. Akhirnya aku putuskan untuk menambah
wawasanku dari novel-novel tersebut. Aku masih ingat bulan desember tahun lalu,
aku benar-benar baca 4-5 buku dalam kurun waktu seminggu. Serasa dikejar deadline. Padahal ya karena aku terlalu
nganggur aja siih.. wkwkwk. Ya gapapa lah ya, daripada gak bermanfaat
nganggurnya. Kemudian, aku juga rajin nulis di blog. Curhat tentang si Mawar
sampai berhujung konten #aku. Jelas tulisanku tidak terkontrol saat itu,
apalagi masih belum profesional karena emosiku masih menyeruak di dalam tulisan
itu. Tapi, berkat tulisan itu juga aku bisa belajar menulis. Konsisten. Istiqomah.
Sampai alhamdulillah, kemarin dapat feedback yang bagus dari teman yang suka
baca blog. Alhamdulillah kalau tulisanku bisa berkembang jauh lebih rapi dan
lebih baik. Semoga sampai seterusnya berkembang jauh
lebih baik. Aamiin. Doain yaa!!
Balik ke novel yaa. Ternyata dari
sekian novel yang aku baca, daya tarikku selalu jatuh di novel yang memuat
tentang agama dan pemikiran. Not only based on Hadist and Al Quran, but
also based on the author’s mind too.
Semakin sering aku mengonsumsi novel-novel seperti itu, aku juga semakin dibukakan
dengan hal-hal baru. Positif maupun negatif semuanya hadir seperti hujan. Aku belajar
untuk menerima kedua hal tersebut, karena aku yakin. Bahwa dengan
ditunjukkannya aku kedua hal itu, aku mampu menjadi orang yang lebih baik. I learn how to choose something important
and right for myself. That makes me cry so hard. Why? Because I can feel His
love for me through this way.
Syukur. Itu benar-benar jadi motto hidupku
untuk berubah. Karena perasaan menerima itu adalah ilmu yang mengantarmu kepada
kesabaran dan memberikan kebahagiaan. Like Ali bin Abi Thalib said, “Patience is the key to happiness.” Novel yang aku konsumsi pertama kali, of course yang ada romancenya dulu lah
yaa. Novel-novel karya Tere Liye, lanjut ke karya Hanum Salsabiela Rais, lanjut
ke Wirda Mansur dan best of the best
novel from Denny Siregar.
Wirda Mansur adalah author termuda versi novel yang sudah ku baca yang
membuatku bangun. Dia benar-benar memotivasiku untuk bergerak, terus bergerak
tanpa memandang batas. Katanya Wirda, “Minta sama Allah Swt. Jangan pernah ragu
minta, karena Allah Swt itu As-Sami’.“ Lalu melalui novel karya Denny Siregar, aku
belajar banyak bangettt. Judul bukunya “Tuhan Dalam Secangkir Kopi”. Judulnya aja
udah mengundang kepo, apalagi
dalamnya. WAJIB FARDHU KHIFAYAH BACA SUMPAH! Moral value dari buku itu adalah before you change the world, change yourself first. Before you make an
effort, pray first. Kalau biasanya usaha dulu baru sholat, sekarang sholat
dulu baru usaha terus doa lagi. Pray is
number one.
Sejak saat itu, aku memutuskan
untuk memperbanyak membaca. Selain tujuannya adalah mengamalkan perintah Allah
Swt, tapi juga karena aku ingin jadi penulis. Lalu, melalui tulis-menulis ini
aku ingin mengelilingi dunia milik-Nya. Aamiin. Doain yaa!!
Karena sering mengonsumsi karya
sastra ini, aku berani untuk memberikan target untuk diriku sendiri, berupa
membaca 30 novel/buku dalam satu tahun. Meskipun, tidak memaksakan diriku juga.
But, I have to challenge myself because
this is important. Tidak hanya novel religi, tapi aku juga membaca
novel-novel non religi. Itung-itung nambah pengetahuan. Dari situlah aku bisa
mengetahui gaya bahasa tulis-menulisku, terutama di blog. Bagi kalian yang
mengikuti tulisanku dari awal pasti sadar kalau aku merubah gaya penulisanku. Dari
gue ke aku atau saya.
Seiring berjalannya waktu, aku
mulai mengonsumsi bacaan berat. Seperti yang sedang berusaha ku tamatkan
sekarang ini adalah buku Ensiklopedi Akhir Zaman. Buku ini memiliki 1000
halaman. Dan aku masih sampai di halaman 200-an. Kenapa sulit banget
menyelesaikan buku ini? Karena baca buku ini tuh butuh persiapan mental, guys. Padahal aku sudah membaca buku ini
sejak bulan Ramadhan lalu, tapi sampai sekarang baru sampai halaman ke 200. Sedihh
L. Tapi mau bagaimana lagi, karena sempat
beberapa hari tidak menyentuh dengan alasan tidak kuat lagi. Ngeri baca
ceritanya Dajjal, akhir zaman serta kiamat itu sendiri. Seru sih, tapi serem.
Dari buku itu aku mengetahui
bahwa Dajjal itu akan mati. Dan aku baru tahu. Lalu, Imam Mahdi itu akan muncul
apabila kita (umat muslim) tidak menyerah. Maksudnya adalah kita tetap berjuang
di jalan Allah Swt. Bukan yang “jihad” bombardir itu. Tapi, dari segi ilmu. Sadar
atau tidak, muslim itu banyak tapi lemah. Gak percaya? Lihat deh sekeliling
kita. Gak perlu jauh-jauh, lingkungan perumahan atau kelas aja deh. Coba hitung
perbandingan anak yang rajin belajar dengan anak yang rajin skip alias tidak
memperhatikan pelajaran. Pasti banyak yang skip. Why? Karena belajar tuh membosankan, enakan main game. Kurang lebih
begitu pemikiran mereka yang skip. Padahal, itu adalah hal yang salah. Why?
Satu, karena kalau keadaan
muslim nih woles-woles (lemah) ae, Imam Mahdi tuh juga susah untuk
keluar. Karena kemajuan umat Islam itu juga mempengaruhi kemunculan Imam Mahdi.
Selain itu, hidup ini itu seperti gunung. Naik turun naik turun. Well, suatu saat Islam akan bangkit kembali. Islam akan bangkit menguasai dunia
ini. Kapan? Only Allah Swt knows. Kalau
kita begini-begini aja, kapan Islam bisa bangkit? Sampai kapan negara barat mendominasi kehidupan kita?
Dua, karena ilmu itu nanti akan
diangkat. Itu salah satu tanda kiamat. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad Saw pernah
mengingatkan untuk menimba ilmu sampai sebelum ilmu itu diangkat. Bagaimana ilmu
itu bisa diangkat? Jadi, Allah Swt akan memanggil ulama-ulama. Jadi,
berkuranglah jumlah ulama di dunia ini. Nah, kalau ulamanya sudah meninggal
lalu murid-murid ulamanya ini leha-leha tidak meneruskan ilmunya. Otomatis,
kita menjadi umat yang bodoh. Kita bisa tersesat. Karena seiringi berkembangnya
zaman, pasti setelah ulama ini wafat. Kita membutuhkan pemimpin baru. Apabila pemimpin
baru ini, bukanlah orang yang benar-benar mewarisi ilmu dari ulama itu yang
sesuai dengan agama. Maka, akan mudah untuk membuat fatwa-fatwa baru untuk
menafsirkan ayat-ayat Al Quran sesuai dengan kemampuan dia. Di sinilah kita
akan sama bodohnya dengan pemimpin itu. Maka dari itu, yuk menimba ilmu sebelum
ilmu itu diangkat. Paling tidak ilmunya ada yang mewarisi, caranya ya mungkin
seperti aku membuat karya tulis J
Usahakan untuk menimba ilmu lalu
di-share. Supaya ilmu itu ada yang
mewarisi. Karena kalau sudah tidak ada yang mewarisi, ya sudah. Berarti kiamat
semakin dekat. Lebih dekat lagi maksudnya. So,
let’s learn more. Talk less do more. Don’t be lazy. Let’s make a great
movement. Untuk selengkapnya, bisa dibaca di buku Ensiklopedia Akhir Zaman.
Pesan aku, baca bismillah dulu sebelum bacaa JJJ
Itulah yang ingin aku sampaikan.
Percayalah ilmu tidak ada habisnya. Dunia ini luas, ilmu tumbuh di mana-mana. Tinggal
kitanya aja mau memanen ilmu itu atau tidak. Tidak ada kata terlambat untuk
terus menimba ilmu. Mari belajar bersama. JJJ

Comments
Post a Comment