Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

AKU #7 TENTANG CINTA


Assalamualaikum pembacaku tersayang JJ

            Setelah beberapa hari menulis akhirnya aku rindu menulis kembali hehe. Kali ini aku mau mengekpresikan diriku melalui tulisan ini mengenai cinta. Siapa yang tidak mengenal cinta. Rahmat terindah yang Tuhan ciptakan untuk seluruh umat-Nya. Bagi Yang Maha Membolak-balikkan hati, Dia lah yang menciptakan perasaan yang dahsyat ini tiada tara. Ciptaan yang begitu dahsyat hingga membutakan penyewanya. Entah dari yang berbunga-bunga lalu hatinya tersakiti. Entah dari yang galau karena putus cinta lalu bisa menemukan pengganti yang lebih baik. Well, we don’t know exactly. Cinta.

            Aku pernah menjalin hubungan dengan orang lain dahulu. Semua itu aku lakukan karena rasa penasaran. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya menjalin hubungan. Maklumlah waktu itu masih cinta monyet, haha.. Tapi, anehnya di setiap hubungan yang aku jalani. Aku merasakan dampak baik dan buruknya dari menjalin hubungan. Dan entah mengapa, aku selalu mendengar bisikan yang menggelegarkan hati serta pikirku. Bisikkan itu membuat aku ragu pada diriku sendiri dan aku mulai menanyakan untuk apa aku menjalin hubungan ini. Aku kadang heran dengan laki-laki yang selalu mengejarku. Mereka mendekatiku menawarkan kisah yang manis dengan bualan-bualan yang sungguh seperti diskon di mall. Murah. Yash!

            Gimana gak murah, masih smp udah nebar janji membuat hidupku bahagia. LOL. Kalau dipikir-pikir sekarang, lucu juga ya masa lalu itu. Pada akhirnya meskipun aku kukuh dengan pendirianku untuk berkata tidak, ternyata janji yang diobral semakin murah. Heran aku kepadanya. Kok bisa ya?

            Detik demi detik berlalu, menit dan jam pun tak sanggup meninggalkan detik sendiri berlalu. Aku mulai menyadari bahwa ada yang berbeda dari tubuhku. Sebagai seorang wanita, apalagi sudah menyentuh pubertas. Aku mulai merasa malu berada di kerumunan lawan jenis. Terkadang, tatapan mereka membuatku tidak nyaman. Aku pun resah. Takut. Entah bisikan dari mana, akhirnya aku memutuskan untuk menutup diriku sendiri.

            Setelah beberapa tahun belajar istiqomah berhijab. Ku kira aku akan dijauhkan dari perasaan cinta. Aku pikir, aku mampu untuk menjaga diriku. Aku pikir, wanita muslimah tidak akan merasakan cinta kembali. Tapi ternyata, Tuhan Yang Maha Kuasa berkata lain. Aku dihadirkan lagi dengan sinyal-sinyal cinta. Hatiku digetarkan dengan sinyal yang menyelinap masuk tanpa permisi. Dia yang baru ku kenal mampu membuatku kehilangan fokus beberap kali. Dia mendobrak benteng intuisi yang selama ini aku bangun kuat-kuat. Aku berusaha menyadarkan diri sendiri, takut kalau-kalau aku terjebak di antara nafsu. Aku takut kalau perasaan ini menguasai diri ini, sehingga aku tidak mampu berpikir jernih. Well, satan is smart though.

            Dia yang melalui karismanya, ucapannya serta perilakunya yang manis membuatku jatuh. Meski aku berusaha menyelamatkan diriku untuk tidak terlalu jatuh padanya, apadaya hati ini sudah tidak mampu menopang rasionalitas. Aku semakin jatuh. Kami semakin hari semakin dekat satu sama lain. Bagiku berteman dengan dia serasa memiliki kisah-kisah baru yang selama ini belum pernah ku temukan, terutama pada jati diri lelaki. Terkadang aku menatapnya takjub karena perilak manisnya terhadap wanita. Terkadang hati ini berdesir tak menentu ketika ia berada di sampingku. Padahal, semua itu hanyalah kebahagiaan sebelah mata.

           Aku lebih mendekatkan diriku kepada Yang Maha Mendengar. Aku memohon kepada-Nya untuk menjagaku. Membendung perasaanku supaya tidak keterlaluan, menjagaku melalui cara-Nya yang tak pernah ku tahu. Hingga suatu hari aku menyadari bahwa sebenarnya, hanya aku yang memiliki perasaan ini. Tidak juga dia. Dia telah menjatuhkan hatinya kepada orang lain. Tuhan, Kau sungguh baik padaku. Terimakasih, sudah menjagaku.

            Berpisah dengan dia, aku menjadi semakin rajin untuk belajar. Belajar memahami diri sendiri dan belajar memperlakukan orang lain semampuku dan tidak keluar dari batas seharusnya. Aku juga lebih sering menghabiskan waktu dengan tugas-tugas serta berkutat dengan Al Qur’an. Setidaknya aku membentengi diriku dengan hal-hal yang positif. Sebenernya biar cepet move on  sih.. hehehe..

            Bimsalabim abracadabra. Meski jarak menjauhkan aku dan dia. Kami masih sering bersua, menjalin hubungan sebagai teman melalui media sosial. Kami masih bertegur sapa, satu dua kali kami bercanda. Tuhan memang Maha Asyik. Sudah hampir tiga tahun kami berkenalan, kini ia menganggapku sebagai sahabat yang selalu mendengarkan kisahnya. Apapun kisah itu, bagaimanapun kisah itu juga dia menjadikanku tempat yang nyaman untuk berbagi. Terkadang aku marah dengan tingkahnya, terkadang aku juga menyukai caranya dan aku masih di sini mensupport dia, no matter what. Karena kami adalah teman yang baik. Apa kabar perasaan yang dulu? Ah sudahlah… aku sudah membuang jauh-jauh rasa itu. Aku telah berdamai. Karena Tuhan memang Maha Adil. Kedekatan kami membuat aku sadar bahwa dia, bukanlah laki-laki yang ku cari selama ini. Not him, but someone else. And who is he? I don’t know. Leave it to Allah Swt.

Comments