Apakah nikmat menjadi burung? Bisa terbang
tinggi melihat cakrawala dengan mata telanjang dan mampu menyusuri setiap sudut
bumi ini tanpa sepeser uang. Apakah menyenangkan terbang bebas seperti burung?
Terbang bebas menjulang tinggi merengkuh langit tanpa tahu arah tujuan berlabuh
dan tanpa tahu sudah melewati apa saja sejauh ini. Apakah menyenangkan memiliki
sayap? Melayang terbang menggapai bintang menyapa surya mengendus segarnya
cakrawala di setiap detik bumi ini berputar. Hai, Burung! Ku rasa aku ingin
menjadi dirimu meskipun hanya sepenggal waktu.
Perempuan
adalah takdir yang ku genggam semenjak lahir di dunia ini. Tidak ada yang mudah
menjadi seorang perempuan. Banyak kesusahan dan kepiluan dalam hidup ini, meski
demikian menjadi perempuan juga tidak selamanya buruk. Batas adalah salah satu
hal tersulit yang pernah ku temui di kefanaan hidup ini. Menjalin kehidupan
bersama batas adalah hal yang memungkinkanku untuk semakin terperangkap dalam
kalutnya dunia ini atau bisa jadi selamat di dunia ini. Siapa yang menyangka
bahwa batas memiliki daya tahan magnetik yang gila. Bagaikan badai yang tidak
terkontrol, namun terkadang seperti hembusan nafas manusia. Ringan dan rapuh.
Berkali-kali aku merasa bahwa kehidupanku
perlu diperbarui. Dipasangkan sistem terbaru yang sesuai dengan masa kini dan
digunakan untuk menyongsong masa depan. Sayangnya, batas bernafas seperti
makhluk yang tak berwujud. Menghantui kehidupanku setiap detiknya dan di setiap
rajutan investasi masa depanku. Seringkali aku dibuatnya bahagia tanpa ampun, tapi
seringkali aku jatuh bersujud. Andai aku punya sayap seperti burung. Terbang
bebas, tinggi menjulang, menerobos awan dan menyapa matahari, mungkin hidupku
akan lebih bahagia. Melarikan diri sejenak dari batas yang membuat hidupku
semakin rumit dan tak pernah mau meninggalkan setiap insannya di dunia ini.
Bumi terus berputar pada porosnya
dan aku terus hidup menyempurnakan poros kehidupanku. Aku tak pernah tahu
bagaimana aku mampu bertahan di dalam hiruk pikuk kehidupan yang sering
membuatku lalai. Sering aku bertanya pada diriku sendiri, bagaimana bisa aku
masih hidup hingga detik ini? Bagaimana mungkin aku tidur nyenyak setelah
melakukan banyak kesalahan hari ini? Bagaimana bisa nafasku sedemikian tenang
setelah bertubi-tubi aku bertemu jalan buntu? Aku belum mendapatkan jawaban
itu. Tapi, aku ingin terus bangun mengukir kehidupanku bahkan sampai batas waktuku
tiba. Seberapa sulitnya itu, aku ingin terus mengukir jalan hidupku meski yang
ku ukir takkan pernah tertulis oleh sejarah. Aku hanya ingin menjadi perempuan
yang mengerti batas sekaligus mematahkan batas. Aku muak dengan segala rumus
kehidupan yang apabila rumus itu tak ku selesaikan, maka aku dianggap tak
bahagia atau tidak sukses. Aku hanya ingin menjadi versi terbaik diriku
sendiri. Seperti burung yang terbang bebas dan terus terbang meskipun dia tahu,
petir dan badai takkan membiarkannya terbang lebih tinggi dan lebih jauh.
Jadi bagaimana denganmu, sudah siap menjadi versi terbaik dirimu sendiri?

Comments
Post a Comment