Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

GERIMIS

 


Cerita ini berangkat pada suatu hari yang sendu di hari minggu. Aku dengan santai meneguk coklat hangat di apartemenku sambil memandangi gerimis yang menyelimuti London. Jendela kecil di apartemen miniku terbuka sedikit dan dari sana kelembutan melodi rintik hujan menggema, mencium indah telingaku. Bau air hujan mengendus lembut hidungku dan membawa terbang pikiranku bersama dengan dia.

            Dia adalah Noah. Lelaki berbadan tinggi dan berotot. Warna kulitnya kuning langsat, matanya sipit karena memang dia keturunan orang Korea dan jika senyumnya merekah lesung pipinya muncul menambah kesan manis bagi siapa pun yang memandangnya. “Hah....., “ deru nafasku seakan mengingat kenangan kami.

            Kami adalah sahabat karib yang bertemu di bangku sekolah menengah pertama. Seperti mengalami durian runtuh, kami seakan berjodoh untuk menjadi teman baik karena memiliki banyak kesamaan. Hobi yang sama, kebiasaan yang sama, rumah yang cukup berdekatan dan cara kita memandang sesuatu juga sama. Kami sudah seperti anak kembar yang tidak identik, sulit untuk dipisahkan. Bahkan tidak jarang orang lain salah sangka kalau kami adalah sepasang kekasih. Padahal kami adalah sahabat yang sangat solid baik untuk urusan akademis, keluarga, kehidupan sampai urusan cinta.

            Noah memang anak yang cukup terkenal di antara siswa lainnya. Tidak sedikit siswa perempuan yang ingin mendekatinya bahkan menggodanya. Salah satu alasan mengapa dia banyak digandrungi para siswa perempuan ya apa lagi kalau bukan karena kesempurnaannya. Di bilang ganteng, yaa lumayan. Di bilang kaya, ya jelas karena ayahnya pemilik bisnis kayu jati yang cabangnya sudah ada di setiap kota besar Indonesa. Di bilang pintar, banget. Kudapan Noah setiap hari adalah buku, buku dan buku. Bahkan buku sudah seperti pacarnya dia, kemana-mana dibawa, kemana-mana dibaca dan tentunya melakukannya bersamaku.

            Tidak ada hari yang menyenangkan selain pergi ke toko buku bersama dengan Noah, mencari buku yang kami suka dan membacanya di sana dan tentunya membeli buku yang sekiranya kami butuhkan. Noah dan aku sangat suka dengan buku, semua pembicaraan di antara kita mengalir dari mata air yang berbeda lantas menyatu di samudera. Seperti itu lah kami, memiliki kesukaan pada buku yang berbeda, tapi pembicaraan kami tetap bisa sejalan. Dia yang suka dengan sastra klasik dan seni, sedangkan aku yang suka psikologi dan romansa.

            Suatu hari Noah bercerita kepadaku bahwa dia ingin menjalin suatu hubungan dengan wanita yang dia suka. Dia bilang sudah cukup lama dia menyukai gadis ini karena menurutnya, gadis itu adalah tipe idealnya. “Siapa dia?” tanya ku. “Dia teman kita di sekolah..” jawabnya sambil tersenyum. “Kamu tuh ya, pakai kode-kodean segala. Kita udah berteman dari SMP dan sekarang SMA, masa jawabannya cuma gitu gak langsung namanya. Gak asik ah..” aku merajuk padanya, sedangkan dia hanya tersenyum sambil melihat langit biru sore hari. Memandangi langit biru di sore hari adalah kebiasaan kami berdua sejak smp. Setiap pulang sekolah kegiatan ini selalu kami lakukan, sambil duduk di gasebo tanpa atap yang ada di sudut taman dekat rumah kita.

            “Sebentar lagi kita lulus, Ai..” ungkapnya masih menatap langit. “Iya, kita bakalan jadi apa ya nanti.. “ tanyaku sambil ikut memandang langit. “Jadi....... mmmmm” dia bergumam cukup lama, lalu terdiam dan menoleh kepadaku. Mata kami bertemu. Tatapnya sangat dalam dan teduh. “Menjadi orang yang berguna,” jawabnya mantap. Aku tersenyum. “Kalau gak jadi orang yang berguna, kamu pasti gak diizinkan tinggal di sini lagi sama ayah kamu, Noah.”

            “Ya udah, aku ke rumah kamu aja kalau gak diizinkan.”

            “Lah.. kan aku tinggal di sini di Indonesia. Gimana sih kamu.”

            “Ya udah kita tinggal di Korea aja, di rumah nenekku.”

            “Kita?”

           Dia mengangguk dengan mantap. Angin berhembus syahdu menyelimuti suasana kikuk untuk beberapa detik. “Kamu sakit?” tanyaku.

            “Hah, sakit?”

            “Kamu tinggal di Korea ngapain ngajak aku Noah?”

            “Terus kamu ingin tinggal di mana?”

            “Aku....”

            Dia masih diam menanti jawabanku.

            “Aku ingin ke London” jawabku mantap. Dia tersenyum manis, lalu mengusap kepalaku lembut. “Jauh dong” katanya.

            Aku mengernyitkan dahiku. Kami saling menatap dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Pada akhirnya, hari itu berakhir dengan kecanggungan. Kami pergi ke rumah masing-masing dan tidak pernah membicarakan hal itu lagi. Hari-hari berikutnya kami lebih sering menghabiskan waktu sendiri karena kami fokus menyiapkan ujian nasional yang tinggal menghitung jari. Rasa gugup dan takut berlagu menjadi sebuah melodi yang menggema di keseharianku. Aku dan Noah secara tidak sengaja menjadi jauh dan tidak pernah melakukan kebiasaan kita kembali.

            Di hari kelulusan sekolah, kami tidak bertegur sapa bahkan dia tidak hadir karena dia dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Korea. Kami putus kontak dan tidak ada sosial media yang mampu menghubungkan kami kembali. Semua kesenangan dan kesedihan yang kami lewati selama enam tahun pun kandas tak berarti. Aku melihat taman tempat biasa kami bercerita dengan nanar, kosong sekali di sana seperti tidak ada kehidupan. Gasebonya sepi seperti kehilangan harapan. Langit pun tidak secerah hari-hari biasanya. Setiap hari aku berharap kami bisa dipertemukan kembali, tapi angka nol berpihak padaku setiap hari. Hubungan yang dulu sedekat urat nadi, ternyata kini bisa jauh tak berarti. Bahkan perpisahan kami tak ada yang mewakili.

            Lebih dari tujuh tahun semenjak hari itu, aku menggapai mimpiku di London. Di sini aku menghabiskan waktu menjadi seorang Psikolog. Setiap hari aku bekerja untuk membantu mencari jalan keluar yang efektif untuk orang-orang yang memiliki masalah. Namun, hari-hariku tidak seindah ketika aku bersama Noah. Cara ku menikmati buku-buku, melihat langit dan memandang kehidupan pun berbeda, seakan-akan tak lengkap karena ada yang hilang. Rintik-rintik gerimis ini yang membawaku semakin sendu mengingat dia.

            “Hah....” deru nafasku yang disertai tetesan air mata. Hatiku tersayat menyadari bahwa aku merindukannya, menginginkan dia hadir lebih dari siapa pun. Hari-hari ku berantakan tanpa nya. Bahkan urusan kita masih belum selesai setelah obrolan canggung di hari itu. Ku biarkan hari itu menjadi hari spesial untuk mengingatmu, sampai malam tiba dan aku memutuskan mengajak mu ke alam mimpi, mengenangmu di sana abadi.

            Di dunia ini memang tidak ada yang tahu pasti apa yang disimpan masa depan. Apa yang akan terjadi di masa depan adalah rahasia alam dan bukan urusan kita untuk tahu dahulu. Seperti hari ini di suatu hari yang sejuk dan cerah. Hari di mana aku melangkahkan kaki ku ke sebuah pameran karya seni milik seniman klasik terkenal di London. Ada 50 lukisan yang dia tunjukkan untuk memanjakan para pengunjung. Aku mengamatinya satu persatu hingga aku berdiri di lukisan nomor 37. Sebuah lukisan yang menurut interpretasiku menggambarkan kesepian seorang laki-laki dan bernuansa monokrom. Aku hendak melangkah ke lukisan 38, namun seorang lelaki tinggi besar berdiri di sampingku dengan seorang anak perempuan di gendongannya.

            “Oh... sorry..” ungkapku hampir menabraknya.

            It’s okay....” jawabnya menoleh ke arahku. Kedua mata kami bertemu dan detik itu juga aku merasa seperti mengenalnya. Senyap menyapa selama beberapa detik di antara kami.

            “Aisha...” ungkapnya seiringan dengan bola matanya yang membesar.

            “Noah?” tanyaku tak percaya. Kami sama-sama tak menyangka akan bertemu di situasi seperti ini, di sini, di London. Tidak lama setelahnya senyumnya mengembang. Hatiku berdesir, ‘aku merindukanmu. Merindukan senyummu.’ Aku mengalihkan pandanganku ke seorang anak kecil di gendongannya.

            “Dia.. anak kamu?” tanyaku berhati-hati. Dia tersenyum kembali dan diikuti gerak kepalanya ke kanan dan ke kiri perlahan. Seakan menunggu pengumuman kelulusan, jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. “Kamu ada waktu kosong hari ini?” tanyanya. “Ada.. aku tidak ada kegiatan lagi setelah ini. Ada apa?” tanyaku sembari berharap ada sebuah pertemuan. “Aku ingin berbicara denganmu..” ungkapnya. “Oke, aku bisa” jawabku tanpa berpikir kemungkinan lain.

            Setelah menikmati pameran itu, kami pergi bersama ke sebuah rumah. Di sana aku bertemu keluarganya kembali dan kami menghabiskan waktu bersama hingga langit tidak biru kembali. Ada sebuah taman di dekat rumahnya, kami duduk di sebuah tempat duduk memandang langit. Kegiatan yang sudah lama tidak kami lakukan bersama.

            “Kamu masih suka memandang langit?” tanyanya membuka obrolan.

            “Ya, tentu. Langit sudah seperti kekasihku. Selalu ada di mana pun dan kapan pun” jawabku tak melepaskan pandangan dari langit. “Kamu bagaimana, masih suka juga?” tanyaku.

            “Ya.. tapi rasanya sudah berbeda.” Noah menjawab dengan nada yang kurang bersahabat.

            “Rasanya seperti ada yang hilang. Tidak sama seperti dulu. Apa kamu tidak merasakan juga?” Dia menatapku dengan pandangan yang sama seperti tujuh tahun lalu. Aku berdiam dan waktu terasa berhenti sesaat ketika pandangan kami semakin lama semakin dalam. Aku pun mengangguk dan kembali bertanya, “Kalau anak kecil tadi bukan anak kamu. Siapa dia?”

            “Dia anak kakakku. Sebentar lagi mereka datang, tadi aku ingin berjalan-jalan dan dia tidak mau ditinggal di rumah. Akhirnya aku putuskan mengajaknya berkeliling sebentar.”

            “Ouh...” jawabku mengerti sekaligus ada perasaan lega di dalam dada.

            “Anakku masih belum lahir, Ai..” ungkapnya tiba-tiba. Pandangan kami beradu kembali dan kecanggungan seperti delapan tahun lalu kembali menyelimuti. Aku mencoba tersenyum dan menahan gelora emosi di dadaku. Setelah sekian tahun aku mengharapkan sebuah pertemuan, kini aku seperti melihat sebuah akhir dari pertemuan ini. Mungkin memang kami hanya ditakdirkan menjadi sahabat yang solid saja tidak lebih dari itu.

            Malam itu aku memutuskan untuk pamit kembali ke apartemen karena sudah semakin larut. Noah mengantarku dengan mobilnya hingga di depan gedung apartemenku. Kami keluar dari mobil dan aku berkata, “Terima kasih untuk hari ini.. Setelah tujuh tahun akhirnya bisa bertemu kembali denganmu.”

            Noah tersenyum lalu dia berdehem seperti hendak berbicara sesuatu, “Kamu tidak penasaran kenapa aku bisa di London?”

            “Tentu aku ingin tahu..” jawabku sambil mengernyitkan dahiku tak sadar melupakan bagian itu. Sepertinya aku terlalu memikirkan bagian yang menyakiti hatiku saja. Dia tersenyum dan berkata, “Aku di sini karena aku ingin menjemput istriku.” Petir menggelegar di dalam sanubariku.

            “Rencananya aku akan bertemu dia di hari Rabu. Tapi, sepertinya Tuhan lebih tahu kalau rindu itu tidak betah berlama-lama dan semesta membawaku bisa bertemu dengan dia di hari ini” lanjutnya. Aku tidak mengerti dan dia masih tersenyum. Dia melangkahkan kakinya menepis jarak di antara kita. Dia menatapku dalam dan lembut lalu berkata, “Dan sepertinya istriku tidak mengerti apa yang sedang aku bicarakan sekarang...”

            Aku semakin tidak mengerti. “Istrimu?” tanyaku seperti mengelak sinyal bahwa aku lah orang yang dia maksud. “Iya, mulai beberapa bulan ke depan orang dihadapanku ini kuharap mau menjadi istriku. Itu sebabnya anakku masih belum lahir” lanjutnya tersenyum. Mataku menatapnya tidak percaya, dia menarikku ke dalam pelukannya dengan sangat erat.

            Tidak ada kata-kata yang mampu melengkapi malam itu. Aku pun tak kuasa menahan rinduku lebih dalam lagi. Bersama angin yang berhembus lembut dan suara dedaunan yang berserakan, kami menautkan tangan kami, berdialog dengan keheningan. Menyapa kerinduan dan menyambut keharuan. Malam itu juga, gerimis pun hadir melengkapi keharuan di antara kami.

Comments