It’s getting darker. Her eyes closed and
everything become dark. Without lamp, she walk to find herself. Because she lost here.
Waktu berlalu hingga Si Gadis tumbuh menjadi wanita
dewasa. Ia sekarang adalah seorang mahasiswa. Ia kini berbeda dari dahulu, dia
menjadi wanita yang tertutup. Ia sering sekali berjalan sambil menunduk dan menjauhi
keramaian. Ia tidak ingin dikenal orang lain, bahkan menjadi terkenal. Dia membenci
dirinya sendiri, tat kala dosen-dosen mengingat namanya apalagi melabeli
sebagai “Mahasiswa
Pintar” atau “mahasiswa kesayangan” dan masih banyak lagi. Ia sering mengurung
dirinya di kamar, menghabiskan waktu di dalam kamar tanpa berinteraksi dengan
orang lain. Wajahnya muram, ia jarang berbicara dan berbicara seperlunya saja. Semakin
hari dia menjadi semakin ragu terhadap masa depannya. Ia meragukan
mimpi-mimpinya, apakah mimpi itu masih mengendap atau sudah berlalu? Kini,
setiap harinya dia hanya merutuki dirinya sendiri.
Si Gadis menjadi wanita
yang penuh dengan pikiran negatif. Hari-harinya penuh dengan kesedihan dan
perasaan ingin mengakhiri hidupnya. Apa yang bisa ia lakukan? Ia tak mampu
untuk tampil seperti sedia kala. Ia jatuh ke dalam laut hitam nan pekat dan tak
menemukan setitik cahaya yang membantunya untuk kembali hidup. Kembali berharap
menjadi seperti dahulu kala. Dia tersesat dan tak ada tangan yang menggapainya.
Ingin rasanya waktu
berputar merasakan indahnya masa kecil. Tapi, setelah masa kecil itu berakhir,
ia akan kembali bertemu Ibu Guru. Dia benci, tidak suka dan tak akan pernah mau
bertemu lagi. Tidak, Si Gadis tak ingin memutar waktu. Lalu, bagaimana ia bisa
kembali? Bercerita dan berdoa saja tidak cukup. Dia sendiri, tak ada yang
menemani. Kehidupannya tak seindah mentari di pagi hari. Setiap kali ada
tantangan menghampiri, ia enggan melakukannya. Ia tak tahu apa yang harus ia
lakukan. Ia bingung, tak mengerti mengapa hidupnya seperti ini.
Hari itu, tak ada angin
tak ada hujan. Ia bersimpuh kepada Yang Maha Kuasa. Ia tak bersuara, hatinya
sedang berdialog dengan Sang Pencipta. Tak lama kemudian, mulutnya terbuka dan
matanya berlinang air mata. Ia mengadu lelah pada-Nya. Air mata itu kian deras,
sehingga tubuhnya tergoncang kuat. Ia bersujud dan menangis. Entah, apa yang
membuatnya seperti ini. Tapi, di hari itu dia sadar. Tak seharusnya dia menyalahkan
Tuhan, lebih baik meminta petunjuk dan selalu berpikir positif kepada-Nya. Dengan
perasaan yang berat dan air mata yang tak henti menguras tenaga. Ia belajar
setiap detiknya, ia belajar untuk mensyukuri apapun yang terjadi di dunia ini. Bahkan
pada keburukan yang menimpanya sekalipun. Dia percaya bahwa nanti atau hari
esok akan lebih melelahkan dari hari ini. Tak seharusnya dia menyerah sebelum
matahari terbenam. Tak seharusnya ia mengakhiri hidupnya sesegera mungkin,
karena masih banyak yang harus ia lakukan sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Today, she is walking in this
corridor step by step calmly. She learns with her eyes, nose, hands dan her
ears. Nothing is perfect, nothing last forever. Everything that happened in the
past is her. And she will be her in the future. We can’t change other people
thoughts, but we can change ourself. Now, all she wants is freedom.
-the
end-

Thx infonya gan
ReplyDeleteiya gan
Delete