Pernah kah kalian
merasa tidak percaya diri, insecure, cemas,
susah fokus, susah tidur, atau overthinking?
Mungkin salah satu penyebabnya adalah terlalu sering bermain sosial media. Sosial media dengan
berbagai macam jenisnya telah menemani kehidupan kita selama beberapa tahun
belakangan ini. Bahkan saat ini hidup dengan sosial media seperti sebuah
kewajiban yang secara tidak langsung dilaksanakan oleh seluruh orang. Tujuan kehadiran sosial media pun beragam,
ada yang sekedar dihadirkan untuk hiburan, edukasi, donasi, layanan sehari-hari
bahkan mencari jodoh pun ada loh aplikasinya.
Seiring berjalannya waktu,
perusahaan sosial media juga mengalami perkembangan yang sangat pesat sama
dengan bertambahnya jumlah penggunanya. Namun, semakin banyak pengguna berarti
semakin banyak pula bagian kehidupan yang dikorbankan, salah satunya kesehatan
mental. Marissa Anita melalui video yang diunggah di channel Greatmind mengatakan semakin banyaknya pengguna sosial
media, maka akan semakin banyak yang merasa insecure,
cemas, tidak percaya diri, susah tidur dan masih banyak kasus yang lainnya. Apakah
kalian merasakan itu? Aku yakin kalau aku tidak merasakannya sendirian.
Beberapa hari lalu aku
berhasil meluncurkan sebuah buku pertamaku yang berjudul Waktu Sedang Beraksara. Banyak orang-orang terdekat yang mendukungku dan terntunya melalui
cara yang beragam. Pada suatu titik ada seseorang yang sebenarnya cukup
mengganggu dalam kehidupanku. Seseorang yang tidak dekat bahkan aku tidak
menganggapnya sebagai teman, aku hanya menganggapnya sebagai bagian dari masa
lalu. Dia datang ikut mendukungku dengan caranya. Ternyata kehadirannya secara
virtual ini berhasil menarik fokusku selama 3 hari 3 malam dan selama itu pula
aku tidak bisa tidur. Ya, aku
mengalami gejala susah tidur.
Aku sempat bertanya kepada
diriku sendiri apa yang sedang terjadi. Semakin aku berpikir ini semua bermula
karena kami memiliki masa lalu atau kenangan yang tidak baik. Kenangan itu yang
sampai sekarang membuat ku malas dan sulit untuk menerima dia kembali bahkan
hanya sebagai teman. Setiap kali melihat namanya di sosial media, hatiku resah,
sakit, sedih dan banyak hal negatif yang muncul mempengaruhi isi pikiran. Aku pikir
kenangan buruk itu, yang sudah terjadi dua tahun silam, harusnya sudah berlalu,
namun sosial media seperti sebuah lingkaran tak berujung. Aku pun tidak tahu
harus lari ke mana karena setiap dindingnya hanya bertemu dengan dia.
Sejak awal tahun 2020 aku sudah mencoba berpuasa
sosial media. Percobaan pertama berhasil karena lebih dari satu bulan aku bisa hidup
tanpa Instagram. Yhaaa, meskipun awalnya tangan rasanya gatel pengen buka dan
lirikan mata masih dikit-dikit ke ponsel pintar. Namun, setelah beberapa minggu
sudah mulai terbiasa sampai akhirnya mau log
in saja malas. Kurang lebih 1 bulan percobaan pertama berhasil. Percobaan kedua
masih sama dan dipercobaan ketiga aku memutuskan untuk kembali ke Instagram
karena ada kegiatan yang mengharuskan aku untuk terhubung di sosial media itu. Saat
ini, aku mulai lagi menggalakkan puasa sosial media dan Inshaallah secepatnya
menghapus sosial media terutama Instagram.
Selain karena pengalaman
itu, ada sebuah pengalaman lain yang ku rasa banyak dirasakan oleh kita semua. Sebagai pengguna sosial media pasti kita pernah
mengalami social comparison yang
artinya membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Tentu tidak sedikit dari
kita yang suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Uniknya perasaan
suka membandingkan ini terjadi secara alami. Inilah yang membuat kita menjadi insecure, cemas, tidak bahagia dengan
diri sendiri, dan masih banyak lagi masalah mental yang kita hadapi.
Nah, sekarang sini aku kasih tahu. Sosial media itu baik kok asal digunakan
dengan baik juga. Kita perlu tahu kalau sosial media itu mungkin bisa mejadi
alternatif menghapus kebosanan, tapi ingat sosial media juga membuka lubang
kecanduan. Efeknya pun sama saja dengan narkoba yang semakin dinikmati terasa
semakin kurangg, butuh lebih lagi, lagi dan lagi. Awalnya kita haus butuh asupan
hiburan dengan durasi mungkin 5 detik atau 1 menit, kini kita butuh lebihh dari
sekedar 5 detik atau 1 menit untuk tertawa. Kita
butuh lebih dari sekedar story,
akhirnya muncul **TV. Selain itu, mungkin kita takut untuk ketinggalan berita, trend atau informasi saat ini. Namun,
apakah benar kita takut ketinggalan hal-hal tersebut dengan mengorbankan
kesehatan mental kita? Yang belum tentu penyembuhannya selesai dalam 1 hari
atau 1 tahun.
Lantas apa yang harus kita kendalikan?
Kita perlu tahu kalau
sosial media itu adalah sebuah panggung sandiwara. Tidak semua kehidupan yang ditampilkan benar-benar mewah,
menarik, dan menyenangkan. Kita perlu sadar apa nilai kehidupan kita dan resiko
apa yang terjadi apabila kita memutuskan untuk bermain sosial media. Sebagai anak
muda seharusnya kita memahami dua hal itu terlebih dahulu sebelum memutuskan
terjun ke sosial media. So think about it first and think again and again.
Kita juga perlu tahu bahwa likes, retweet, love, comments dan reaksi orang lain dalam bentuk
apapun itu di sosial media bukan kita yang mengendalikan. Nadiem Makarim
melalui interviewnya bersama Deddy Corbuzier mengatakan bahwa reaksi di sosial
media hanya ada dua. Negatif dan positif. Nah, kita juga perlu sadar bahwa
tidak semua orang bisa memberikan komentar yang positif pasti adaaa aja yang
komentar negatif. Dan itu bukan urusan kita karena reaksi orang lain itu di
luar kendali kita. Apa yang menjadi urusan kita? Membagikan sesuatu karena
dirimu sendiri bukan karena orang lain. Misalnya berbagi resep nasi goreng ala kamu tanpa dipas-paskan sesuai standar netizen.
Pada akhirnya, ketika aku berhasil menjalankan eksperimen ini, orang-orang
yang benar-benar memiliki nilai di kehidupanku muncul. Tidak jarang aku
mengatakan, „Hey.. kangen nih.“ Padahal aku bukan orang yang gampang mengatakan
„aku kangen kamuuu“ atau „aku sayang kamu“ ke orang lain. Ternyata, eksperimen
ini mengajariku banyak hal dan salah satunya, aku bisa mengenali orang-orang
yang termasuk dalam nilai kehidupanku. Mereka yang membantuku di manapun aku
berada, mendukungku tanpa pamrih dan menyayangiku tanpa syarat.
Berpuasa sosial media juga
mengajariku untuk menyadari bahwa realita kehidupan tidak seindah unggahan di
sosial media. Kita perlu sadar kalau pada kenyataannya kita memang masih belum
kaya, belum punya penghasilan yang stabil, belum memiliki pekerjaan dan masih
memiliki masalah terhadap diri sendiri (mungkin). Selama kuartal awal tahun
2020 aku berusaha mengenali jati diriku, apa saja hobi yang ku suka dan
permasalahan apa yang terjadi di dalam diriku selama ini. Dan akhirnya setelah
berulang-ulang kali memikirkannya, aku bisa menemukan permasalahan utamaku dan
aku memutuskan bertemu psikolog daripada harus mengungkapkannya di sosial
media. Hayoo ada yang suka curhat di sosial media gak nih? Mulai sekarang
berhenti ya, karena itu tidak menyehatkan bagi kamu yang menulis bahkan bagi
pembaca.
Semakin berpuasa semakin mengenal diri sendiri. Semakin
berkurang perasaan insecure, cemas
dan susah fokus. Aku semakin nyaman dengan kehidupan nyata daripada kehidupan
maya. Apa yang seharusnya dilupakan dan menjadi kenangan, bairlah di sana tetap
di tempatnya. Apa yang dibutuhkan maka dikejar dan fokus untuk terus mengejarnya. Jangan pernah
buang rasa bosan dengan bermain sosial media, tapi isi lah dengan kegiatan
menyenangkan lainnya. Entah itu bernyanyi, menari, mengisi buku harian, bertemu
dengan teman, ikut komunitas baru dan masih banyak lagi. Aku juga semakin yakin
kalau dunia ini luas dan apapun bisa diraih asalkan kita mau berusaha. Nah, kalau aku bisa melakukannya. Kamu pasti lebih
mampu, jadi apakah kamu siap hidup tanpa sosial media?

Comments
Post a Comment