14.24 WIB
Rintik.. dingin.. angin.. sepi.. membalut ramah diri ini. Sunyi dan mendung membalut diri ini. Tenang.. ketenangan... Aku mendengar rintikan itu, sangat renyah di telingaku. Gemuruh yang terbalut mendung bahkan membuat hatiku ikut mendung. Angin yang berlalu tanpa izin, menerpa kesendirian ini. Aku meringis bersama alam - alam yang sedang bersua. Mereka lah teman sepi ku.
Hari berganti hari. Matahari terbit kembali. Sinarnya menyinari dunia ini. Dunia yang semakin kejam. Dunia yang terus berputar bak roda yang kuat, bahkan sekali pun roda itu menabrak batu yang runcing, dengan ketidak sempurnaanya dunia ini tetap menjadi sempurna. Karena dunia ini memiliki...
Manusia. Mereka yang membuat dunia ini kian sempurna, padahal mereka lupa bahwa dunia juga punya suara. Manusia mempertaruhkan jiwa dan raganya, hanya untuk membuat dunia ini sempurna. Tapi sayang mereka lupa bahwa dunia ini mampu berbicara.
Di sebuah ruang bertembok putih tanpa jendela. Aku menghabiskan waktuku di sana. Tempat ternyaman sekaligus yang paling kubenci yang pernah ku miliki. Tangisku, fikirku, kerapuhanku, tawa ku, imajinasiku, marahku bahkan bahagiaku ada di sana. Di ruang itu. Ruang yang penuh dosa, ruang yang penuh dengan setan, ruang yang bermagnet... yang tak mau menjauh dari ku. Rumah di dalam rumah. Mungkin begitu aku menceritakannya.
Duniaku sungguh lah kejam, hidupku teramat sengsara karena semua ulah ku. Aku yang membuatnya begitu. Semua karena aku, aku yang menciptakannya. Aku yang membuuatnya. Aku lah yang tinggal di dalamnya. Aku lah manusia itu.
Kini usiaku belum genap 19 tahun. Tapi perasaan menyesal ku semakin banyak, hatiku semakin rapuh dan mimpiku terasa semakin menjauh. Hari - hari ku semakin kelabu. Harus bagaimanakah aku?
Aku pernah menyerah dalam perjalanku dua tahun yang lalu. Tapi, Tuhan menyayangiku. Ia membiarkan aku terus melangkah hingga saat ini. Satu tahun kemudian, aku bersyukur. Aku menemukan 'sesuatu' di balik putus asa itu. Aku menjadi semangat untuk hidup kembali. Lebih baik lagi dari sebelumnya. Meski aku... sedang tidak baik - baik saja.
Kini aku semakin jauh berjalan, hidupku semakin hari semakin runyam. Diri ini semakin sering mengajakku bergulat. Aku sudah menghabiskan banyak hari mendungku, bahkan hujan ikut turun membasahinya. Awal tahun yang berat. Namun, aku masih percaya pada rencana Tuhan. Meski rasanya, perasaan ini mulai menyelimutiku kembali. Membawaku kembali merasakan perasaan dua tahun yang lalu.
Tuhan... aku tahu Kau mengetahui semua hidupku. Bahkan bagaimana matiku nanti, Kau sudah menakdirkannya. Tapi, Tuhan. Bolehkan aku jujur pada-Mu? Maaf kan aku Ya Tuhan. Aku ingin menyerah lagi. Aku tidak tahu lagi. Separuh hatiku ingin menyerah. Tapi, aku merasakan ada angin dahsyat yang menerpaku. Membuatku berhenti, lalu aku teringat bahwa aku masih tetap harus bersyukur kepada Mu.
Tuhan... apakah Engkau masih mencintaiku? Aku ini hamba-Mu yang paling buruk. Aku manusia penuh dosa. Masa kecilku tak seindah teman - teman lainnya. Masa kecilku sangat memalukan. Bahkan kejadian itu terulang ketika aku di bangku SMP. Sangat menjijikkan. Bahkan aku masih mengingat detail kejadian itu. Tuhan, mereka.. menghantuiku. Masa laluku, kenanganku menghantuiku. Kalau Kau benar mencintaiku... bisa kah Kau tunjukkan kepadaku.. makna dari hidupku selama ini?
Tuhan... aku tahu Kau baik. Aku tahu Kau menyayangiku. Boleh aku meminta pada-Mu? Tolong jaga kedua orang tua ku, kakak ku dan sahabat - sahabat ku. Aku memang tidak melakukan banyak hal untuk mereka. Namun, aku hanya ingin merka bahagia. Tolong biarkan aku yang pergi dahulu, jangan mereka. Orang lain masih membutuhkan mereka daripada aku. Tolong jaga mereka.
Comments
Post a Comment