Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

Eksistensimu Salah Satunya Untukku



Siang itu aku dengan sahabatku, Diandra sedang menghabiskan waktu bersama di sela-sela kesibukan mengerjakan skripsi. Kami pergi ke sebuah cafe di daerah Oro-Oro Dowo. Seperti biasa kami selalu berbagi cerita-cerita yang menggelitik hati atau yang membuat hati tersakiti. Hari itu Diandra mengawali dengan bertanya, “Gimana kabarmu hari ini?”

            Diandra. Perempuan satu ini seperti kejutan yang turun dari langit. Mungkin dia hanya satu dari sekian manusia yang terlahir di dunia ini untuk menjadi saksi bisu perjalanan hidupku selama ini. Aneh, tapi nyata. Diandra yang ku kenal dari bangku SMA ini sosoknya masih sering bikin aku geleng-geleng antara gak nyangka ada orang seperti dia yang eksis dengan segala kelebihannya dan gak nyangka ada manusia yang kehilatannya kayak anak SMP tapi pemikirannya udah kayak dosen. Udah gak paham lagi dah.

            “Alhamdulillah baik-baik aja. Kamu gimana?”

            “Sehatt jugaa. Gak ada yang mau diceritain?”

            “Gak ada sih, cuma aku ingin bilang sebelum terlambat.”

            “Apaan terlambat-terlambat, mau kemana emang?”

            “Ya, siapa tahu Malaikat Izrail ada di sebelah aku kan. Terus aku belum sempat ngomong ini, tiba-tiba dicabut aja nyawaku.”

            “Hus! Omongan jangan gitu dong!”

            “Hey, we never know when we will die...!

            “Ya udah mau bilang apa?”

            “Aku gak ngerti mulainya yang baik tuh bagaimana, tapi aku seneng bisa bertemu dengan sosok kayak kamu. Aku gak nyangka kamu bisa mengerti segala keluh kesahku, mengerti bagaimana posisiku, bagaimana susahnya hidupku dan masih banyak lagi. Aku merasa hidup, ketika hal-hal kecil yang kamu lakukan buat aku. Aku gak tahu harus berterimakasih dengan cara apa.”

            Diandra diam sejenak sambil mengaduk-aduk esnya. Dia menatapku...

            “Aku gak tahu, kalau eksistensiku bisa membuat kamu seperti ini.”

            “Kamu mungkin tidak menyadari bahwa kamu berguna bagi orang lain, karena kamu mungkin merasa tidak melakukan apa-apa. Tapi, aku sekarang tahu ternyata tidak semua orang ditakdirkan berdiri dipihakku setiap hari, setiap detiknya. Bahkan keluarga dan sahabatku sendiri tidak selalu ada dan bisa mengertiku. Mungkin memang kamu adalah salah satu jawaban Tuhan dari sekian banyak pertanyaan yang ku layangkan selama ini. Satu-satunya yang bisa mengerti dan membuatku yakin untuk hidup lebih lama lagi, setidaknya sampai besok.”

            “....”

            “....”

            Hening.

            “Btw, ini bukan berarti aku suka kamu terus aku bagian dari lesbian gitu..”

            “WAHAHAHAHAHAHA! Apaaan sih!!! Aku juga ogah lagi!”

            “Habisnya wajahmu serius banget, kayak lagi mendengarkan pernyataan cinta gitu.”

            “Apaan sih! Wkwkwk”

            “Tapi, aku serius loh, Di. Sebagai temanmu aku bersyukur bisa bertemu kamu dengan segala kekuranganmu dan kekuranganku. Terima kasih sudah hidup di dunia ini.”

            “Pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus kabarin aku ya!”

            “Iya, kamu juga.”

            “Oh iya, kamu tau gak, Di. Tiap kali kamu WA aku nanyain kabarku, aku tuh seneng dan merasa aku hidup. Aku seperti bernyawa karena ternyata aku gak sendiri. Ada orang yang peduli dengan aku dan mau mendengarkanku gratis.”

            Diandra hanya tersenyum sambil makan esnya.

            “Oh iya ngomongin buku, aku senang kamu bisa nerbitin buku. Gila hebat banget sih..”

            “Padahal aku terinspirasi dari kamu loh! Kan kamu seniorku di bidang literasi.”

            “Tapi, aku gak ada tuh niatan buat menerbitkan buku. Karena ya aku hanya melakukannya sebagai hobi aja gak lebih. Aku tuh kalau ngeliat kamu kayak, wahh gila. Dari ide sampai tindakan bisa sinkron gitu. Wkwkwk..”

            “Wkwkwk... Alhamdulillah kalau kamu ngeliat dari sisi itu, karena aku tidak merasa seperti itu.”

            “Oh ya?”

            Hari itu pun terus berlanjut dan semakin banyak cerita yang kami bagikan. Aku pun merasakan bahwa ternyata, “Kepedulian lahir dari kesadaran bukan pemberitahuan.” Seberapa sering kita menceritakan keresahan kita kepada orang lain, apabila mereka memang tetap bertindak sama saja (tidak seperti yang kita harapkan), mungkin memang mereka tidak ditakdirkan untuk menjadi pendengar atau dokter yang mengobati luka kita.

            Kehidupan memang terkadang tidak bisa ditebak. Tidak ada yang tahu kalau pertemuan di bandara hari itu, membawa kami menjadi seperti hari ini. Bagiku, Diandra mengisi hampir semua balok kehidupanku. Kalau ada ungkapan yang lebih baik dari terima kasih, mungkin aku akan menungkapkannya setiap hari. Terima kasih Diandra hanya ini hadiah yang bisa kuberikan untukmu. 

Comments

Post a Comment