Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

AKU #6 MENGAPA AKU BERHIJAB?


Thursday, August 16, 2018
Dear My Readers,
assalamualaikum teman-teman kuu!!! Setelah sekian lama akhirnya aku balik dengan konten AKU #6. Jadi, tema opini kali ini adalah hijab. Mengapa aku berhijab?

            Truthfully, I wanna tell my story in English. But, I change my mind. So, aku menulis dalam bahasa Indonesia saja. J Cerita ini dimulai ketika lingkunganku mempertanyakan aku tentang kain yang menutup kepalaku. Kejadian ini terjadi dua tahun silam ketika aku melaksanakan kegiatan di Jerman. Aku sering berdiskusi bersama roommate ku, salah satunya mengenai Islam. Beberapa temanku yang lain juga terkadang menanyakan hal yang sama. Mengapa kamu mengenakan hijab?

            For the first time in my life, aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku pikir di Indonesia ini bukan pertanyaan yang sering ditanya oleh orang lain. Justru kalau ada teman kita yang mengenakan hijab, kita malah menyoraki dia. Atau... mempertanyakan kewarasan dia.

Waduhh kesambet apaan nih?”

“Eh, lo gapapa?”

“Ceilehh udah tobat lo?”

“Annjirrr pake kerudung sekarang”

            Jangankan teman, keluarga pun jarang yang menanyakan hal serupa. Karena bagi mereka, alasan di balik perubahan kita itu tidak begitu penting. Justru perubahan kita yang akan dibicarakan.

            Sejak itu, aku bertanya kepada diriku sendiri.

“Iya ya, kenapa juga aku berhijab?”

Waktu melangkah mundur, aku mengingat seluruh masa laluku yang suram. Aku ingat bahwa aku mengenakan hijab semata-mata ingin melindungi diriku sendiri. Aku tidak ingin masa laluku terulang kembali, biarkan masa lalu menjadi pelajaran untuk masa depanku. Akhirnya, setelah berpikir cukup lama aku mampu memberikan jawaban yang sekiranya mereka mengerti.

“Aku berhijab karena hijab ini mampu melindungiku dari lelaki. Karena di negaraku banyak sekali kejahatan seksual. Oleh sebab itu, aku berlindung di balik hijab ini.”

---

Seperti angin yan terus berhembus, waktupun terus berputar tanpa jeda. Hari demi hari berlalu menawarkan cerita baru. Pemikiranku semakin liar. Tiga minggu di Jerman ternyata menyisakan kesedihan pada diriku sendiri. Tanpa ada kehadiran keluarga, aku bisa merasakan bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Tiga minggu di sana, aku belajar bahwa hidup sebagai muslim minoritas memang melelahkan tapi sungguh membuatku candu. Hanya aku dan Allah Swt. Itulah kesimpulanku sepulang dari Jerman. Hidupku, tidak lebih antara aku dan Dia. Tiba-tiba aku ingat ketika teman sekamarku bertanya..

“Mengapa tidak semua muslimah berhijab? Seperti si A dan B, mereka muslim tapi mengapa tidak berhijab?”

Ketika teman sekamarku bertanya pertanyaan di atas, aku benar-benar gelagapan. Aku tidak tahu harus menjawab seperti apa. Tapi, aku tak mau menyerah di balik kata “I don’t know”. Aku berpikir sejenak, ku tarik nafasku. Aku mulai menjawabnya dengan hati-hati.

“Aku tidak tahu, mengapa ia tidak berhijab meski dia muslim. Tapi, sebagai seorang muslim. Hijab adalah sebuah kewajiban untuk dikenakan. Tentang dia yang tidak berhijab, aku tidak tahu.”

Aku dan dirinya terdiam. Dia mencoba menerima jawabanku dan menganggukkan kepalanya. Sedangkan aku memikirkan jawabanku barusan. Apakah sudah benar? Aku tersadar, ternyata aku belum cukup belajar tentang agamaku sendiri. Inilah yang membuatku lebih bersemangat untuk belajar lebih dalam tentang Islam.

Alhamdulillah dengan bantuan Allah Swt, aku mampu belajar lebih dalam melalui Al Quran, buku-buku bacaan, guru-guru di sekolah dan ceramah yang biasanya aku dengarkan. Penggunaan sosial media terutama Youtube juga membantuku mengetahui ilmu-ilmu yang selama ini tidak ku ketahui. Meski terkadang ada harap-harap cemas, takut ada penyelipan ideologi Islam garis keras. Tapi, aku percaya kepada Allah Swt. Kalau kita memiliki niat yang baik, insha allah Allah Swt akan menunjukkan dengan cara yang baik juga.

Aku menemukan banyak sekali ilmu, meski sampai sekarang aku masih harus belajar lagi dan lagi. Karena aku juga masih fakir ilmu hehehe. Lalu, seiring berjalannya waktu aku bertemu dengan pemikiran temanku, sebut saja Merpati. Ia wanita, ia muslim dan ia berhijab. Aku bahkan masih belum bisa melupakan, pendapat dia mengenai menggunakan hijab.

“Hijab itu pilihan. Hijab is an option.”

Aku terkaget. Aku bertukar pandang dengan sahabatku yang duduk di depanku. Sedetik kemudian kami tersenyum. Ku  amati reaksi teman-temanku yang lain. Nothing. Mereka hanya mengangguk-angguk entah mengiyakan atau menolak halus dalam hati. Kalau aku tentu menentangnya. Sayangnya, aku tidak menentangnya secara langsung. Karena keadaan kami yang sedang makan malam bersama teman-teman organisasi membuatku tidak nyaman membicarakan hal yang serius. Itulah alasan aku perlu menulis di sini. J Aku harus meluruskan.

Hijab bukan opsi. Mengapa? Karena hijab adalah identitas. Bahkan, dalam Al Quran sudah dijelaskan bahwa hijab digunakan supaya kita dikenali, bahwa kita muslim. Apakah mengenakan hijab menunggu datangnya hidayah? Tidak. Meskipun kamu orang jahat, orang baik, kaya, miskin, baik atau buruk, sebagai muslimah kita wajib berhijab. Bukan semata-mata karena mau mengenakannya atau tidak, bukan semata-mata hidayah belum datang atau tidak. Tapi, karena itu diwajibkan. Selain itu, adanya hijab melindungi diri kita sendiri. Karena kita dikenali oleh orang lain sebagai muslim, mereka akan lebih menghargai kita sebagai muslim. Mereka akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Jadinya, kita terlindungi. Secara tidak langsung, itu yang aku rasakan hingga saat ini.

Kalau hijab adalah opsi. Apakah melindungi diri sendiri termasuk opsi? Bukankah sudah kewajiban kita untuk melidungi diri sendiri?

“Hijab is not an option. Like Christian, they wear crucifix, Jewish wear tichel and Muslim wear hijab.”

Hope this opinion help you.

With warm love,
Niar,2018.

Comments