Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

PENAKUT #2




It’s getting darker. Her eyes closed and everything become dark. Without lamp, she walk to find herself. Because she lost here.



            Waktu berlalu hingga Si Gadis tumbuh menjadi wanita dewasa. Ia sekarang adalah seorang mahasiswa. Ia kini berbeda dari dahulu, dia menjadi wanita yang tertutup. Ia sering sekali berjalan sambil menunduk dan menjauhi keramaian. Ia tidak ingin dikenal orang lain, bahkan menjadi terkenal. Dia membenci dirinya sendiri, tat kala dosen-dosen mengingat namanya apalagi melabeli sebagai “Mahasiswa Pintar” atau “mahasiswa kesayangan” dan masih banyak lagi. Ia sering mengurung dirinya di kamar, menghabiskan waktu di dalam kamar tanpa berinteraksi dengan orang lain. Wajahnya muram, ia jarang berbicara dan berbicara seperlunya saja. Semakin hari dia menjadi semakin ragu terhadap masa depannya. Ia meragukan mimpi-mimpinya, apakah mimpi itu masih mengendap atau sudah berlalu? Kini, setiap harinya dia hanya merutuki dirinya sendiri.

            Si Gadis menjadi wanita yang penuh dengan pikiran negatif. Hari-harinya penuh dengan kesedihan dan perasaan ingin mengakhiri hidupnya. Apa yang bisa ia lakukan? Ia tak mampu untuk tampil seperti sedia kala. Ia jatuh ke dalam laut hitam nan pekat dan tak menemukan setitik cahaya yang membantunya untuk kembali hidup. Kembali berharap menjadi seperti dahulu kala. Dia tersesat dan tak ada tangan yang menggapainya.

            Ingin rasanya waktu berputar merasakan indahnya masa kecil. Tapi, setelah masa kecil itu berakhir, ia akan kembali bertemu Ibu Guru. Dia benci, tidak suka dan tak akan pernah mau bertemu lagi. Tidak, Si Gadis tak ingin memutar waktu. Lalu, bagaimana ia bisa kembali? Bercerita dan berdoa saja tidak cukup. Dia sendiri, tak ada yang menemani. Kehidupannya tak seindah mentari di pagi hari. Setiap kali ada tantangan menghampiri, ia enggan melakukannya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia bingung, tak mengerti mengapa hidupnya seperti ini.

            Hari itu, tak ada angin tak ada hujan. Ia bersimpuh kepada Yang Maha Kuasa. Ia tak bersuara, hatinya sedang berdialog dengan Sang Pencipta. Tak lama kemudian, mulutnya terbuka dan matanya berlinang air mata. Ia mengadu lelah pada-Nya. Air mata itu kian deras, sehingga tubuhnya tergoncang kuat. Ia bersujud dan menangis. Entah, apa yang membuatnya seperti ini. Tapi, di hari itu dia sadar. Tak seharusnya dia menyalahkan Tuhan, lebih baik meminta petunjuk dan selalu berpikir positif kepada-Nya. Dengan perasaan yang berat dan air mata yang tak henti menguras tenaga. Ia belajar setiap detiknya, ia belajar untuk mensyukuri apapun yang terjadi di dunia ini. Bahkan pada keburukan yang menimpanya sekalipun. Dia percaya bahwa nanti atau hari esok akan lebih melelahkan dari hari ini. Tak seharusnya dia menyerah sebelum matahari terbenam. Tak seharusnya ia mengakhiri hidupnya sesegera mungkin, karena masih banyak yang harus ia lakukan sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Today, she is walking in this corridor step by step calmly. She learns with her eyes, nose, hands dan her ears. Nothing is perfect, nothing last forever. Everything that happened in the past is her. And she will be her in the future. We can’t change other people thoughts, but we can change ourself. Now, all she wants is freedom.

-the end-

Comments

Post a Comment