Pertama kali aku bertemu,
hanya sedetik aku memandangmu. Aku terlalu malu untuk menatapmu. Jantungku
berdetak karena gugup yang menyelimuti diriku. Aku bukanlah seorang wanita yang
suka dengan suasana yang kikuk. Namun, aku tak mampu berkutik karena tidak ada
lagi yang bisa ku lakukan di hari pertama aku bekerja di proyek ini. Beruntung
seorang wanita mau mendekatiku dan mengajak aku berbicara. Kami berputar
informasi tentang hal-hal yang harus aku kerjakan sambil menunggu waktu untuk
memulai kegiatan di ruangan yang sedang dipersiapkan. Setelah semuanya beres,
kami bergerak menuju ruangan tersebut.
Aku mencoba mengembalikan
kursi yang aku ambil dari dalam ruangan. Kursinya memang kecil tapi cukup
berat, mau gak mau aku harus memindahkannya.
„Bisa mindahinnya?“ tanya
dia
„Bisa kok bisa“ jawabku karena
sungkan.
Waktu dengan sendirinya memimpin bagaimana kita
menjadi saat ini. Kian hari kian dekat. Di hari pertama aku mengenalmu, kamu meninggalkan
kesan yang baik. Caramu mengajakku bercakap-cakap membuatku nyaman, sehingga
aku mampu meninggalkan perasaan canggung di antara kita. Kamu yang sungguh
terbuka sedikit membuatku kaget, karena aku jarang sekali bertemu lelaki yang
mau terbuka apalagi tentang keluarganya sendiri. Caramu memimpin saat berdoa
membuatku semakin terkesan. Hari pertama yang bahagia.
Kuasa Tuhan tidak pernah main-main. Ia menciptakan
ketenangan dalam perputaran jam yang mengantarkan kami seketika dekat dengan
sendirinya. Seringkali kami memiliki jadwal yang sama, sehingga dari awal
kegiatan sampai akhir kegiatan kita masih berjumpa. Candaan-candaan renyah
menghiasi kedekatan kami. Hingga kami pun mulai terbiasa untuk saling membantu
satu sama lain.
Kamu tidak pernah berubah,
masih sama saat hari pertama kita bertemu. Kamu tidak pernah ragu menjadikan ku
makmum mu tanpa harus bertanya. Kamu juga tidak pernah mengeluh menungguku
karena terlalu lama bersiap-siap atau terlalu lama melipat mukena. Memang itu
hal yang sepele, tapi berkesan untukku.
Waktu demi waktu sering
kita habiskan bersama. Terkadang kita membicarakan hal yang lucu-lucu nan
romantis. Kita juga tidak
segan-segan berbagi informasi tentang keluarga masing-masing. Memiliki waktu
serta mengukir cerita bersamamu kini menjadi canduku. Senyumku tak mau luntur
meski mataku malu-malu memandangmu. Melayang jauh aku melayang.
Situasi yang membuat kami semakin dekat, membuat sebuah
pertanyaan muncul di kepalaku.
“Apakah ia orang yang tepat bagiku?”
Perbincangan kami terkadang mengarah kepada hal-hal yang
serius, namun itu tidak berarti kami akan menginjak ke jenjang yang lebih
serius pula. Terkadang perasaan ragu atas jati dirinya menyelinap bertanya
tanpa permisi. Aku menjadi sering murung memikirkannya.
Suatu hari ketika kami sedang berjalan berdua menuju
parkiran, ia dengan santainya membagi masa lalunya yang hampir putus asa tidak
mampu melanjutkan sekolah. Ia juga menyatakan bahwa sempat ingin bekerja
sebagai OB. Aku terkejut dengan keputusannya, meski dalam hati aku bersyukur
karena saat ini dia masih mampu mengenyam pendidikan. Aku dengan reflek tidak
menyetujui keinginannya.
“Memangnya mengapa? Toh itu halal.”
Aku terdiam.
Suatu ketika aku menyadari bahwa sepertinya aku yang
mulai berlebihan. Aku rasa, perasaanku kepadanya hanyalah ilusi semata. Aku
menimang-nimang lagi dalam diamku. Entah mengapa aku ingin menyerah. Perasaan
ini sepertinya hanya bertepuk sebelah tangan saja. Memang dia bukan orang yang
agresif seperti kebanyakan laki-laki yang sedang mencinta. Ia lebih tenang dan
dewasa dalam mengambil tindakan. Ia juga tidak sungkan-sungkan membagikan masa
lalunya, keluarganya, apa yang ia lakukan saat ini serta hal-hal favoritnya.
Apakah arti semua ini?
Akhir-akhir ini aku sering memikirkan percakapan terakhir kami di sosial
media. Kami hanya berbincang-bincang sekejap. Aku juga mulai mengurangi
menggunakan bahasa-bahasa yang menggugah hati. Aku takut terjatuh lebih dalam,
karena lukanya juga tentu akan sembuh lebih lama. Sesekali aku bercanda dan
bertanya mengenai kakaknya yang sedang mengurus kepindahannya ke kota Surabaya.
Ia berniat untuk pindah bersama anaknya untuk menimba nasib di Ibu Kota
Provinsi Jawa Timur itu.
„So, kakak kamu menikah
muda dong. Karena di umur segitu, dia sudah memiliki anak.“
„Enggak sih. Menurut aku
dia itu sudah tua dan harus segera untuk berumah tangga.“
Aku terdiam seribu kata. Mataku
terbelalak menatap layar smartphone ku.
„STANDAR“
Iya, Ia memiliki sebuah
standard. Aku shock bukan main. Sebenarnya, aku adalah orang yang anti dengan
standar yang sudah paten dari dahulu. Aku tidak mau terikat dengan standar,
seperti kapan aku lulus kuliah, kapan aku menikah, kapan aku memiliki anak dan
sebagainya. Apakah harus aku memiliki standar? Kalau Tuhan saja tidak
memberitahuku standar kapan aku mati? Bukankah setiap manusia memiliki masa
yang berbeda?
Hatiku bergejolak,
perasaanku runtuh seketika. Aku memejamkan mataku. Merasakan kesunyian dan
kerusuhan di alam pikirku. Tuhan, kepada siapakah doa-doaku, mimpi-mimpiku
selama ini akan jatuh? Tolong bantu aku... jadi, dia bukan yang terbaik
untukku..
Kini aku hanya bisa
berdiam, memperlakukan dia sesuai kadar yang ku mampu. Memperlakukan dia
sebagai teman. Tidak lebih, karena aku tidak merasakan kecocokan. Meski aku
hanya menemukan satu perbedaan. Namun, Tuhan... apabila kau mengizinkan.
Bisakah kau ubah pemikirannya tentang standard itu? Kalau ternyata Engkau
merestui kami.
Kamu. Doa-doaku akan
berkibar seiring berjalannya waktu, menggapai cakrawala hingga langit ke tujuh
dunia ini. Aku yakin, meski doaku hanya hembusan nafas. Aku akan mendoakan yang
terbaik untukmu, untukku dan untuk kita. Jadi, beginilah aku ketika mengenalmu. Dan aku masih ingin mengenalmu lebih dalam sambil mengarungi pantai ini. Karena mungkin saja nanti kita bisa mengarungi samudera bersama.
Comments
Post a Comment