Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

Kenapa Kita Harus Puasa Sosial Media?

 


Pernah kah kalian merasa tidak percaya diri, insecure, cemas, susah fokus, susah tidur, atau overthinking? Mungkin salah satu penyebabnya adalah terlalu sering bermain sosial media. Sosial media dengan berbagai macam jenisnya telah menemani kehidupan kita selama beberapa tahun belakangan ini. Bahkan saat ini hidup dengan sosial media seperti sebuah kewajiban yang secara tidak langsung dilaksanakan oleh seluruh orang.  Tujuan kehadiran sosial media pun beragam, ada yang sekedar dihadirkan untuk hiburan, edukasi, donasi, layanan sehari-hari bahkan mencari jodoh pun ada loh aplikasinya.

            Seiring berjalannya waktu, perusahaan sosial media juga mengalami perkembangan yang sangat pesat sama dengan bertambahnya jumlah penggunanya. Namun, semakin banyak pengguna berarti semakin banyak pula bagian kehidupan yang dikorbankan, salah satunya kesehatan mental. Marissa Anita melalui video yang diunggah di channel Greatmind mengatakan semakin banyaknya pengguna sosial media, maka akan semakin banyak yang merasa insecure, cemas, tidak percaya diri, susah tidur dan masih banyak kasus yang lainnya. Apakah kalian merasakan itu? Aku yakin kalau aku tidak merasakannya sendirian.

            Beberapa hari lalu aku berhasil meluncurkan sebuah buku pertamaku yang berjudul Waktu Sedang Beraksara. Banyak orang-orang terdekat yang mendukungku dan terntunya melalui cara yang beragam. Pada suatu titik ada seseorang yang sebenarnya cukup mengganggu dalam kehidupanku. Seseorang yang tidak dekat bahkan aku tidak menganggapnya sebagai teman, aku hanya menganggapnya sebagai bagian dari masa lalu. Dia datang ikut mendukungku dengan caranya. Ternyata kehadirannya secara virtual ini berhasil menarik fokusku selama 3 hari 3 malam dan selama itu pula aku tidak bisa tidur. Ya, aku mengalami gejala susah tidur.

            Aku sempat bertanya kepada diriku sendiri apa yang sedang terjadi. Semakin aku berpikir ini semua bermula karena kami memiliki masa lalu atau kenangan yang tidak baik. Kenangan itu yang sampai sekarang membuat ku malas dan sulit untuk menerima dia kembali bahkan hanya sebagai teman. Setiap kali melihat namanya di sosial media, hatiku resah, sakit, sedih dan banyak hal negatif yang muncul mempengaruhi isi pikiran. Aku pikir kenangan buruk itu, yang sudah terjadi dua tahun silam, harusnya sudah berlalu, namun sosial media seperti sebuah lingkaran tak berujung. Aku pun tidak tahu harus lari ke mana karena setiap dindingnya hanya bertemu dengan dia.

            Sejak awal tahun 2020 aku sudah mencoba berpuasa sosial media. Percobaan pertama berhasil karena lebih dari satu bulan aku bisa hidup tanpa Instagram. Yhaaa, meskipun awalnya tangan rasanya gatel pengen buka dan lirikan mata masih dikit-dikit ke ponsel pintar. Namun, setelah beberapa minggu sudah mulai terbiasa sampai akhirnya mau log in saja malas. Kurang lebih 1 bulan percobaan pertama berhasil. Percobaan kedua masih sama dan dipercobaan ketiga aku memutuskan untuk kembali ke Instagram karena ada kegiatan yang mengharuskan aku untuk terhubung di sosial media itu. Saat ini, aku mulai lagi menggalakkan puasa sosial media dan Inshaallah secepatnya menghapus sosial media terutama Instagram.

            Selain karena pengalaman itu, ada sebuah pengalaman lain yang ku rasa banyak dirasakan oleh kita semua. Sebagai pengguna sosial media pasti kita pernah mengalami social comparison yang artinya membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Tentu tidak sedikit dari kita yang suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Uniknya perasaan suka membandingkan ini terjadi secara alami. Inilah yang membuat kita menjadi insecure, cemas, tidak bahagia dengan diri sendiri, dan masih banyak lagi masalah mental yang kita hadapi.

            Nah, sekarang sini aku kasih tahu. Sosial media itu baik kok asal digunakan dengan baik juga. Kita perlu tahu kalau sosial media itu mungkin bisa mejadi alternatif menghapus kebosanan, tapi ingat sosial media juga membuka lubang kecanduan. Efeknya pun sama saja dengan narkoba yang semakin dinikmati terasa semakin kurangg, butuh lebih lagi, lagi dan lagi. Awalnya kita haus butuh asupan hiburan dengan durasi mungkin 5 detik atau 1 menit, kini kita butuh lebihh dari sekedar 5 detik atau 1 menit untuk tertawa. Kita butuh lebih dari sekedar story, akhirnya muncul **TV. Selain itu, mungkin kita takut untuk ketinggalan berita, trend atau informasi saat ini. Namun, apakah benar kita takut ketinggalan hal-hal tersebut dengan mengorbankan kesehatan mental kita? Yang belum tentu penyembuhannya selesai dalam 1 hari atau 1 tahun.

            Lantas apa yang harus kita kendalikan?

            Kita perlu tahu kalau sosial media itu adalah sebuah panggung sandiwara. Tidak semua kehidupan yang ditampilkan benar-benar mewah, menarik, dan menyenangkan. Kita perlu sadar apa nilai kehidupan kita dan resiko apa yang terjadi apabila kita memutuskan untuk bermain sosial media. Sebagai anak muda seharusnya kita memahami dua hal itu terlebih dahulu sebelum memutuskan terjun ke sosial media. So think about it first and think again and again.

            Kita juga perlu tahu bahwa likes, retweet, love, comments dan reaksi orang lain dalam bentuk apapun itu di sosial media bukan kita yang mengendalikan. Nadiem Makarim melalui interviewnya bersama Deddy Corbuzier mengatakan bahwa reaksi di sosial media hanya ada dua. Negatif dan positif. Nah, kita juga perlu sadar bahwa tidak semua orang bisa memberikan komentar yang positif pasti adaaa aja yang komentar negatif. Dan itu bukan urusan kita karena reaksi orang lain itu di luar kendali kita. Apa yang menjadi urusan kita? Membagikan sesuatu karena dirimu sendiri bukan karena orang lain. Misalnya berbagi resep nasi goreng ala kamu tanpa dipas-paskan sesuai standar netizen.

            Pada akhirnya, ketika aku berhasil menjalankan eksperimen ini, orang-orang yang benar-benar memiliki nilai di kehidupanku muncul. Tidak jarang aku mengatakan, „Hey.. kangen nih.“ Padahal aku bukan orang yang gampang mengatakan „aku kangen kamuuu“ atau „aku sayang kamu“ ke orang lain. Ternyata, eksperimen ini mengajariku banyak hal dan salah satunya, aku bisa mengenali orang-orang yang termasuk dalam nilai kehidupanku. Mereka yang membantuku di manapun aku berada, mendukungku tanpa pamrih dan menyayangiku tanpa syarat.

            Berpuasa sosial media juga mengajariku untuk menyadari bahwa realita kehidupan tidak seindah unggahan di sosial media. Kita perlu sadar kalau pada kenyataannya kita memang masih belum kaya, belum punya penghasilan yang stabil, belum memiliki pekerjaan dan masih memiliki masalah terhadap diri sendiri (mungkin). Selama kuartal awal tahun 2020 aku berusaha mengenali jati diriku, apa saja hobi yang ku suka dan permasalahan apa yang terjadi di dalam diriku selama ini. Dan akhirnya setelah berulang-ulang kali memikirkannya, aku bisa menemukan permasalahan utamaku dan aku memutuskan bertemu psikolog daripada harus mengungkapkannya di sosial media. Hayoo ada yang suka curhat di sosial media gak nih? Mulai sekarang berhenti ya, karena itu tidak menyehatkan bagi kamu yang menulis bahkan bagi pembaca.

            Semakin berpuasa semakin mengenal diri sendiri. Semakin berkurang perasaan insecure, cemas dan susah fokus. Aku semakin nyaman dengan kehidupan nyata daripada kehidupan maya. Apa yang seharusnya dilupakan dan menjadi kenangan, bairlah di sana tetap di tempatnya. Apa yang dibutuhkan maka dikejar dan fokus untuk terus mengejarnya. Jangan pernah buang rasa bosan dengan bermain sosial media, tapi isi lah dengan kegiatan menyenangkan lainnya. Entah itu bernyanyi, menari, mengisi buku harian, bertemu dengan teman, ikut komunitas baru dan masih banyak lagi. Aku juga semakin yakin kalau dunia ini luas dan apapun bisa diraih asalkan kita mau berusaha. Nah, kalau aku bisa melakukannya. Kamu pasti lebih mampu, jadi apakah kamu siap hidup tanpa sosial media?

Comments