Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

Tertinggal

 


Apakah aku tertinggal, ketika orang lain sudah terlebih dahulu melangkah satu level lebih tinggi daripada aku? Apakah aku tertinggal, ketika orang lain sudah memiliki posisi yang stabil sedangkan aku belum? Apakah aku tertinggal, ketika umurku dikatai sudah waktunya menikah namun aku belum? Apakah aku tertinggal, ketika semua sudah lulus sedangkan aku belum? Apakah aku tertinggal, ketika orang lain malam minggu dengan kekasih tapi aku malam minggu sendiri di balik pintu kamar? Apakah aku tertinggal, hanya karena aku tidak seproduktif orang lain? Apakah kehidupan sebuah perlombaan?

            Aku tidak tahu mengapa manusia gemar sekali melabeli seluruh hiruk pikuk kehidupan. Sedikit banyaknya membuat banyak orang merasa lelah. Aku juga. Kadang aku merasa tertinggal ketika orang lain bisa lebih dahulu menuntaskan suatu hal. Meskipun aku juga sadar bahwa ini hanya permasalahan waktu. Memang tidak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala saat ini. Tidak jarang kita juga menyalahkan diri sendiri karena ketidakmampuan kita dalam berbagai hal. Mungkin begini rasanya Quarter Life Crisis. I don’t know.

            Ada banyak sekali pikiran yang menghampiri semua manusia. Namun, ada kalanya pikiran itu tidak mampu untuk diutarakan. Entah karena waktu dan tempat tidak tersedia, entah karena yang kita butuhkan belum tersedia, seperti kehadiran orang tertentu. Waktu tidak pernah berlari dan tidak adanya waktu itu hanya sebuah teori. Kita hidup di zaman hiperkoneksi. Semua cepat semua tepat. Semakin maju industri teknologi akan semakin banyak hal-hal yang bisa kita lakukan dalam satu waktu dan tidak jarang orang-orang berlomba-lomba menunjukkan produktivitasnya.

            Sebagai penikmat story mereka, aku tidak jarang merasa rendah diri. Merasa tertinggal, merasa tidak mampu. Aku tidak ada apa-apanya dibanding dirinya. Namun, sebagai orang yang cukup mengerti tentang dunia persosialmediaan dan dunia kehidupan. Aku semakin mengerti bahwa mereka yang banyak melakukan kegiatan dalam satu waktu itu, bisa lebih rentan mengalami burnout.

            Ketika semua orang berlomba-lomba untuk menjadi produktif dengan melakukan banyak hal dalam satu waktu, sejatinya orang-orang itu juga mengorbankan dirinya sendiri untuk tidak sejenak bernafas. Tidak sejenak istirahat menikmati kesendirian. Pernahkah kalian mendengarkan sebuah quote “Kalau bisa melakukan banyak hal? Kenapa tidak?” Ya, memang benar melakukan banyak hal itu baik tapi teman-temanku sekalian apakah kalian rela melupakan setiap momen dalam hidup kalian? Momen yang ringan namun penuh akan makna? Contohnya bernafas. Bahkan bernafas saja kita kadang lupa atau tidak sadar.

            Hidup satu per satu adalah cara hidup lebih mindful. Kita semua mungkin memang sedang dikejar dateline, tapi hiduplah satu per satu. Lebih baik menuntaskan satu hal dengan yakin, baik dan benar daripada menuntaskan banyak hal tapi tidak optimal. Hidup bukanlah perlombaan. Bahkan setelah kita memenangkan perlombaan, kehidupan akan berjalan tetap seperti itu. Tidak berbeda apabila kita kalah dalam perlombaan. Kita tetap hidup, bernafas, melakukan rutinitas. Namun, memang benar perasaannya berbeda. Hidup ini tidak pernah menuntut, tapi (kadang) kita sendiri dan lingkungan kita yang suka menuntut.

            Aku mungkin tertinggal satu langkah di belakang mereka saat ini. Namun, hidupku tidak akan berakhir. Waktuku mungkin berjalan lebih lambat dari orang lain, tapi tidak dengan rezekiku. Kita hanya butuh sabar, ikhlas dan percaya semuanya akan kembali ke tempat masing-masing dan hidup di jalan masing-masing. Aku, kamu, kita tidak tertinggal. Kita sedang berproses dan kita hidup.

Comments