Dreaming
is something easy for human. But, we never know how long does
this dream run.
Seorang
anak perempuan lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Hidupnya tidak
bergelimang harta juga tidak kekurangan harta, tetapi berkecukupan. Ia gadis
yang cantik, baik, periang, pintar dan penurut. Masa kecilnya sangat indah dan
tentunya menyenangkan. Dia selalu berprestasi sejak kecil. Kedua orang tuanya
adalah orang yang berpendidikan, mereka sangat bangga dan menyayangi putrinya. Ayah
dan Ibunya selalu mengajarkannya menjadi orang yang berani dalam mengambil
tantangan, tidak mengenal rasa takut. Ayahnya adalah orang yang tegas dan tidak
pernah membatasi mimpi anaknya. Dia selalu memberikan contoh untuk bermimpi
besar, meskipun mimpinya terlihat tidak mungkin bagi orang-orang seperti mereka. Ibu adalah orang yang lemah
lembut, selalu menjadi orang pertama tempat si gadis bercerita. Entah tentang
nilainya yang jelek dan tak mau dibagikan kepada ayahnya, entah tentang makanan
kesukaannya, ayam goreng, entah tentang
kekasih
kakaknya dan masih banyak lagi.
Semua masa lalu itu sangat indah. Masa kecilnya membuat
ia tumbuh menjadi sosok yang membanggakan keluarga dan lingkungannya. Tetangga,
guru bahkan saudaranya mengakui kepandaiannya. Suatu hari, ia bertemu dengan
seseorang yang sangat dekat dengan mimpinya, ia adalah Ibu Guru. Si gadis memiliki mimpi yang besar yaitu
menjadi traveller. Ia ingin
mengelilingi dunia yang diciptakan oleh-Nya. Keluarga merestui mimpinya,
apalagi Ibu yang memberikan dukungan nyata kepadanya. Dia semakin bersemangat
mencapai mimpi itu. Meski ada saja perasaan yang berbisik, “Mana mungkin gadis desa sepertimu bisa ke negara itu!”
Tapi, bisikan itu tidak mengecilkan mimpinya. Keinginannya yang kuat, serta ia
yang akhirnya jatuh cinta dengan bahasa nasional negara itu membuatnya semakin
giat berlatih. Ia sadar bahwa perjalanannya tidak mudah, ia harus belajar giat.
Ketika ada ujian kemampuan berbahasa asing, ia harus mendapatkan peringkat 1
atau 2. Karena hanya dengan begitu ia bisa pergi ke luar negeri, tanpa harus
membebani orang tuanya tentang biaya yang tidak murah. Hatinya berdesir, ia
belum pernah mendapatkan peringkat 1 atau 2 selain di kelas satu dan dua SD. Sayangnya,
rasa takut itu cepat sekali sirna dan kembali bersemangat untuk belajar lebih
giat.
Hari-hari berlalu, matahari terbit
dan kembali ke peraduan, lalu terbit lagi dan tenggelam lagi. Selama itu juga,
si gadis terus bersemangat belajar. Hingga tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Ujian
kemampuan berbahasa asing. Dari pagi mulutnya tak berhenti komat kamit membaca
doa dan sholawat, sampai soal itu ada di hadapannya. Setelah cukup berdoa, dia
mulai mengerjakan soal-soal itu amat sangat hati-hati dan teliti. Tingkat fokusnya
bertambah 10x lipat. Setelah ujian selesai, ia kembali berdoa. Ia berharap
doanya melayang di dengarkan malaikat, di-amini lalu, disampaikan kepada Tuhan.
Beberapa bulan kemudian, Ibu Lena,
guru bahasa Jerman yang baik hati, membagikan hasil ujian. Si gadis memegang
kertas hasil ujian dengan cemas dan tentunya memanjatkan doa terlebih dahulu
sebelum membukanya. Ia berniat, apabila nilainya bagus ia akan sujud syukur. Sebagai
tanda syukurnya pada Tuhan, meskipun ia tidak tahu lafadz sujud syukur bagaimana.
Kalau nilainya tidak bagus, jangan menangis. Dag dig dug jantungnya berdegup. Dia
membuka pelan kertasnya, setelah itu langsung sujud syukur. Nilainya sangat
bagus, meskipun tidak sempurna. Dia bangga sekali, kepalanya sudah melayang
membayangkan menapak di tanah Jerman. Dia membayangkan betapa indahnya negara
itu, matanya berbinar-binar tatkala ia membayangkan bisa berbicara dengan
bule-bule jerman itu. Senyumnya merekah, membayangkan hidup di antara bangunan
yang artistik, gedung yang bersih dan modern. Sungguh menyenangkan, seperti
surgaaa.
Pada jam istirahat, si gadis bermain
bersama teman-teman yang lainnya. Lalu ia bertemu Ibu Guru, yang dekat dengan
mimpinya. Ini Ibu Guru yang lain, bukan Ibu Lena. Ketika berpapasan, Ibu Guru
mengatakan, bahwa yang pergi ke Jerman adalah anak-anak yang sudah memiliki
sertifikat A2. Sedangkan si gadis masih A1. Matanya memerah, basah. Kakinya lemas
dan wajahnya sayu. Ia sedih sekali siang itu, tapi ia menahan perasaan itu. Ia tidak
ingin menangis di depan Ibu Guru maupun teman-teman yang lain. Lalu hatinya
berbisik, “Masih bisa tahun depan!” Namun, hati juga berbisik, “Yaa... kalau
kamu berhasil.”
Kesedihan itu menjadi tombaknya
untuk tetap bangun. Ia kembali bersemangat dengan mimpi yang sedikit lebih
dekat dengannya. Ia yakin, “Pasti aku yang berangkat tahun depan!” Hari-harinya
ia lewati dengan doa-doa yang tak luput untuk dipanjatkan kepada Tuhan. “Ya
Tuhan, aku ingin keliling dunia! Aku ingin ke Jerman, habis itu ke negara lain!
Aamiin.” Semua kegiatan yang dirasa sejalur dengan mimpinya, ia lakukan tanpa
pamrih. Ia mengusahakan yang terbaik.
Suatu hari, ia mendapat tawaran dari
Ibu Guru untuk mengikuti lomba Olimpiade Bahasa Jerman. Si gadis sangat senang
mendengar tawaran itu, ia bersemangat sekali. Ia memulainya dengan semangat
yang meledak-ledak. Ia juga tak lupa bercerita kepada kedua orang tuanya. Orang
tuanya hanya menanggapi seadanya, karena mereka terlalu sibuk dengan kegiatan
masing-masing. Ia kembali ke kamar dengan perasaan yang sedikit sedih, namun
kembali belajar mengingat mimpinya yang sedikit lagi akan tercapai.
Ternyata semangat tinggi Si Gadis berhasil menarik hati Ibu Guru. Ibu Guru mengatakan bahwa Si Gadis
akan bersaing mewakili sekolahnya bersama Melati di lomba nanti. Ia memulai
belajar intensif dengan Ibu Guru dan Melati. Semua terlihat baik-baik saja pada
awalnya, namun Si Gadis terlihat murung di hari-hari selanjutnya. Semangat
tingginya semakin hari menyusut seperti es yang semakin leleh. Dari hari ke
hari, ia berjalan menunduk dan banyak diam, tidak seaktif biasanya. Semangat dalam
dirinya sudah luntur dan Si Gadis susah untuk dimotivasi. Materi olimpiade yang
semakin susah, pembahasan Ibu Guru yang terlalu cepat, selain itu Ibu Guru
sering membeda-bedakan dengan Melati. Ibu Guru ternyata lebih senang mengajar
Melati, karena lebih pintar daripada Si Gadis. Si Gadis sudah berusaha
mati-matian menunjukkan bahwa dia juga bisa. Tapi, Ibu Guru tidak pernah
tersenyum dengan hasilnya. Ibu Guru selalu muram dengan pencapaian Si Gadis. Satu
kalimat saja yang keluar dari mulut Si Gadis, Ibu Guru enggan bertatap muka
dengannya. Si Gadis semakin sedih dan merasa tersingkirkan. Ia hanya bisa
menyalahkan dirinya sendiri yang tidak sepandai dan sebaik Melati. Ia meratapi
dirinya sendiri yang tidak becus. Ia marah kepada dirinya sendiri, sehingga
semangatnya menghilang. Dan timbulah rasa benci terhadap bahasa Jerman.
Teman-teman sekelasnya tidak ada
yang mengerti keadaannya. Mereka lebih senang memanggil Si Gadis dengan sebutan
anak “ABK” karena Si Gadis adalah murid kesayangan Ibu Guru di kelasnya. Tapi,
dalam hati Si Gadis ia bukanlah anak kesayangannya. Ia hanya anak yang bodoh. Si
Gadis hanya memendam perasaan itu, tak diceritakan kepada siapapun. Di saat
seperti ini Si Gadis ingin sekali ada orang yang datang padanya lalu berkata, “Bagaimana
hari ini?” atau “Apakah kamu baik-baik saja? Ada yang ingin diceritakan?”
Sayang, dunia ini tidak mengizinkan imajinasi itu menjadi nyata.
Semakin mendekati hari lomba,
frekuensi bertemu dengan Ibu Guru menjadi semakin sering. Si Gadis tidak benci
kepada Melati, dia hanya merasa tersingkirkan jika melihat Melati. Dia takut
sekali, apalagi Ibu Guru dengan terang-terangan lebih menyukai Melati dari
caranya mengajari materi lomba. Si Gadis membenci Ibu Guru dan Bahasa Jerman. Wajahnya
hanya bisa ditekuk, setiap kali bertemu Ibu Guru, Melati dan orang-orang yang
lain.
Tibalah hari lomba. Ia berjalan
gontai ke sekolah. Bahkan saat di tempat lomba pikirannya melayang. Raganya di
sini, namun jiwanya tidak. Ia mengerjakan soal sebisa mungkin sambil menggerutu
dalam hati, “Ya Tuhan, mengapa kau izinkan aku bangun hari ini? Mengapa tak kau
kabulkan saja doaku semalam? Mengapa? Sebenarnya Kau ini ada atau tidak? Apa Kau
mendengarkanku?”
Hari itu, ia kembali berpikir “Apa
yang harus ku lakukan nanti?” Ia tahu bahwa ia tidak akan membawa kemenangan
itu ke rumah. Lambat laun ia mendengar Ibu Guru tidak mempedulikan usaha dan
keinginan muridnya. Ia hanya ingin kemenangannya saja. Si Gadis kembali
berpikir, “Seandainya Tuhan mengabulkan doaku semalam, aku tidak usah
repot-repot mengarang alasan mengapa aku tidak menang!”
Karena pada malam itu, Si Gadis
berdoa, “Ya Tuhan, aku lelah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku ini bodoh dan
tidak layak untuk hidup di dunia ini. Aku hanya ingin tidur selamanya, tidak
usah bangun di hari esok.”
.
.
.
Human is powerful, we can kill other people with our
mouth, gesture or attitude, not only our dreams but also our life are killed.
-to be continue-

this should be your favorite theme to share. keep strong
ReplyDeleteThank You... I hope I can write something more than this. :)
Delete