Siang itu aku dengan sahabatku, Diandra sedang menghabiskan waktu bersama
di sela-sela kesibukan mengerjakan skripsi. Kami pergi ke sebuah cafe di daerah
Oro-Oro Dowo. Seperti biasa kami selalu berbagi cerita-cerita yang menggelitik
hati atau yang membuat hati tersakiti. Hari itu Diandra mengawali dengan
bertanya, “Gimana kabarmu hari ini?”
Diandra. Perempuan satu
ini seperti kejutan yang turun dari langit. Mungkin dia hanya satu dari sekian
manusia yang terlahir di dunia ini untuk menjadi saksi bisu perjalanan hidupku
selama ini. Aneh, tapi nyata. Diandra yang ku kenal dari bangku SMA ini
sosoknya masih sering bikin aku geleng-geleng antara gak nyangka ada orang
seperti dia yang eksis dengan segala kelebihannya dan gak nyangka ada manusia
yang kehilatannya kayak anak SMP tapi pemikirannya udah kayak dosen. Udah gak
paham lagi dah.
“Alhamdulillah baik-baik
aja. Kamu gimana?”
“Sehatt jugaa. Gak ada
yang mau diceritain?”
“Gak ada sih, cuma aku
ingin bilang sebelum terlambat.”
“Apaan
terlambat-terlambat, mau kemana emang?”
“Ya, siapa tahu Malaikat
Izrail ada di sebelah aku kan. Terus aku belum sempat ngomong ini, tiba-tiba dicabut
aja nyawaku.”
“Hus! Omongan jangan gitu
dong!”
“Hey, we never know when we will die...!”
“Ya udah mau bilang apa?”
“Aku gak ngerti mulainya
yang baik tuh bagaimana, tapi aku seneng bisa bertemu dengan sosok kayak kamu. Aku
gak nyangka kamu bisa mengerti segala keluh kesahku, mengerti bagaimana
posisiku, bagaimana susahnya hidupku dan masih banyak lagi. Aku merasa hidup,
ketika hal-hal kecil yang kamu lakukan buat aku. Aku gak tahu harus
berterimakasih dengan cara apa.”
Diandra diam sejenak
sambil mengaduk-aduk esnya. Dia menatapku...
“Aku gak tahu, kalau
eksistensiku bisa membuat kamu seperti ini.”
“Kamu mungkin tidak
menyadari bahwa kamu berguna bagi orang lain, karena kamu mungkin merasa tidak
melakukan apa-apa. Tapi, aku sekarang tahu ternyata tidak semua orang
ditakdirkan berdiri dipihakku setiap hari, setiap detiknya. Bahkan keluarga dan
sahabatku sendiri tidak selalu ada dan bisa mengertiku. Mungkin memang kamu
adalah salah satu jawaban Tuhan dari sekian banyak pertanyaan yang ku layangkan
selama ini. Satu-satunya yang bisa mengerti dan membuatku yakin untuk hidup
lebih lama lagi, setidaknya sampai besok.”
“....”
“....”
Hening.
“Btw, ini bukan berarti aku suka kamu terus aku bagian dari lesbian gitu..”
“WAHAHAHAHAHAHA! Apaaan sih!!!
Aku juga ogah lagi!”
“Habisnya wajahmu serius
banget, kayak lagi mendengarkan pernyataan cinta gitu.”
“Apaan sih! Wkwkwk”
“Tapi, aku serius loh, Di.
Sebagai temanmu aku bersyukur bisa bertemu kamu dengan segala kekuranganmu dan
kekuranganku. Terima kasih sudah hidup di dunia ini.”
“Pokoknya kalau ada
apa-apa kamu harus kabarin aku ya!”
“Iya, kamu juga.”
“Oh iya, kamu tau gak, Di.
Tiap kali kamu WA aku nanyain kabarku, aku tuh seneng dan merasa aku hidup. Aku
seperti bernyawa karena ternyata aku gak sendiri. Ada orang yang peduli dengan
aku dan mau mendengarkanku gratis.”
Diandra hanya tersenyum
sambil makan esnya.
“Oh iya ngomongin buku,
aku senang kamu bisa nerbitin buku. Gila hebat banget sih..”
“Padahal aku terinspirasi
dari kamu loh! Kan kamu seniorku di bidang literasi.”
“Tapi, aku gak ada tuh
niatan buat menerbitkan buku. Karena ya aku hanya melakukannya sebagai hobi aja
gak lebih. Aku tuh kalau ngeliat kamu kayak, wahh gila. Dari ide sampai
tindakan bisa sinkron gitu. Wkwkwk..”
“Wkwkwk... Alhamdulillah
kalau kamu ngeliat dari sisi itu, karena aku tidak merasa seperti itu.”
“Oh ya?”
Hari itu pun terus
berlanjut dan semakin banyak cerita yang kami bagikan. Aku pun merasakan bahwa
ternyata, “Kepedulian lahir dari
kesadaran bukan pemberitahuan.” Seberapa sering kita menceritakan keresahan
kita kepada orang lain, apabila mereka memang tetap bertindak sama saja (tidak
seperti yang kita harapkan), mungkin memang mereka tidak ditakdirkan untuk
menjadi pendengar atau dokter yang mengobati luka kita.
Kehidupan memang terkadang tidak bisa ditebak. Tidak ada yang tahu kalau pertemuan di bandara hari itu, membawa kami menjadi seperti hari ini. Bagiku, Diandra mengisi hampir semua balok kehidupanku. Kalau ada ungkapan yang lebih baik dari terima kasih, mungkin aku akan menungkapkannya setiap hari. Terima kasih Diandra hanya ini hadiah yang bisa kuberikan untukmu.

sampaikan salamku untuk Diandra :)
ReplyDeleteInshaallah
Delete