19.17 WIB
Beberapa hari yang lalu, aku menyempatkan diri menonton video di youtube dari sebuah program di korea namanya "Hello Counselor". Acara ini berisi tentang bagaimana cara menyelesaikan permasalahan narasumber. Nah, salah satu video yang aku tonton berjudul "Don't look for me!". Di video ini ada seorang remaja wanita berumur 19 tahun, sebut saja Si Manis. Dia datang ke acara ini karena dia ingin permasalahan dengan ayahnya terselesaikan dan ayahnya bisa berubah. Dia bercerita bahwa ayahnya ini terlalu over protektif, setiap 20 menit ayahnya akan menelponnya. "Kamu dimana?" "Kamu dengan siapa?" "Apa yang kamu lakukan sekarang?" "Kirimkan fotomu sekarang!" Hal itu membuat Si Manis merasa terganggu. Apalagi kalau dia sedang bermain dengan temannya, ia merasa kalau dia tidak bisa menikmati moment bermain bersama teman-temannya. Selain itu waktu bermainnya juga jadi berkurang, hal ini menimbulkan kesalah pahaman antara dia dan temannya. Teman-temannya mengira bahwa Si Manis tidak menyukainya karena selalu pulang terlebih dahulu, padahal mereka baru saja bermain selama 10 menit. Namun, lambat laun temannya bisa mengertinya. Si Manis juga mengatakan bahwa masa kecilnya yang membawa dia sampai saat ini. Kedua orang tuanya selalu bekerja, ia hanya di rumah bersama neneknya. Ia merasa neneknya bukan orang yang tepat untuk bisa diajak bermain. Jadi, ia merasa kesepian. Tetapi orang tuanya sebelum pergi kerja selalu memberinya uang 20,000 Won (300ribuan kalau rupiah). Dengan berani dia berbicara kepada orang tuanya, jika ia tidak membutuhkan uang itu, ia hanya membutuhkan kedua orang tuanya bermain bersama. Mendengarkan pernyataan si Manis ini ayahnya langsung marah dan melemparkan barang-barang di dekatnya. Bahkan televisi mereka sudah pernah rusak gara-gara ayahnya yang setiap kali marah selalu melempar barang-barang. Dengan kesal Si Manis mengatakan, "Dia menyuruhku untuk segera pulang, tapi dia tidak di rumah."
Hal yang aku suka dari video di atas adalah ketika salah satu MC yang sekaligus sebagai pihak yang membantu menyelesaikan permasalahan tersebut mengatakan "The power to withstand this though world. Children, who were loved the most have that power.
I still feel lost. My dad never ask me, "You know how I feel?" You think because you gave birth to your children, they automatically know that you love them? No. You have to express that love. And let them know. If dad can't do it, mom has to. "Dad loves you. I love you, too." My father dan mother never did that to me. They never did. I'm 50 years old now. Thats why my two sisters dan me have this strong bond. Because we have to endure this tough world. We learn to love each other. So that we can share that with others. Education isn't important. You must give love to your children. That's the only way those children have the power to survive in this world. What's the point of earning money? She doesn't feel like you love her. Who cares if mom loves her? She won't translate dad's love to her. She doesn't feel that love. I tell you because I can see how she feels. I've been feeling lost for 50 years because of it. "
Jujur setelah aku menonton acara ini, banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Ternyata cinta dan masa kecil adalah dua hal yang sangat penting dan memiliki andil terbesar dalam hidup ini. Cinta bisa menjadi salah satu unsur terbesar diri sendiri untuk meraih kesukses. Aku sering berkaca pada diriku sendiri "Sudahkah aku mengekspresikan perasan ini dengan benar?" "Sudahkah aku mencintai kedua orang tua ku dengan benar?" "Akankah nanti jika aku diberika kesempatanan membangun rumah tangga, anak-anak dan pendamping hidupku mendapat cinta yang cukup?"
Well, aku juga pernah berada di sisi kehilangan. "Benarkah kedua orang tuaku mencintaiku?" Sampai akhirnya aku menyadari bahwa setiap orang membutuhkan kejelasan. Cinta memang harus diekspresikan. Meskipun, setiap orang punya cara yang berbeda dalam mengekspresikan cinta. Bagiku mengekspresikan cinta itu melalui kata-kata. Tidak perlu semanis bualan lelaki, dengan kalimat yang sederhana saja aku sudah bahagia. Ungkapan itu meyakinkan diriku. Bahwa aku memiliki seseorang yang mencintaiku, memiliki seseorang yang tidak pernah meluluhkan semangatku, memiliki seseorang yang mau membantuku di kala suka maupun duka. Dan.... Ternyata aku tidak sendiri.
Kalau kamu?
Assalamualaikum guys!!
Alhamdulillah punya waktu sedikit untuk update. Sudah lama gak update jadi kadang bingung mau update apaan....
Oh iya, di postingan kali ini aku akan berbagi pemikiranku tentang CINTA. Langsung aja yuk!!
Beberapa hari yang lalu, aku menyempatkan diri menonton video di youtube dari sebuah program di korea namanya "Hello Counselor". Acara ini berisi tentang bagaimana cara menyelesaikan permasalahan narasumber. Nah, salah satu video yang aku tonton berjudul "Don't look for me!". Di video ini ada seorang remaja wanita berumur 19 tahun, sebut saja Si Manis. Dia datang ke acara ini karena dia ingin permasalahan dengan ayahnya terselesaikan dan ayahnya bisa berubah. Dia bercerita bahwa ayahnya ini terlalu over protektif, setiap 20 menit ayahnya akan menelponnya. "Kamu dimana?" "Kamu dengan siapa?" "Apa yang kamu lakukan sekarang?" "Kirimkan fotomu sekarang!" Hal itu membuat Si Manis merasa terganggu. Apalagi kalau dia sedang bermain dengan temannya, ia merasa kalau dia tidak bisa menikmati moment bermain bersama teman-temannya. Selain itu waktu bermainnya juga jadi berkurang, hal ini menimbulkan kesalah pahaman antara dia dan temannya. Teman-temannya mengira bahwa Si Manis tidak menyukainya karena selalu pulang terlebih dahulu, padahal mereka baru saja bermain selama 10 menit. Namun, lambat laun temannya bisa mengertinya. Si Manis juga mengatakan bahwa masa kecilnya yang membawa dia sampai saat ini. Kedua orang tuanya selalu bekerja, ia hanya di rumah bersama neneknya. Ia merasa neneknya bukan orang yang tepat untuk bisa diajak bermain. Jadi, ia merasa kesepian. Tetapi orang tuanya sebelum pergi kerja selalu memberinya uang 20,000 Won (300ribuan kalau rupiah). Dengan berani dia berbicara kepada orang tuanya, jika ia tidak membutuhkan uang itu, ia hanya membutuhkan kedua orang tuanya bermain bersama. Mendengarkan pernyataan si Manis ini ayahnya langsung marah dan melemparkan barang-barang di dekatnya. Bahkan televisi mereka sudah pernah rusak gara-gara ayahnya yang setiap kali marah selalu melempar barang-barang. Dengan kesal Si Manis mengatakan, "Dia menyuruhku untuk segera pulang, tapi dia tidak di rumah."
Hal yang aku suka dari video di atas adalah ketika salah satu MC yang sekaligus sebagai pihak yang membantu menyelesaikan permasalahan tersebut mengatakan "The power to withstand this though world. Children, who were loved the most have that power.
I still feel lost. My dad never ask me, "You know how I feel?" You think because you gave birth to your children, they automatically know that you love them? No. You have to express that love. And let them know. If dad can't do it, mom has to. "Dad loves you. I love you, too." My father dan mother never did that to me. They never did. I'm 50 years old now. Thats why my two sisters dan me have this strong bond. Because we have to endure this tough world. We learn to love each other. So that we can share that with others. Education isn't important. You must give love to your children. That's the only way those children have the power to survive in this world. What's the point of earning money? She doesn't feel like you love her. Who cares if mom loves her? She won't translate dad's love to her. She doesn't feel that love. I tell you because I can see how she feels. I've been feeling lost for 50 years because of it. "
Jujur setelah aku menonton acara ini, banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Ternyata cinta dan masa kecil adalah dua hal yang sangat penting dan memiliki andil terbesar dalam hidup ini. Cinta bisa menjadi salah satu unsur terbesar diri sendiri untuk meraih kesukses. Aku sering berkaca pada diriku sendiri "Sudahkah aku mengekspresikan perasan ini dengan benar?" "Sudahkah aku mencintai kedua orang tua ku dengan benar?" "Akankah nanti jika aku diberika kesempatanan membangun rumah tangga, anak-anak dan pendamping hidupku mendapat cinta yang cukup?"
Well, aku juga pernah berada di sisi kehilangan. "Benarkah kedua orang tuaku mencintaiku?" Sampai akhirnya aku menyadari bahwa setiap orang membutuhkan kejelasan. Cinta memang harus diekspresikan. Meskipun, setiap orang punya cara yang berbeda dalam mengekspresikan cinta. Bagiku mengekspresikan cinta itu melalui kata-kata. Tidak perlu semanis bualan lelaki, dengan kalimat yang sederhana saja aku sudah bahagia. Ungkapan itu meyakinkan diriku. Bahwa aku memiliki seseorang yang mencintaiku, memiliki seseorang yang tidak pernah meluluhkan semangatku, memiliki seseorang yang mau membantuku di kala suka maupun duka. Dan.... Ternyata aku tidak sendiri.
Kalau kamu?
Comments
Post a Comment