Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

Di Balik Topeng

Hai teman-teman! Kenalkan aku seorang perempuan yang selalu terlihat bahagia, selalu tersenyum dan selalu sabar. Teman-teman ku mengatakan demikian. Banyak orang melihatku sebagai perempuan yang kuat, ramah dan sabar. Usiaku kini sembilan belas tahun. Wajahku yang chubby terkadang menipu beberapa orang. Sebagian mengatakan bahwa aku masih smp ada juga yang mengatakan aku sudah dewasa jadi mereka memanggilku “Ibu”.
Melalui tulisan ini aku ingin menceritakan siapa diriku sebenarnya. Butuh waktu yang lama menuliskan kisahku ini. Bukan karena prosesnya yang rumit, melainkan kekuatan mental yang masih menghantuiku. Oleh karena itu, butuh persiapan yang matang untuk menulis cerita ini. Sebelumnya aku tidak pernah membagikan kisahku ini, bahkan kepada kedua orang tua ku. Kisahku ini tersimpan rapi di dalam lubuk hatiku yang terdalam, hanya Allah Swt, aku serta pihak-pihak yang tahu yang terlibat dalam cerita ini. Jadi beginilah kisahku dimulai…
Sebagai manusia tentu terlahir memiliki hati, meskipun kita tidak pernah tahu bagaimana isi hati setiap manusia. Selama bertahun-tahun menjaga diri sendiri serta hati ini, aku tidak menyangka perjalanan ini membawa ku untuk mengerti banyak hal. Melelahkan memang, namun aku yakin bahwa semua ini adalah proses dari pendewasaan. Usiaku saat ini sangat berkebalikan 180° derajat dengan penampilanku yang terkesan masih muda. Di usia ini lah aku mulai berharap-harap cemas. Aku takut menghadapi diriku di usi yang akan datang, terlebih masalah cinta.
Aku bukanlah ahli dalam permasalahan cinta. Aku juga bukan orang yang sering mendapatkan cinta, melainkan aku berusaha memberikan cinta kepada semua orang. Sayangnya, caraku terkadang dianggap sesuatu yang terlalu romantis sehingga menimbulkan sedikit kesalah pahaman. Mendengar dari cerita kakak-kakak ku dan melihat bagaimana keadaan sosial di lingkungan ku, membuatku semakin pesimis. Apalagi ketika kejadian hari itu menyelinap masuk tanpa permisi, aku semakin ragu bahwa aku berhak mendapatkan cinta. Cinta dari seseorang yang ku cinta. Cinta yang suci hingga maut datang memisahkan kami. Bisa kah aku menikah? Apakah aku berhak mendapatkannya? Perhaps.
Untuk sekian lama, aku menghabiskan waktu di depan televisi. Aku sedang asyik melihat berita, banyak sekali berita-berita terkini yang ditayangkan. Salah satunya yang menarik perhatianku adalah berita pelecehan seksual yang didapatkan oleh anak-anak. Miris aku melihatnya, sedih sekali melihat mereka diperlakukan tidak senonoh dengan lelaki yang ingin meluapkan bara nafsunya sesaat. Aku diam termenung, lalu sekelibat pertanyaan menghampiriku. “Pernahkah aku mendapat pelecehan seksual?” Aku berpikir cukup lama mengingat kejadian demi kejadian dalam hidupku. Aku menghela nafas lalu tersenyum, “Alham- Astagfirullah!”.
Wajahku pucat pasi, kedua tanganku berkeringat, mata ku memandang televisi namun kepalaku tiba-tiba mengingat kejadian yang seharusnya tidak perlu ku ingat. Seharusnya itu sudah terkubur dalam, seharusnya itu sudah hilang, seharusnya… seharusnya itu… tidak pernah terjadi… tubuhku merinding, perasaan takut menyergapku, mendekap lebih dalam. Nafasku tertahan, aku masih tidak percaya bahwa aku… aku…. Pernah mengalaminya.
Sejak aku mengingat kejadian itu, aku menutup seluruh tubuhku. Aku mulai menutup kepalaku, memakai pakaian yang lebih panjang dan sopan. Serta sebisa mungkin tidak memiliki hubungan dengan lawan jenis. Menghindar bila perlu. Sejak saat itu aku menjadi lebih tertutup, aku tak mampu membuka diri kepada orang lain. Aku terlalu “kotor” bersanding dengan mereka, bahkan bersama sahabatku sendiri.
Aku masih ingat bagaimana hal itu terjadi dan tidak akan pernah ku lakukan. Semua itu terjadi karena adanya kesalahan edukasi yang aku dapatkan. Bayangkan seorang anak TK menonton sinetron di mana ada adegan dewasa yang tidak terekspos, namun dengan alur yang mudah dipahami logika, tidak susah bagiku untuk mengerti. Saat itu aku masih siswa TK, aku sedang libur jadi aku tinggal bersama tanteku. Kedua orang tua ku adalah pekerja yang taat dan disiplin tinggi. Bagi kami waktu itu emas, jadi kami akan datang lebih awal dari jam yang disetujui. Di rumah tanteku aku memiliki seorang teman laki-laki yang lebih tua beberapa tahun dariku. Kami dekat karena kami suka bermain bersama. Dia juga tinggal di rumah tante ku, namun dia bukan putra dari tanteku. Dia hanya belajar di kota ini. Pagi itu setelah bangun pagi, aku pergi keluar kamar. Aku bertemu dengannya, kami berbicara sebentar lalu semua itu terjadi begitu saja. Aku hanya diam saja, aku tidak tahu mengapa aku mengijinkan dia seenaknya saja menyentuh bagian yang bukan seharusnya dia sentuh dengan tangan telanjangnya. Dia memandangku sambil tertawa, aku hanya diam saja. Tidak lama kemudian, tante ku datang. Kami tertangkap basah. Ia menarikku, memarahi temanku dan menyuruhnya untuk pergi keluar rumah. Menyuruhnya bermain dengan anak lain. Aku masih diam terpaku. Hatiku berdegup seperti ada sesuatu yang salah. Saat itu aku tidak tahu mana yang benar dan salah. Aku hanya membiarkan itu terjadi begitu saja. Kini aku hanya bisa menangisi diriku sendiri. Disetiap sujudku, aku hanya berharap bahwa aku bisa membahagiakan orang lain. Aku ingin memberikan cinta kepada orang lain tanpa harap kembali. Karena aku tidak berhak mendapatkannya.
Sembilan belas tahun adalah ujung dari masa remajaku. Tahun depan aku akan menghadapi berbagai macam kehidupan dan bertemu dengan orang-orang yang baru. Traumaku tidak sekental dahulu kala, kini aku bisa mengontrol diriku sendiri. Sekuat apapun aku mengunci ingatanku, trauma pada masa-masa itu selalu datang menyelinap. Seperti ombak, ia datang menghantam pintu kenangan. Menyisakan duka yang mendalam.
Selama ini aku telah menjaga diriku sendiri, menjaga hati dan pikiranku, bertemu dengan orang-orang baru dan belajar bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan semua orang tanpa memandang gender dan status mereka. Biarkan kisahku menjadi rahasiaku, kalau memang hanya melalui kisah ini aku dapat berubah. Maafkan aku, maafkan aku, aku telah berbohong. Maafkan aku, aku terpaksa menggunakan topeng ini.
Setelah aku memutuskan berhijab, Allah Swt benar-benar menjagaku. Aku jarang sekali terlibat percintaan. Aku tidak pernah merasakan dihampiri laki-laki untuk berkenalan. Awalnya memang sangat susah, apalagi untuk istiqomah. Tapi, karena aku sudah bertekad. Aku yakin Allah Swt akan memberiku jalan. Sampai saat ini, tidak banyak laki-laki yang dengan lantang memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aku benar-benar bahagia merasakan kesendirianku. Kesendirianku mengajarkan banyak hal dan aku tak segan-segan mencari lebih dari itu. Aku menjadi pribadi yang tidak percaya akan cinta. Semua lelaki di dunia ini bullshit. Mereka hanya pintar memuja untuk mendapatkan hati para wanita. Mereka takkan segan-segan bersikap manis sesaat saja. Setelah mereka mendapatkan segala yang mereka inginkan, usai sudah semuanya. Sejak saat itu, susah bagiku membuka diri kepada laki-laki. It’s hard to trust them.
Waktu yang berputar bagaikan roda, membantuku menjawab segala keresahanku. Allah Swt dengan baik hati membuka mata ku. Ia menunjukkan kepadaku bahwa di dunia ini masih banyak laki-laki yang baik. Laki-laki yang ku harapkan, meskipun susah bagiku untuk menemukan. Aku belajar bahwa aku tidak akan menemukan laki-laki yang benar-benar sesuai dengan harapanku. Semua laki-laki di dunia ini memiliki sisi baik dan sisi buruk masing-masing. Tinggal bagaimana aku menjalaninya. Aku pun menyerahkan semua perihal cinta kepada Allah Swt. Allah Swt tahu lebih dari aku. Namun, kini aku terperangkap di alam pikirku. Bagaimana jika nanti seseorang datang mengadu cintanya kepadaku? Bagaimana jika ia tahu bahwa aku bukanlah seperti wanita lain, yang suci dan bersih? Apa yang harus ku katakan?
Matahari yang menemaniku selama sembilan belas tahun menjadi saksi bisu perjalananku. Sujudku merupakan perwujudan bahwa aku hanya manusia biasa. Aku ingin seperti wanita lainnya yang menghadapi hidup ini dengan tegar. Aku juga ingin hidup tanpa dibuntuti rasa takut, aku ingin.. Aku ingin terlahir kembali. Dan aku ingin merasakan cinta kembali. Cinta yang mampu membawa kita ke surga.
Begitulah kisah di balik topengku. Menangis dan menutup mata adalah cara bagiku untuk melalui dunia ini. Malu aku sungguh malu. Namun, aku ingin bangun. Aku ingin berdiri di damainya rerumputan dan segarnya hembusan angin. Aku ingin bebas. Mampukah aku melewatinya?

Comments