Detik demi detik, hari
demi hari akan berlalu seperti bumi yang terus berputar. Tanpa sedetik pun
menoleh, detik, hari dan bumi masih terus berjalan. Menciptakan dan
meninggalkan, hadirlah kenangan dan penyesalan. Hidup ini memang penuh misteri.
Banyak rahasia yang menutup diri dan enggan membuka diri. Seperti aku yang
hidup penuh dengan resah dalam sanubari.
Cinta.
Aku tidak pernah mengerti,
mengapa manusia sangat suka mencinta. Mengapa cinta itu diperlukan? Dan untuk
apa cinta diciptakan?
Aku adalah manusia yang
tidak percaya akan cinta. Hidupku penuh dengan goresan tinta hitam tanpa cacat
sedikit pun. Masa kecilku tak ada yang tersisa, selain genangan warna hitam. Lalu,
sampai kapan aku menorehkan tinta hitam ini?
Aku muak dengan cinta.
Aku muak dengan lelaki.
Aku tidak bisa mempercayai
semua orang di dunia ini.
Aku lebih baik hidup
sendiri, jauh di sana menepi dari kerumunan dunia. Aku hanya ingin hidup S E N
D I R I.
Tapi, aku lelah. Aku terpojok
di siku-siku kehidupan yang tak pernah memberikanku kesempatan. Tak pernah
mengizinkanku keluar, mereka terus menghimpit sampai aku terjatuh. Sampai nafasku
menipis, jantungku bergejolak dan pikirku meledak. Air mata tak enggan menemani
hari-hari ku. Pikirku berkata...
“Kau tak pantas hidup di
dunia. Kau hanyalah sampah. Akhiri hidup ini, segera!”
Aku terisak..
“Sudah lama kau hidup. Kau
tak akan mampu hidup, tak ada yang mencintaimu. Tak ada yang peduli terhadapmu,
karena kau hanya sampah. Kau rusuh! Kau bodoh! Kau jahat! Kau bukan orang yang
pantas menginjakkan kaki di bumi ini. Kau hanya menambah beban hidup keluarga
dan temanmu. Matilah. Matilahh. Dunia ini keras dan melelahkan.”
Dalam kesunyian, aku
berperang. Aku melawan diriku sendiri, meski tanpa sadar menjatuhkan diri
sendiri.
“Tuhan... izinkan aku
tidak bangun esok. Izinkan aku mati. Aku lelah, aku tak memiliki seorang pun
yang bisa aku sandari. Aku lelah harus hidup di bawah ekspektasi mereka. Aku ingin
menjelajah dengan diriku dan cara ku sendiri. Tapi, dunia ini terlalu kejam. Aku
lelah..”
Dan malam itu... aku
mengakhiri hariku dengan harap tak bangun kembali.
---
Sendiri.
Bersama angin yang
berhembus dalam kesunyian ini, aku merasakan ketenangan dunia ini. Matahari dan
bulan yang selalu setia menemani, kau lah saksi bisu perjalananku. Dengan sinarmu,
aku mampu membuka mataku kembali. Dengan rasa sakitku, kau izinkan aku menapaki
jalan-jalan terjal dengan segudang harapan tanpa janji. Aku masih terus
berjalan hingga kini. Masih berjalan membawa luka yang enggan menjauh.. yang
kerap menghantui. Tapi dalam perjalananku pula, aku menemukan tempat untuk
singgah, meski hanya menawarkan segelas minum sampai aku menemukan rumah untuk
sementara. Lalu pergi lagi mencari rumah.
Perjalanan yang
berpeluh-peluh luka dan tangis, akhirnya ku temukan ujung dari semua ini. Ternyata
sendiri bukanlah pilihan yang tepat. Aku lupa bahwa ada kekuatan yang masih
menghidupkanku, memberikan cinta tanpa meminta balas, mencukupi hidupku dan
masih memberikan ku kesempatan untuk berubah.
Aku terduduk.
Air mataku tak mampu ku
bendung.
Isakku kian menderu sambil
mengucap rasa syukur.
Dan hari itu.. aku tidak
ingin hidup sendiri... karena Ia bersamaku, Dia-lah tempatku bersandar dari
semua kesedihanku. Dia hanya Dia aku berani untuk bermimpi lagi. Aku berani
untuk bangkit meskipun itu susah. Dia yang membantuku. Dia yang mengantarkanku,
menemaniku dimanapun aku berada dan mengenalkanku pada kebaikan.
Hatiku terenyuh menyadari
bahwa aku sudah salah menilai orang. Aku berhak untuk hidup dengan segala
kekuranganku. Aku berhak untuk memperbaiki diri. Aku berhak untuk mencintai dan
dicintai. Meskipun aku masih hidup di dalam siku-siku dunia yang enggan
merenggang, aku masih bisa kembali bernafas normal dan menemukan jalan yang
membuatku berhak untuk bahagia.
Dia juga membimbingku
melalui perantara-Nya untuk merasakan kembali cinta dan meninggalkan kesendirian.
Dia mendengarkan seluruh anganku yang terucap maupun tidak. Kini, aku siap
untuk menanti masa ku tiba. Masa aku benar-benar mendapatkan perantara yang
dikirim oleh-Nya. Siapapun dirinya, aku akan membuka tanganku lebar-lebar
menerima kedatangannya. Masih ku angan. Masih ku inginkan.
Karena aku ingin, kau
menarikku dari siku-siku duniaku lalu megarungi samudera hingga menembus
cakrawala bersama. Hanya bersamamu. Kamu yang dikirim oleh-Nya.
Sekarang.. di
mana kah kamu?
Comments
Post a Comment