Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

Ketika Aku Mengenalmu



            Pertama kali aku bertemu, hanya sedetik aku memandangmu. Aku terlalu malu untuk menatapmu. Jantungku berdetak karena gugup yang menyelimuti diriku. Aku bukanlah seorang wanita yang suka dengan suasana yang kikuk. Namun, aku tak mampu berkutik karena tidak ada lagi yang bisa ku lakukan di hari pertama aku bekerja di proyek ini. Beruntung seorang wanita mau mendekatiku dan mengajak aku berbicara. Kami berputar informasi tentang hal-hal yang harus aku kerjakan sambil menunggu waktu untuk memulai kegiatan di ruangan yang sedang dipersiapkan. Setelah semuanya beres, kami bergerak menuju ruangan tersebut.

            Aku mencoba mengembalikan kursi yang aku ambil dari dalam ruangan. Kursinya memang kecil tapi cukup berat, mau gak mau aku harus memindahkannya.
            „Bisa mindahinnya?“ tanya dia
            „Bisa kok bisa“ jawabku karena sungkan.

            Waktu dengan sendirinya memimpin bagaimana kita menjadi saat ini. Kian hari kian dekat. Di hari pertama aku mengenalmu, kamu meninggalkan kesan yang baik. Caramu mengajakku bercakap-cakap membuatku nyaman, sehingga aku mampu meninggalkan perasaan canggung di antara kita. Kamu yang sungguh terbuka sedikit membuatku kaget, karena aku jarang sekali bertemu lelaki yang mau terbuka apalagi tentang keluarganya sendiri. Caramu memimpin saat berdoa membuatku semakin terkesan. Hari pertama yang bahagia.

            Kuasa Tuhan tidak pernah main-main. Ia menciptakan ketenangan dalam perputaran jam yang mengantarkan kami seketika dekat dengan sendirinya. Seringkali kami memiliki jadwal yang sama, sehingga dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan kita masih berjumpa. Candaan-candaan renyah menghiasi kedekatan kami. Hingga kami pun mulai terbiasa untuk saling membantu satu sama lain.

            Kamu tidak pernah berubah, masih sama saat hari pertama kita bertemu. Kamu tidak pernah ragu menjadikan ku makmum mu tanpa harus bertanya. Kamu juga tidak pernah mengeluh menungguku karena terlalu lama bersiap-siap atau terlalu lama melipat mukena. Memang itu hal yang sepele, tapi berkesan untukku.

            Waktu demi waktu sering kita habiskan bersama. Terkadang kita membicarakan hal yang lucu-lucu nan romantis. Kita juga tidak segan-segan berbagi informasi tentang keluarga masing-masing. Memiliki waktu serta mengukir cerita bersamamu kini menjadi canduku. Senyumku tak mau luntur meski mataku malu-malu memandangmu. Melayang jauh aku melayang.
            Situasi yang membuat kami semakin dekat, membuat sebuah pertanyaan muncul di kepalaku.

            “Apakah ia orang yang tepat bagiku?”

            Perbincangan kami terkadang mengarah kepada hal-hal yang serius, namun itu tidak berarti kami akan menginjak ke jenjang yang lebih serius pula. Terkadang perasaan ragu atas jati dirinya menyelinap bertanya tanpa permisi. Aku menjadi sering murung memikirkannya.

            Suatu hari ketika kami sedang berjalan berdua menuju parkiran, ia dengan santainya membagi masa lalunya yang hampir putus asa tidak mampu melanjutkan sekolah. Ia juga menyatakan bahwa sempat ingin bekerja sebagai OB. Aku terkejut dengan keputusannya, meski dalam hati aku bersyukur karena saat ini dia masih mampu mengenyam pendidikan. Aku dengan reflek tidak menyetujui keinginannya.

            “Memangnya mengapa? Toh itu halal.”

            Aku terdiam.

            Suatu ketika aku menyadari bahwa sepertinya aku yang mulai berlebihan. Aku rasa, perasaanku kepadanya hanyalah ilusi semata. Aku menimang-nimang lagi dalam diamku. Entah mengapa aku ingin menyerah. Perasaan ini sepertinya hanya bertepuk sebelah tangan saja. Memang dia bukan orang yang agresif seperti kebanyakan laki-laki yang sedang mencinta. Ia lebih tenang dan dewasa dalam mengambil tindakan. Ia juga tidak sungkan-sungkan membagikan masa lalunya, keluarganya, apa yang ia lakukan saat ini serta hal-hal favoritnya. Apakah arti semua ini?

            Akhir-akhir ini aku sering memikirkan percakapan terakhir kami di sosial media. Kami hanya berbincang-bincang sekejap. Aku juga mulai mengurangi menggunakan bahasa-bahasa yang menggugah hati. Aku takut terjatuh lebih dalam, karena lukanya juga tentu akan sembuh lebih lama. Sesekali aku bercanda dan bertanya mengenai kakaknya yang sedang mengurus kepindahannya ke kota Surabaya. Ia berniat untuk pindah bersama anaknya untuk menimba nasib di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu.

            „So, kakak kamu menikah muda dong. Karena di umur segitu, dia sudah memiliki anak.“
            „Enggak sih. Menurut aku dia itu sudah tua dan harus segera untuk berumah tangga.“

            Aku terdiam seribu kata. Mataku terbelalak menatap layar smartphone ku.

            „STANDAR“

            Iya, Ia memiliki sebuah standard. Aku shock bukan main. Sebenarnya, aku adalah orang yang anti dengan standar yang sudah paten dari dahulu. Aku tidak mau terikat dengan standar, seperti kapan aku lulus kuliah, kapan aku menikah, kapan aku memiliki anak dan sebagainya. Apakah harus aku memiliki standar? Kalau Tuhan saja tidak memberitahuku standar kapan aku mati? Bukankah setiap manusia memiliki masa yang berbeda?

            Hatiku bergejolak, perasaanku runtuh seketika. Aku memejamkan mataku. Merasakan kesunyian dan kerusuhan di alam pikirku. Tuhan, kepada siapakah doa-doaku, mimpi-mimpiku selama ini akan jatuh? Tolong bantu aku... jadi, dia bukan yang terbaik untukku..

            Kini aku hanya bisa berdiam, memperlakukan dia sesuai kadar yang ku mampu. Memperlakukan dia sebagai teman. Tidak lebih, karena aku tidak merasakan kecocokan. Meski aku hanya menemukan satu perbedaan. Namun, Tuhan... apabila kau mengizinkan. Bisakah kau ubah pemikirannya tentang standard itu? Kalau ternyata Engkau merestui kami.

            Kamu. Doa-doaku akan berkibar seiring berjalannya waktu, menggapai cakrawala hingga langit ke tujuh dunia ini. Aku yakin, meski doaku hanya hembusan nafas. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu, untukku dan untuk kita. Jadi, beginilah aku ketika mengenalmu. Dan aku masih ingin mengenalmu lebih dalam sambil mengarungi pantai ini. Karena mungkin saja nanti kita bisa mengarungi samudera bersama.

Comments