Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

Menanti Masaku Menjemput



          Detik demi detik, hari demi hari akan berlalu seperti bumi yang terus berputar. Tanpa sedetik pun menoleh, detik, hari dan bumi masih terus berjalan. Menciptakan dan meninggalkan, hadirlah kenangan dan penyesalan. Hidup ini memang penuh misteri. Banyak rahasia yang menutup diri dan enggan membuka diri. Seperti aku yang hidup penuh dengan resah dalam sanubari.

            Cinta.

            Aku tidak pernah mengerti, mengapa manusia sangat suka mencinta. Mengapa cinta itu diperlukan? Dan untuk apa cinta diciptakan?

            Aku adalah manusia yang tidak percaya akan cinta. Hidupku penuh dengan goresan tinta hitam tanpa cacat sedikit pun. Masa kecilku tak ada yang tersisa, selain genangan warna hitam. Lalu, sampai kapan aku menorehkan tinta hitam ini?

            Aku muak dengan cinta.

            Aku muak dengan lelaki.

            Aku tidak bisa mempercayai semua orang di dunia ini.

            Aku lebih baik hidup sendiri, jauh di sana menepi dari kerumunan dunia. Aku hanya ingin hidup S E N D I R I.

            Tapi, aku lelah. Aku terpojok di siku-siku kehidupan yang tak pernah memberikanku kesempatan. Tak pernah mengizinkanku keluar, mereka terus menghimpit sampai aku terjatuh. Sampai nafasku menipis, jantungku bergejolak dan pikirku meledak. Air mata tak enggan menemani hari-hari ku. Pikirku berkata...

            “Kau tak pantas hidup di dunia. Kau hanyalah sampah. Akhiri hidup ini, segera!”

            Aku terisak..

            “Sudah lama kau hidup. Kau tak akan mampu hidup, tak ada yang mencintaimu. Tak ada yang peduli terhadapmu, karena kau hanya sampah. Kau rusuh! Kau bodoh! Kau jahat! Kau bukan orang yang pantas menginjakkan kaki di bumi ini. Kau hanya menambah beban hidup keluarga dan temanmu. Matilah. Matilahh. Dunia ini keras dan melelahkan.”

            Dalam kesunyian, aku berperang. Aku melawan diriku sendiri, meski tanpa sadar menjatuhkan diri sendiri.

            “Tuhan... izinkan aku tidak bangun esok. Izinkan aku mati. Aku lelah, aku tak memiliki seorang pun yang bisa aku sandari. Aku lelah harus hidup di bawah ekspektasi mereka. Aku ingin menjelajah dengan diriku dan cara ku sendiri. Tapi, dunia ini terlalu kejam. Aku lelah..”

            Dan malam itu... aku mengakhiri hariku dengan harap tak bangun kembali.

---

            Sendiri.

            Bersama angin yang berhembus dalam kesunyian ini, aku merasakan ketenangan dunia ini. Matahari dan bulan yang selalu setia menemani, kau lah saksi bisu perjalananku. Dengan sinarmu, aku mampu membuka mataku kembali. Dengan rasa sakitku, kau izinkan aku menapaki jalan-jalan terjal dengan segudang harapan tanpa janji. Aku masih terus berjalan hingga kini. Masih berjalan membawa luka yang enggan menjauh.. yang kerap menghantui. Tapi dalam perjalananku pula, aku menemukan tempat untuk singgah, meski hanya menawarkan segelas minum sampai aku menemukan rumah untuk sementara. Lalu pergi lagi mencari rumah.

            Perjalanan yang berpeluh-peluh luka dan tangis, akhirnya ku temukan ujung dari semua ini. Ternyata sendiri bukanlah pilihan yang tepat. Aku lupa bahwa ada kekuatan yang masih menghidupkanku, memberikan cinta tanpa meminta balas, mencukupi hidupku dan masih memberikan ku kesempatan untuk berubah.

            Aku terduduk.

            Air mataku tak mampu ku bendung.

            Isakku kian menderu sambil mengucap rasa syukur.

            Dan hari itu.. aku tidak ingin hidup sendiri... karena Ia bersamaku, Dia-lah tempatku bersandar dari semua kesedihanku. Dia hanya Dia aku berani untuk bermimpi lagi. Aku berani untuk bangkit meskipun itu susah. Dia yang membantuku. Dia yang mengantarkanku, menemaniku dimanapun aku berada dan mengenalkanku pada kebaikan.

            Hatiku terenyuh menyadari bahwa aku sudah salah menilai orang. Aku berhak untuk hidup dengan segala kekuranganku. Aku berhak untuk memperbaiki diri. Aku berhak untuk mencintai dan dicintai. Meskipun aku masih hidup di dalam siku-siku dunia yang enggan merenggang, aku masih bisa kembali bernafas normal dan menemukan jalan yang membuatku berhak untuk bahagia.

            Dia juga membimbingku melalui perantara-Nya untuk merasakan kembali cinta dan meninggalkan kesendirian. Dia mendengarkan seluruh anganku yang terucap maupun tidak. Kini, aku siap untuk menanti masa ku tiba. Masa aku benar-benar mendapatkan perantara yang dikirim oleh-Nya. Siapapun dirinya, aku akan membuka tanganku lebar-lebar menerima kedatangannya. Masih ku angan. Masih ku inginkan.

            Karena aku ingin, kau menarikku dari siku-siku duniaku lalu megarungi samudera hingga menembus cakrawala bersama. Hanya bersamamu. Kamu yang dikirim oleh-Nya. 

Sekarang.. di mana kah kamu?

Comments