Apakah aku tertinggal,
ketika orang lain sudah terlebih dahulu melangkah satu level lebih tinggi
daripada aku? Apakah aku tertinggal, ketika orang lain sudah memiliki posisi
yang stabil sedangkan aku belum? Apakah aku tertinggal, ketika umurku dikatai
sudah waktunya menikah namun aku belum? Apakah aku tertinggal, ketika semua
sudah lulus sedangkan aku belum? Apakah aku tertinggal, ketika orang lain malam
minggu dengan kekasih tapi aku malam minggu sendiri di balik pintu kamar? Apakah
aku tertinggal, hanya karena aku tidak seproduktif orang lain? Apakah kehidupan
sebuah perlombaan?
Aku tidak tahu mengapa manusia gemar sekali melabeli
seluruh hiruk pikuk kehidupan. Sedikit banyaknya membuat banyak orang merasa
lelah. Aku juga. Kadang aku merasa tertinggal ketika orang lain bisa lebih
dahulu menuntaskan suatu hal. Meskipun aku juga sadar bahwa ini hanya
permasalahan waktu. Memang tidak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan yang
ada di kepala saat ini. Tidak jarang kita juga menyalahkan diri sendiri karena
ketidakmampuan kita dalam berbagai hal. Mungkin begini rasanya Quarter Life
Crisis. I don’t know.
Ada banyak sekali pikiran yang menghampiri semua manusia.
Namun, ada kalanya pikiran itu tidak mampu untuk diutarakan. Entah karena waktu
dan tempat tidak tersedia, entah karena yang kita butuhkan belum tersedia,
seperti kehadiran orang tertentu. Waktu tidak
pernah berlari dan tidak adanya waktu itu hanya sebuah teori. Kita hidup di
zaman hiperkoneksi. Semua cepat semua tepat. Semakin maju industri teknologi
akan semakin banyak hal-hal yang bisa kita lakukan dalam satu waktu dan tidak
jarang orang-orang berlomba-lomba menunjukkan produktivitasnya.
Sebagai penikmat story
mereka, aku tidak jarang merasa rendah diri. Merasa tertinggal, merasa tidak
mampu. Aku tidak ada apa-apanya dibanding dirinya. Namun, sebagai orang yang
cukup mengerti tentang dunia persosialmediaan dan dunia kehidupan. Aku semakin
mengerti bahwa mereka yang banyak melakukan kegiatan dalam satu waktu itu, bisa
lebih rentan mengalami burnout.
Ketika semua orang berlomba-lomba untuk menjadi produktif
dengan melakukan banyak hal dalam satu waktu, sejatinya orang-orang itu juga
mengorbankan dirinya sendiri untuk tidak sejenak bernafas. Tidak sejenak istirahat
menikmati kesendirian. Pernahkah kalian mendengarkan sebuah quote “Kalau bisa melakukan banyak hal? Kenapa tidak?” Ya, memang benar
melakukan banyak hal itu baik tapi teman-temanku sekalian apakah kalian rela
melupakan setiap momen dalam hidup kalian? Momen yang ringan namun penuh akan
makna? Contohnya bernafas. Bahkan bernafas saja kita kadang lupa atau tidak
sadar.
Hidup satu per satu adalah cara hidup lebih mindful. Kita semua mungkin memang
sedang dikejar dateline, tapi
hiduplah satu per satu. Lebih baik menuntaskan satu hal dengan yakin, baik dan
benar daripada menuntaskan banyak hal tapi tidak optimal. Hidup bukanlah perlombaan. Bahkan setelah kita memenangkan
perlombaan, kehidupan akan berjalan tetap seperti itu. Tidak berbeda apabila
kita kalah dalam perlombaan. Kita tetap hidup, bernafas, melakukan rutinitas. Namun,
memang benar perasaannya berbeda. Hidup ini tidak pernah menuntut, tapi (kadang)
kita sendiri dan lingkungan kita yang suka menuntut.
Aku mungkin tertinggal satu langkah di belakang mereka saat ini. Namun,
hidupku tidak akan berakhir. Waktuku mungkin berjalan lebih lambat dari orang
lain, tapi tidak dengan rezekiku. Kita
hanya butuh sabar, ikhlas dan percaya semuanya akan kembali ke tempat
masing-masing dan hidup di jalan masing-masing. Aku, kamu, kita tidak
tertinggal. Kita sedang berproses dan kita hidup.

Comments
Post a Comment