Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

PENAKUT #1


Dreaming is something easy for human. But, we never know how long does this dream run.


            Seorang anak perempuan lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Hidupnya tidak bergelimang harta juga tidak kekurangan harta, tetapi berkecukupan. Ia gadis yang cantik, baik, periang, pintar dan penurut. Masa kecilnya sangat indah dan tentunya menyenangkan. Dia selalu berprestasi sejak kecil. Kedua orang tuanya adalah orang yang berpendidikan, mereka sangat bangga dan menyayangi putrinya. Ayah dan Ibunya selalu mengajarkannya menjadi orang yang berani dalam mengambil tantangan, tidak mengenal rasa takut. Ayahnya adalah orang yang tegas dan tidak pernah membatasi mimpi anaknya. Dia selalu memberikan contoh untuk bermimpi besar, meskipun mimpinya terlihat tidak mungkin bagi orang-orang seperti mereka. Ibu adalah orang yang lemah lembut, selalu menjadi orang pertama tempat si gadis bercerita. Entah tentang nilainya yang jelek dan tak mau dibagikan kepada ayahnya, entah tentang makanan kesukaannya, ayam goreng, entah tentang kekasih kakaknya dan masih banyak lagi.

            Semua masa lalu itu sangat indah. Masa kecilnya membuat ia tumbuh menjadi sosok yang membanggakan keluarga dan lingkungannya. Tetangga, guru bahkan saudaranya mengakui kepandaiannya. Suatu hari, ia bertemu dengan seseorang yang sangat dekat dengan mimpinya, ia adalah Ibu Guru.  Si gadis memiliki mimpi yang besar yaitu menjadi traveller. Ia ingin mengelilingi dunia yang diciptakan oleh-Nya. Keluarga merestui mimpinya, apalagi Ibu yang memberikan dukungan nyata kepadanya. Dia semakin bersemangat mencapai mimpi itu. Meski ada saja perasaan yang berbisik, “Mana mungkin gadis desa sepertimu bisa ke negara itu!” Tapi, bisikan itu tidak mengecilkan mimpinya. Keinginannya yang kuat, serta ia yang akhirnya jatuh cinta dengan bahasa nasional negara itu membuatnya semakin giat berlatih. Ia sadar bahwa perjalanannya tidak mudah, ia harus belajar giat. Ketika ada ujian kemampuan berbahasa asing, ia harus mendapatkan peringkat 1 atau 2. Karena hanya dengan begitu ia bisa pergi ke luar negeri, tanpa harus membebani orang tuanya tentang biaya yang tidak murah. Hatinya berdesir, ia belum pernah mendapatkan peringkat 1 atau 2 selain di kelas satu dan dua SD. Sayangnya, rasa takut itu cepat sekali sirna dan kembali bersemangat untuk belajar lebih giat.

            Hari-hari berlalu, matahari terbit dan kembali ke peraduan, lalu terbit lagi dan tenggelam lagi. Selama itu juga, si gadis terus bersemangat belajar. Hingga tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Ujian kemampuan berbahasa asing. Dari pagi mulutnya tak berhenti komat kamit membaca doa dan sholawat, sampai soal itu ada di hadapannya. Setelah cukup berdoa, dia mulai mengerjakan soal-soal itu amat sangat hati-hati dan teliti. Tingkat fokusnya bertambah 10x lipat. Setelah ujian selesai, ia kembali berdoa. Ia berharap doanya melayang di dengarkan malaikat, di-amini lalu, disampaikan kepada Tuhan.

            Beberapa bulan kemudian, Ibu Lena, guru bahasa Jerman yang baik hati, membagikan hasil ujian. Si gadis memegang kertas hasil ujian dengan cemas dan tentunya memanjatkan doa terlebih dahulu sebelum membukanya. Ia berniat, apabila nilainya bagus ia akan sujud syukur. Sebagai tanda syukurnya pada Tuhan, meskipun ia tidak tahu lafadz sujud syukur bagaimana. Kalau nilainya tidak bagus, jangan menangis. Dag dig dug jantungnya berdegup. Dia membuka pelan kertasnya, setelah itu langsung sujud syukur. Nilainya sangat bagus, meskipun tidak sempurna. Dia bangga sekali, kepalanya sudah melayang membayangkan menapak di tanah Jerman. Dia membayangkan betapa indahnya negara itu, matanya berbinar-binar tatkala ia membayangkan bisa berbicara dengan bule-bule jerman itu. Senyumnya merekah, membayangkan hidup di antara bangunan yang artistik, gedung yang bersih dan modern. Sungguh menyenangkan, seperti surgaaa.

            Pada jam istirahat, si gadis bermain bersama teman-teman yang lainnya. Lalu ia bertemu Ibu Guru, yang dekat dengan mimpinya. Ini Ibu Guru yang lain, bukan Ibu Lena. Ketika berpapasan, Ibu Guru mengatakan, bahwa yang pergi ke Jerman adalah anak-anak yang sudah memiliki sertifikat A2. Sedangkan si gadis masih A1. Matanya memerah, basah. Kakinya lemas dan wajahnya sayu. Ia sedih sekali siang itu, tapi ia menahan perasaan itu. Ia tidak ingin menangis di depan Ibu Guru maupun teman-teman yang lain. Lalu hatinya berbisik, “Masih bisa tahun depan!” Namun, hati juga berbisik, “Yaa... kalau kamu berhasil.”

            Kesedihan itu menjadi tombaknya untuk tetap bangun. Ia kembali bersemangat dengan mimpi yang sedikit lebih dekat dengannya. Ia yakin, “Pasti aku yang berangkat tahun depan!” Hari-harinya ia lewati dengan doa-doa yang tak luput untuk dipanjatkan kepada Tuhan. “Ya Tuhan, aku ingin keliling dunia! Aku ingin ke Jerman, habis itu ke negara lain! Aamiin.” Semua kegiatan yang dirasa sejalur dengan mimpinya, ia lakukan tanpa pamrih. Ia mengusahakan yang terbaik.

            Suatu hari, ia mendapat tawaran dari Ibu Guru untuk mengikuti lomba Olimpiade Bahasa Jerman. Si gadis sangat senang mendengar tawaran itu, ia bersemangat sekali. Ia memulainya dengan semangat yang meledak-ledak. Ia juga tak lupa bercerita kepada kedua orang tuanya. Orang tuanya hanya menanggapi seadanya, karena mereka terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ia kembali ke kamar dengan perasaan yang sedikit sedih, namun kembali belajar mengingat mimpinya yang sedikit lagi akan tercapai.

            Ternyata semangat tinggi Si Gadis berhasil menarik hati Ibu Guru. Ibu Guru mengatakan bahwa Si Gadis akan bersaing mewakili sekolahnya bersama Melati di lomba nanti. Ia memulai belajar intensif dengan Ibu Guru dan Melati. Semua terlihat baik-baik saja pada awalnya, namun Si Gadis terlihat murung di hari-hari selanjutnya. Semangat tingginya semakin hari menyusut seperti es yang semakin leleh. Dari hari ke hari, ia berjalan menunduk dan banyak diam, tidak seaktif biasanya. Semangat dalam dirinya sudah luntur dan Si Gadis susah untuk dimotivasi. Materi olimpiade yang semakin susah, pembahasan Ibu Guru yang terlalu cepat, selain itu Ibu Guru sering membeda-bedakan dengan Melati. Ibu Guru ternyata lebih senang mengajar Melati, karena lebih pintar daripada Si Gadis. Si Gadis sudah berusaha mati-matian menunjukkan bahwa dia juga bisa. Tapi, Ibu Guru tidak pernah tersenyum dengan hasilnya. Ibu Guru selalu muram dengan pencapaian Si Gadis. Satu kalimat saja yang keluar dari mulut Si Gadis, Ibu Guru enggan bertatap muka dengannya. Si Gadis semakin sedih dan merasa tersingkirkan. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tidak sepandai dan sebaik Melati. Ia meratapi dirinya sendiri yang tidak becus. Ia marah kepada dirinya sendiri, sehingga semangatnya menghilang. Dan timbulah rasa benci terhadap bahasa Jerman.

            Teman-teman sekelasnya tidak ada yang mengerti keadaannya. Mereka lebih senang memanggil Si Gadis dengan sebutan anak “ABK” karena Si Gadis adalah murid kesayangan Ibu Guru di kelasnya. Tapi, dalam hati Si Gadis ia bukanlah anak kesayangannya. Ia hanya anak yang bodoh. Si Gadis hanya memendam perasaan itu, tak diceritakan kepada siapapun. Di saat seperti ini Si Gadis ingin sekali ada orang yang datang padanya lalu berkata, “Bagaimana hari ini?” atau “Apakah kamu baik-baik saja? Ada yang ingin diceritakan?” Sayang, dunia ini tidak mengizinkan imajinasi itu menjadi nyata.

            Semakin mendekati hari lomba, frekuensi bertemu dengan Ibu Guru menjadi semakin sering. Si Gadis tidak benci kepada Melati, dia hanya merasa tersingkirkan jika melihat Melati. Dia takut sekali, apalagi Ibu Guru dengan terang-terangan lebih menyukai Melati dari caranya mengajari materi lomba. Si Gadis membenci Ibu Guru dan Bahasa Jerman. Wajahnya hanya bisa ditekuk, setiap kali bertemu Ibu Guru, Melati dan orang-orang yang lain.

            Tibalah hari lomba. Ia berjalan gontai ke sekolah. Bahkan saat di tempat lomba pikirannya melayang. Raganya di sini, namun jiwanya tidak. Ia mengerjakan soal sebisa mungkin sambil menggerutu dalam hati, “Ya Tuhan, mengapa kau izinkan aku bangun hari ini? Mengapa tak kau kabulkan saja doaku semalam? Mengapa? Sebenarnya Kau ini ada atau tidak? Apa Kau mendengarkanku?”

            Hari itu, ia kembali berpikir “Apa yang harus ku lakukan nanti?” Ia tahu bahwa ia tidak akan membawa kemenangan itu ke rumah. Lambat laun ia mendengar Ibu Guru tidak mempedulikan usaha dan keinginan muridnya. Ia hanya ingin kemenangannya saja. Si Gadis kembali berpikir, “Seandainya Tuhan mengabulkan doaku semalam, aku tidak usah repot-repot mengarang alasan mengapa aku tidak menang!”

            Karena pada malam itu, Si Gadis berdoa, “Ya Tuhan, aku lelah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku ini bodoh dan tidak layak untuk hidup di dunia ini. Aku hanya ingin tidur selamanya, tidak usah bangun di hari esok.”
.
.
.
Human is powerful, we can kill other people with our mouth, gesture or attitude, not only our dreams but also our life are killed.

-to be continue-

Comments

  1. this should be your favorite theme to share. keep strong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank You... I hope I can write something more than this. :)

      Delete

Post a Comment