Thursday, August 16, 2018
Dear My Readers,
assalamualaikum
teman-teman kuu!!! Setelah sekian lama akhirnya aku balik dengan konten AKU #6. Jadi, tema
opini kali ini adalah hijab. Mengapa aku berhijab?
Truthfully, I
wanna tell my story in English. But, I change my mind. So, aku menulis dalam bahasa Indonesia saja. J Cerita ini dimulai ketika lingkunganku
mempertanyakan aku tentang kain yang menutup kepalaku. Kejadian ini terjadi dua
tahun silam ketika aku melaksanakan kegiatan di Jerman. Aku sering berdiskusi bersama
roommate ku, salah satunya mengenai Islam. Beberapa temanku yang lain juga
terkadang menanyakan hal yang sama. Mengapa kamu mengenakan hijab?
For the first
time in my life, aku tidak tahu
harus menjawab apa. Aku pikir di Indonesia ini bukan pertanyaan yang sering
ditanya oleh orang lain. Justru kalau ada teman kita yang mengenakan hijab, kita
malah menyoraki dia. Atau... mempertanyakan kewarasan dia.
“Waduhh
kesambet apaan nih?”
“Eh, lo gapapa?”
“Ceilehh udah tobat lo?”
“Annjirrr pake kerudung sekarang”
Jangankan teman, keluarga
pun jarang yang menanyakan hal serupa. Karena bagi mereka, alasan di balik
perubahan kita itu tidak begitu penting. Justru perubahan kita yang akan
dibicarakan.
Sejak itu, aku bertanya
kepada diriku sendiri.
“Iya ya, kenapa juga aku berhijab?”
Waktu melangkah mundur, aku mengingat seluruh masa laluku
yang suram. Aku ingat bahwa aku mengenakan hijab semata-mata ingin melindungi
diriku sendiri. Aku tidak ingin masa laluku terulang kembali, biarkan masa lalu
menjadi pelajaran untuk masa depanku. Akhirnya, setelah berpikir cukup lama aku
mampu memberikan jawaban yang sekiranya mereka mengerti.
“Aku berhijab karena hijab ini mampu melindungiku dari
lelaki. Karena di negaraku banyak sekali kejahatan seksual. Oleh sebab itu, aku
berlindung di balik hijab ini.”
---
Seperti angin yan terus berhembus, waktupun terus
berputar tanpa jeda. Hari demi hari berlalu menawarkan cerita baru. Pemikiranku
semakin liar. Tiga minggu di Jerman ternyata menyisakan kesedihan pada diriku sendiri.
Tanpa ada kehadiran keluarga, aku bisa merasakan bahwa Tuhan itu benar-benar
ada. Tiga minggu di sana, aku belajar bahwa hidup sebagai muslim minoritas
memang melelahkan tapi sungguh membuatku candu. Hanya aku dan Allah Swt. Itulah
kesimpulanku sepulang dari Jerman. Hidupku, tidak lebih antara aku dan Dia.
Tiba-tiba aku ingat ketika teman sekamarku bertanya..
“Mengapa tidak semua muslimah berhijab? Seperti si A dan
B, mereka muslim tapi mengapa tidak berhijab?”
Ketika teman sekamarku bertanya pertanyaan di atas, aku
benar-benar gelagapan. Aku tidak tahu harus menjawab seperti apa. Tapi, aku tak
mau menyerah di balik kata “I don’t know”. Aku berpikir sejenak, ku tarik
nafasku. Aku mulai menjawabnya dengan hati-hati.
“Aku tidak tahu, mengapa ia tidak berhijab meski dia
muslim. Tapi, sebagai seorang muslim. Hijab adalah sebuah kewajiban untuk
dikenakan. Tentang dia yang tidak berhijab, aku tidak tahu.”
Aku dan dirinya terdiam. Dia mencoba menerima jawabanku
dan menganggukkan kepalanya. Sedangkan aku memikirkan jawabanku barusan. Apakah
sudah benar? Aku tersadar, ternyata aku belum cukup belajar tentang agamaku
sendiri. Inilah yang membuatku lebih bersemangat untuk belajar lebih dalam
tentang Islam.
Alhamdulillah dengan bantuan Allah Swt, aku mampu belajar
lebih dalam melalui Al Quran, buku-buku bacaan, guru-guru di sekolah dan
ceramah yang biasanya aku dengarkan. Penggunaan sosial media terutama Youtube
juga membantuku mengetahui ilmu-ilmu yang selama ini tidak ku ketahui. Meski
terkadang ada harap-harap cemas, takut ada penyelipan ideologi Islam garis
keras. Tapi, aku percaya kepada Allah Swt. Kalau kita memiliki niat yang baik,
insha allah Allah Swt akan menunjukkan dengan cara yang baik juga.
Aku menemukan banyak sekali ilmu, meski sampai sekarang
aku masih harus belajar lagi dan lagi. Karena aku juga masih fakir ilmu hehehe.
Lalu, seiring berjalannya waktu aku bertemu dengan pemikiran temanku, sebut
saja Merpati. Ia wanita, ia muslim dan ia berhijab. Aku bahkan masih belum bisa
melupakan, pendapat dia mengenai menggunakan hijab.
“Hijab itu pilihan. Hijab
is an option.”
Aku terkaget. Aku bertukar pandang dengan sahabatku yang
duduk di depanku. Sedetik kemudian kami tersenyum. Ku amati reaksi teman-temanku yang lain. Nothing. Mereka hanya mengangguk-angguk
entah mengiyakan atau menolak halus dalam hati. Kalau aku tentu menentangnya.
Sayangnya, aku tidak menentangnya secara langsung. Karena keadaan kami yang
sedang makan malam bersama teman-teman organisasi membuatku tidak nyaman
membicarakan hal yang serius. Itulah alasan aku perlu menulis di sini. J Aku harus
meluruskan.
Hijab bukan opsi. Mengapa? Karena hijab adalah
identitas. Bahkan, dalam Al Quran sudah dijelaskan bahwa hijab digunakan supaya
kita dikenali, bahwa kita muslim. Apakah mengenakan hijab menunggu datangnya
hidayah? Tidak. Meskipun kamu orang jahat, orang baik, kaya, miskin, baik atau
buruk, sebagai muslimah kita wajib berhijab. Bukan semata-mata karena mau
mengenakannya atau tidak, bukan semata-mata hidayah belum datang atau tidak.
Tapi, karena itu diwajibkan. Selain itu, adanya hijab melindungi diri kita
sendiri. Karena kita dikenali oleh orang lain sebagai muslim, mereka akan lebih
menghargai kita sebagai muslim. Mereka akan lebih berhati-hati dalam bertindak.
Jadinya, kita terlindungi. Secara tidak langsung, itu yang aku rasakan hingga
saat ini.
Kalau hijab adalah opsi. Apakah melindungi diri sendiri
termasuk opsi? Bukankah sudah kewajiban kita untuk melidungi diri sendiri?
“Hijab
is not an option. Like Christian, they wear crucifix, Jewish wear tichel and
Muslim wear hijab.”
Hope
this opinion help you.
With
warm love,
Niar,2018.

Comments
Post a Comment