Assalamualaikum pembacaku tersayang JJ
Setelah beberapa hari menulis akhirnya aku rindu menulis kembali hehe. Kali
ini aku mau mengekpresikan diriku melalui tulisan ini mengenai cinta. Siapa yang tidak mengenal cinta. Rahmat terindah
yang Tuhan ciptakan untuk seluruh umat-Nya. Bagi Yang Maha Membolak-balikkan
hati, Dia lah yang menciptakan perasaan yang dahsyat ini tiada tara. Ciptaan
yang begitu dahsyat hingga membutakan penyewanya. Entah dari yang
berbunga-bunga lalu hatinya tersakiti. Entah dari yang galau karena putus cinta
lalu bisa menemukan pengganti yang lebih baik. Well, we don’t know exactly. Cinta.
Aku pernah menjalin hubungan dengan orang lain dahulu. Semua itu aku
lakukan karena rasa penasaran. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya menjalin
hubungan. Maklumlah waktu itu masih cinta monyet, haha.. Tapi, anehnya di
setiap hubungan yang aku jalani. Aku merasakan dampak baik dan buruknya dari
menjalin hubungan. Dan entah mengapa, aku selalu mendengar bisikan yang
menggelegarkan hati serta pikirku. Bisikkan itu membuat aku ragu pada diriku
sendiri dan aku mulai menanyakan untuk apa aku menjalin hubungan ini. Aku
kadang heran dengan laki-laki yang selalu mengejarku. Mereka mendekatiku
menawarkan kisah yang manis dengan bualan-bualan yang sungguh seperti diskon di
mall. Murah. Yash!
Gimana gak murah, masih
smp udah nebar janji membuat hidupku bahagia. LOL. Kalau dipikir-pikir
sekarang, lucu juga ya masa lalu itu. Pada akhirnya meskipun aku kukuh dengan
pendirianku untuk berkata tidak, ternyata janji yang diobral semakin murah. Heran
aku kepadanya. Kok bisa ya?
Detik demi detik berlalu,
menit dan jam pun tak sanggup meninggalkan detik sendiri berlalu. Aku mulai
menyadari bahwa ada yang berbeda dari tubuhku. Sebagai seorang wanita, apalagi
sudah menyentuh pubertas. Aku mulai merasa malu berada di kerumunan lawan
jenis. Terkadang, tatapan mereka membuatku tidak nyaman. Aku pun resah. Takut.
Entah bisikan dari mana, akhirnya aku memutuskan untuk menutup diriku sendiri.
Setelah beberapa tahun
belajar istiqomah berhijab. Ku kira aku akan dijauhkan dari perasaan cinta. Aku
pikir, aku mampu untuk menjaga diriku. Aku pikir, wanita muslimah tidak akan
merasakan cinta kembali. Tapi ternyata, Tuhan Yang Maha Kuasa berkata lain. Aku
dihadirkan lagi dengan sinyal-sinyal cinta. Hatiku digetarkan dengan sinyal
yang menyelinap masuk tanpa permisi. Dia yang baru ku kenal mampu membuatku
kehilangan fokus beberap kali. Dia mendobrak benteng intuisi yang selama ini
aku bangun kuat-kuat. Aku berusaha menyadarkan diri sendiri, takut kalau-kalau
aku terjebak di antara nafsu. Aku takut kalau perasaan ini menguasai diri ini,
sehingga aku tidak mampu berpikir jernih. Well,
satan is smart though.
Dia yang melalui
karismanya, ucapannya serta perilakunya yang manis membuatku jatuh. Meski aku
berusaha menyelamatkan diriku untuk tidak terlalu jatuh padanya, apadaya hati
ini sudah tidak mampu menopang rasionalitas. Aku semakin jatuh. Kami semakin
hari semakin dekat satu sama lain. Bagiku berteman dengan dia serasa memiliki
kisah-kisah baru yang selama ini belum pernah ku temukan, terutama pada jati
diri lelaki. Terkadang aku menatapnya takjub karena perilak manisnya terhadap
wanita. Terkadang hati ini berdesir tak menentu ketika ia berada di sampingku.
Padahal, semua itu hanyalah kebahagiaan sebelah mata.
Aku lebih mendekatkan
diriku kepada Yang Maha Mendengar. Aku memohon kepada-Nya untuk menjagaku.
Membendung perasaanku supaya tidak keterlaluan, menjagaku melalui cara-Nya yang
tak pernah ku tahu. Hingga suatu hari aku menyadari bahwa sebenarnya, hanya aku
yang memiliki perasaan ini. Tidak juga dia. Dia telah menjatuhkan hatinya
kepada orang lain. Tuhan, Kau sungguh baik padaku. Terimakasih, sudah
menjagaku.
Berpisah dengan dia, aku
menjadi semakin rajin untuk belajar. Belajar memahami diri sendiri dan belajar
memperlakukan orang lain semampuku dan tidak keluar dari batas seharusnya. Aku
juga lebih sering menghabiskan waktu dengan tugas-tugas serta berkutat dengan
Al Qur’an. Setidaknya aku
membentengi diriku dengan hal-hal yang positif. Sebenernya biar cepet move on sih.. hehehe..
Bimsalabim abracadabra.
Meski jarak menjauhkan aku dan dia. Kami masih sering bersua, menjalin hubungan
sebagai teman melalui media sosial. Kami masih bertegur sapa, satu dua kali
kami bercanda. Tuhan memang Maha Asyik. Sudah hampir tiga tahun kami
berkenalan, kini ia menganggapku sebagai sahabat yang selalu mendengarkan
kisahnya. Apapun kisah itu, bagaimanapun kisah itu juga dia menjadikanku tempat
yang nyaman untuk berbagi. Terkadang aku marah dengan tingkahnya, terkadang aku
juga menyukai caranya dan aku masih di sini mensupport dia, no matter what. Karena kami adalah teman
yang baik. Apa kabar perasaan yang dulu? Ah sudahlah… aku sudah membuang
jauh-jauh rasa itu. Aku telah berdamai. Karena Tuhan memang Maha Adil.
Kedekatan kami membuat aku sadar bahwa dia, bukanlah laki-laki yang ku cari
selama ini. Not him, but someone else.
And who is he? I don’t know. Leave it to Allah Swt.

Comments
Post a Comment