Di masa pandemi seperti ini ada banyak hal yang berubah. Kebiasaan adalah
salah satu hal yang secara terpaksa ikut berubah. Sudah menjadi kebiasaan kalau
harus bangun pagi terus kerja sampai sore dan baru kembali ketika matahari
menyentuh ujung cakrawala, namun kini bekerja dari rumah mulai pagi sampai sore
tetap di rumah dulu. Selain itu, mungkin kita terbiasa bertemu teman dengan
riasan yang cantik, kini jadi tak bisa bertemu dan sekalinya bertemu harus cuci
tangan dulu, pakai masker dan jaga jarak dulu. Kebiasaan lain seperti setiap
kali kita dalam keadaan sedih atau senang dan membutuhkann kehadiran orang
tersayang untuk melengkapi kisah hari itu. Tapi dengan kondisi seperti ini
tidak ada yang bisa ditemui. Bahkan jauh untuk sementara waktu mungkin adalah
pilihan terbaik agar kita bisa bersama selamanya.
Pandemi memang krusial dan
mengubah banyak hal yang sudah biasa menjadi tidak biasa. Namun, sampai kapan
kita menyalahkan pandemi atas kehidupan kita yang tidak berjalan seperti
keinginan pribadi kita. Sampai kapan kita mendebatkan pandemi apabila debatnya
hanya membuat kita kian cemas akan masa depan atau kesehatan kita. Padahal jika
kita mau bersabar sedikit, membuka mata sekejap, bernafas sejenak dan hidup
lebih pelan-pelan alias tidak buru-buru, ada banyakkkk sekali hal-hal yang
patut kita syukuri. Pelan-pelan
syukur itu yang mencukupi kita dan membawa kita untuk hidup bahagia.
Bahagia di tengah pandemi memang tidak biasa, namun itu dapat
direalisasikan. Pada dasarnya bahagia bukan perkara apa yang kita tuju sudah
tercapai saja, namun lebih dari itu bahagia ada pada penerimaan dan ikhlas.
Materi yang serba cukup atau kegiatan yang kita lakukan biasanya sebelum
pandemi memang menjadi faktor penentu kebahagiaan, tapi ingat itu tidak mutlak.
Hidup ini seperti rollercoaster ada
naik ada turun kadang pelan kadang cepat dan masih banyak lagi. Bahkan aku
sendiri tidak bisa mendefinisikan apakah pandemi ini termasuk salah satu posisi
rollercoaster sedang di atas atau di
bawah. Namun, yang ku tahu pandemi ini membawaku berada di posisi atas dengan
segala kekurangan yang ada. Kalau diibaratkan pandemi ini seperti sebuah
lingkaran, tidak berujung. Sama dengan kebahagiaan dan kesempatan yang tersedia,
tidak pernah ada ujungnya.
Memang hidup berdampingan
dengan virus mengubah semua kebiasaan kita, tapi karena manusia diciptakan
sebagai makhluk yang sempurna, maka sebentar lagi mungkin kita jadi terbiasa
dengan hal-hal yang tidak biasa ini. Semoga kita selalu ada dalam
lindungan-Nya.

Comments
Post a Comment