Cerita ini berangkat
pada suatu hari yang sendu di hari minggu. Aku dengan santai meneguk coklat
hangat di apartemenku sambil memandangi gerimis yang menyelimuti London.
Jendela kecil di apartemen miniku terbuka sedikit dan dari sana kelembutan
melodi rintik hujan menggema, mencium indah telingaku. Bau air hujan mengendus lembut
hidungku dan membawa terbang pikiranku bersama dengan dia.
Dia adalah Noah. Lelaki
berbadan tinggi dan berotot. Warna kulitnya kuning langsat, matanya sipit karena memang dia
keturunan orang Korea dan jika senyumnya merekah lesung pipinya muncul menambah
kesan manis bagi siapa pun yang memandangnya. “Hah....., “ deru nafasku
seakan mengingat kenangan kami.
Kami adalah sahabat karib
yang bertemu di bangku sekolah menengah pertama. Seperti mengalami durian
runtuh, kami seakan berjodoh untuk menjadi teman baik karena memiliki banyak
kesamaan. Hobi yang sama, kebiasaan yang sama, rumah yang cukup berdekatan dan
cara kita memandang sesuatu juga sama. Kami sudah seperti anak kembar yang
tidak identik, sulit untuk dipisahkan. Bahkan tidak jarang orang lain salah sangka
kalau kami adalah sepasang kekasih. Padahal kami adalah sahabat yang sangat
solid baik untuk urusan akademis, keluarga, kehidupan sampai urusan cinta.
Noah memang anak yang
cukup terkenal di antara siswa lainnya. Tidak sedikit siswa perempuan yang ingin
mendekatinya bahkan menggodanya. Salah satu alasan mengapa dia banyak
digandrungi para siswa perempuan ya apa lagi kalau bukan karena
kesempurnaannya. Di bilang ganteng, yaa lumayan. Di bilang kaya, ya jelas
karena ayahnya pemilik bisnis kayu jati yang cabangnya sudah ada di setiap kota
besar Indonesa. Di bilang pintar, banget. Kudapan Noah setiap hari adalah buku,
buku dan buku. Bahkan buku sudah seperti pacarnya dia, kemana-mana dibawa,
kemana-mana dibaca dan tentunya melakukannya bersamaku.
Tidak ada hari yang
menyenangkan selain pergi ke toko buku bersama dengan Noah, mencari buku yang
kami suka dan membacanya di sana dan tentunya membeli buku yang sekiranya kami
butuhkan. Noah dan aku sangat suka dengan buku, semua pembicaraan di antara
kita mengalir dari mata air yang berbeda lantas menyatu di samudera. Seperti
itu lah kami, memiliki kesukaan pada buku yang berbeda, tapi pembicaraan kami
tetap bisa sejalan. Dia yang suka dengan sastra klasik dan seni, sedangkan aku
yang suka psikologi dan romansa.
Suatu hari Noah bercerita
kepadaku bahwa dia ingin menjalin suatu hubungan dengan wanita yang dia suka.
Dia bilang sudah cukup lama dia menyukai gadis ini karena menurutnya, gadis itu
adalah tipe idealnya. “Siapa dia?” tanya ku. “Dia teman kita di sekolah..”
jawabnya sambil tersenyum. “Kamu tuh ya, pakai kode-kodean segala. Kita udah
berteman dari SMP dan sekarang SMA, masa jawabannya cuma gitu gak langsung
namanya. Gak asik ah..” aku merajuk padanya, sedangkan dia hanya tersenyum
sambil melihat langit biru sore hari. Memandangi langit biru di sore hari
adalah kebiasaan kami berdua sejak smp. Setiap pulang sekolah kegiatan ini
selalu kami lakukan, sambil duduk di gasebo tanpa atap yang ada di sudut taman
dekat rumah kita.
“Sebentar lagi kita lulus,
Ai..” ungkapnya masih menatap langit. “Iya, kita bakalan jadi apa ya nanti.. “
tanyaku sambil ikut memandang langit. “Jadi....... mmmmm” dia bergumam cukup
lama, lalu terdiam dan menoleh kepadaku. Mata kami bertemu. Tatapnya sangat
dalam dan teduh. “Menjadi orang yang berguna,” jawabnya mantap. Aku tersenyum.
“Kalau gak jadi orang yang berguna, kamu pasti gak diizinkan tinggal di sini
lagi sama ayah kamu, Noah.”
“Ya udah, aku ke rumah
kamu aja kalau gak diizinkan.”
“Lah.. kan aku tinggal di
sini di Indonesia. Gimana sih kamu.”
“Ya udah kita tinggal di
Korea aja, di rumah nenekku.”
“Kita?”
Dia mengangguk dengan
mantap. Angin berhembus syahdu menyelimuti suasana kikuk untuk beberapa detik.
“Kamu sakit?” tanyaku.
“Hah, sakit?”
“Kamu tinggal di Korea
ngapain ngajak aku Noah?”
“Terus kamu ingin tinggal
di mana?”
“Aku....”
Dia masih diam menanti
jawabanku.
“Aku ingin ke London”
jawabku mantap. Dia tersenyum manis, lalu mengusap kepalaku lembut. “Jauh dong”
katanya.
Aku mengernyitkan dahiku.
Kami saling menatap dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Pada
akhirnya, hari itu berakhir dengan kecanggungan. Kami pergi ke rumah
masing-masing dan tidak pernah membicarakan hal itu lagi. Hari-hari berikutnya
kami lebih sering menghabiskan waktu sendiri karena kami fokus menyiapkan ujian
nasional yang tinggal menghitung jari. Rasa gugup dan takut berlagu menjadi
sebuah melodi yang menggema di keseharianku. Aku dan Noah secara tidak sengaja
menjadi jauh dan tidak pernah melakukan kebiasaan kita kembali.
Di hari kelulusan sekolah,
kami tidak bertegur sapa bahkan dia tidak hadir karena dia dan keluarganya
memutuskan untuk pindah ke Korea. Kami putus kontak dan tidak ada sosial media
yang mampu menghubungkan kami kembali. Semua kesenangan dan kesedihan yang kami
lewati selama enam tahun pun kandas tak berarti. Aku melihat taman tempat biasa
kami bercerita dengan nanar, kosong sekali di sana seperti tidak ada kehidupan.
Gasebonya sepi seperti kehilangan harapan. Langit pun tidak secerah hari-hari
biasanya. Setiap hari aku berharap kami bisa dipertemukan kembali, tapi angka
nol berpihak padaku setiap hari. Hubungan yang dulu sedekat urat nadi, ternyata
kini bisa jauh tak berarti. Bahkan perpisahan kami tak ada yang mewakili.
Lebih dari tujuh tahun
semenjak hari itu, aku menggapai mimpiku di London. Di sini aku menghabiskan
waktu menjadi seorang Psikolog. Setiap hari aku bekerja untuk membantu mencari
jalan keluar yang efektif untuk orang-orang yang memiliki masalah. Namun,
hari-hariku tidak seindah ketika aku bersama Noah. Cara ku menikmati buku-buku,
melihat langit dan memandang kehidupan pun berbeda, seakan-akan tak lengkap
karena ada yang hilang. Rintik-rintik gerimis ini yang membawaku semakin sendu
mengingat dia.
“Hah....” deru nafasku
yang disertai tetesan air mata. Hatiku tersayat menyadari bahwa aku
merindukannya, menginginkan dia hadir lebih dari siapa pun. Hari-hari ku
berantakan tanpa nya. Bahkan urusan kita masih belum selesai setelah obrolan
canggung di hari itu. Ku biarkan hari itu menjadi hari spesial untuk
mengingatmu, sampai malam tiba dan aku memutuskan mengajak mu ke alam mimpi,
mengenangmu di sana abadi.
Di dunia ini memang tidak
ada yang tahu pasti apa yang disimpan masa depan. Apa yang akan terjadi di masa
depan adalah rahasia alam dan bukan urusan kita untuk tahu dahulu. Seperti hari
ini di suatu hari yang sejuk dan cerah. Hari di mana aku melangkahkan kaki ku
ke sebuah pameran karya seni milik seniman klasik terkenal di London. Ada 50
lukisan yang dia tunjukkan untuk memanjakan para pengunjung. Aku mengamatinya
satu persatu hingga aku berdiri di lukisan nomor 37. Sebuah lukisan yang
menurut interpretasiku menggambarkan kesepian seorang laki-laki dan bernuansa monokrom.
Aku hendak melangkah ke lukisan 38, namun seorang lelaki tinggi besar berdiri
di sampingku dengan seorang anak perempuan di gendongannya.
“Oh... sorry..” ungkapku hampir menabraknya.
“It’s okay....” jawabnya menoleh ke arahku. Kedua mata kami bertemu
dan detik itu juga aku merasa seperti mengenalnya. Senyap menyapa selama
beberapa detik di antara kami.
“Aisha...” ungkapnya
seiringan dengan bola matanya yang membesar.
“Noah?” tanyaku tak
percaya. Kami sama-sama tak menyangka akan bertemu di situasi seperti ini, di
sini, di London. Tidak lama setelahnya senyumnya mengembang. Hatiku berdesir,
‘aku merindukanmu. Merindukan senyummu.’ Aku mengalihkan pandanganku ke seorang
anak kecil di gendongannya.
“Dia.. anak kamu?” tanyaku
berhati-hati. Dia tersenyum kembali dan diikuti gerak kepalanya ke kanan dan ke
kiri perlahan. Seakan menunggu pengumuman kelulusan, jantungku memompa lebih
cepat dari biasanya. “Kamu ada waktu kosong hari ini?” tanyanya. “Ada.. aku
tidak ada kegiatan lagi setelah ini. Ada apa?” tanyaku sembari berharap ada
sebuah pertemuan. “Aku ingin berbicara denganmu..” ungkapnya. “Oke, aku bisa” jawabku
tanpa berpikir kemungkinan lain.
Setelah menikmati pameran
itu, kami pergi bersama ke sebuah rumah. Di sana aku bertemu keluarganya
kembali dan kami menghabiskan waktu bersama hingga langit tidak biru kembali.
Ada sebuah taman di dekat rumahnya, kami duduk di sebuah tempat duduk memandang
langit. Kegiatan yang sudah lama tidak kami lakukan bersama.
“Kamu masih suka memandang
langit?” tanyanya membuka obrolan.
“Ya, tentu. Langit sudah
seperti kekasihku. Selalu ada di mana pun dan kapan pun” jawabku tak melepaskan
pandangan dari langit. “Kamu bagaimana, masih suka juga?” tanyaku.
“Ya.. tapi rasanya sudah
berbeda.” Noah menjawab dengan nada yang kurang bersahabat.
“Rasanya seperti ada yang
hilang. Tidak sama seperti dulu. Apa kamu tidak merasakan juga?” Dia menatapku
dengan pandangan yang sama seperti tujuh tahun lalu. Aku berdiam dan waktu
terasa berhenti sesaat ketika pandangan kami semakin lama semakin dalam. Aku pun
mengangguk dan kembali bertanya, “Kalau anak kecil tadi bukan anak kamu. Siapa
dia?”
“Dia anak kakakku.
Sebentar lagi mereka datang, tadi aku ingin berjalan-jalan dan dia tidak mau
ditinggal di rumah. Akhirnya aku putuskan mengajaknya berkeliling sebentar.”
“Ouh...” jawabku mengerti
sekaligus ada perasaan lega di dalam dada.
“Anakku masih belum lahir,
Ai..” ungkapnya tiba-tiba. Pandangan kami beradu kembali dan kecanggungan
seperti delapan tahun lalu kembali menyelimuti. Aku mencoba tersenyum dan
menahan gelora emosi di dadaku. Setelah sekian tahun aku mengharapkan sebuah
pertemuan, kini aku seperti melihat sebuah akhir dari pertemuan ini. Mungkin
memang kami hanya ditakdirkan menjadi sahabat yang solid saja tidak lebih dari
itu.
Malam itu aku memutuskan
untuk pamit kembali ke apartemen karena sudah semakin larut. Noah mengantarku
dengan mobilnya hingga di depan gedung apartemenku. Kami keluar dari mobil dan
aku berkata, “Terima kasih untuk hari ini.. Setelah tujuh tahun akhirnya bisa
bertemu kembali denganmu.”
Noah tersenyum lalu dia
berdehem seperti hendak berbicara sesuatu, “Kamu tidak penasaran kenapa aku
bisa di London?”
“Tentu aku ingin tahu..”
jawabku sambil mengernyitkan dahiku tak sadar melupakan bagian itu. Sepertinya
aku terlalu memikirkan bagian yang menyakiti hatiku saja. Dia tersenyum dan
berkata, “Aku di sini karena aku ingin menjemput istriku.” Petir menggelegar di
dalam sanubariku.
“Rencananya aku akan
bertemu dia di hari Rabu. Tapi, sepertinya Tuhan lebih tahu kalau rindu itu
tidak betah berlama-lama dan semesta membawaku bisa bertemu dengan dia di hari
ini” lanjutnya. Aku tidak mengerti dan dia masih tersenyum. Dia melangkahkan
kakinya menepis jarak di antara kita. Dia menatapku dalam dan lembut lalu
berkata, “Dan sepertinya istriku tidak mengerti apa yang sedang aku bicarakan
sekarang...”
Aku semakin tidak
mengerti. “Istrimu?” tanyaku seperti mengelak sinyal bahwa aku lah orang yang
dia maksud. “Iya, mulai beberapa bulan ke depan orang dihadapanku ini kuharap
mau menjadi istriku. Itu sebabnya anakku masih belum lahir” lanjutnya tersenyum.
Mataku menatapnya tidak percaya, dia menarikku ke dalam pelukannya dengan
sangat erat.
Tidak ada kata-kata yang mampu melengkapi malam itu. Aku pun tak kuasa menahan rinduku lebih dalam lagi. Bersama angin yang berhembus lembut dan suara dedaunan yang berserakan, kami menautkan tangan kami, berdialog dengan keheningan. Menyapa kerinduan dan menyambut keharuan. Malam itu juga, gerimis pun hadir melengkapi keharuan di antara kami.

Comments
Post a Comment