Assalamualaikum!!
Sesuai dengan janjiku, aku kembali berbagi tentang cerita
selanjutnya. Sudah tidak sabar, bukan? Yuk dah langsung cus baca cerita
selanjutnya!
Setelah perjalanan yang berjam-jam dan menguras energi, kami akhirnya tiba
di Bandara Frankfurt, Jerman. Bandaranya cukup padat di sini, tapi tidak
sebesar Schiphol Airport menurutku. Kami langsung menuju tempat pengambilan
koper sesuai dengan nomor penerbangan kami. Setelah menunggu beberapa menit,
koper ku keluar dengan tidak selamat L Pada dasarnya koperku adalah koper kain, yang mana sangat rentan mengalami
kerusakan. Dan baru hari PERTAMA di Jerman, koper saya sudah robek pemirsahh L Robeknya tidak
parah sih, hanya robekan kecil dibagian depan. Kecil kok 10 cm :‘) Alhamdulillah
masih selamat. Sebenarnya niat buat beli koper baru, tapi kasian duitnya nanti
habis wkwkwk..
Karena penjemput kami
belum datang, jadilah kami menunggu mereka selama beberapa jam. Selama menunggu
mereka aku masih “tidak sadarkan diri” bahwa sebenarnya aku sudah menapak di tanah negara
Jerman. Cita-cita ku sejak SMP untuk mengarungi dunia rasanya sudah selangkah
lebih maju. Hati ini rasanya campur aduk, senang banget, tapi juga bingung,
bahkan nulis cerita ini sampai bingung mau menggambarkan seperti apa saking
terpananya dengan realita di depan mata. Deutschland
ist mein Traumland~
Ada sedikit cerita lucu
ketika kami menunggu dijemput. Kami 17 orang duduk mengemper selayaknya orang
Indonesia yang suka ngemper wkwk... di sana kami diliatin orang-orang dengan
tatapan macam-macam. Yang paling lucu itu, ketika ada yang mengira bahwa kami adalah
tim sepak bola dan mau bertanding.
Hahaha... Guru pendamping kami juga postur badannya tidak jauh beda dengan
kami, jadi dianggap sama alias sama-sama siswa. Hehehe...
Jalan-jalan boleh ke Jerman, tapi jiwa tetap Indonesia! Hidup ngemper!
Tidak lama kemudian
penjemput kami datang. Mereka adalah Betreuer/in
(pengasuh) yang akan membantu kami selama 21 hari di Jerman. Selain itu ada 3 Praktikan/in yang membantu kami juga.
Mereka ini main role-nya di kehidupan sehari-hari ya guys, persis seperti kakak pengasuh gitu lah. Selain itu, ada juga Lehrer/in yang tugasnya sebagai guru
kami ketika di kelas. Ada 2 orang penting lagi, mereka adalah ketua dan wakil
penanggung jawab Sommerjugendkurs di Hohebuch ini.
Setelah kami bertemu
Betreuer, kami menuju bis yang sudah siap mengantarkan kami ke Studentenwohnheim (asrama). Sebelum
berangkat, kami menunggu kedatangan teman-teman yang berasal dari Brazil. Tidak
lama bis berjalan dan selama perjalanan mataku berkeliaran ke sana kemari
melihat pemandangan Jerman yang sangat jauh di luar dugaan, padahal kepalaku
sudah pusing, capek, ngantuk sekali butuh istirahat. Ini namanya jet lag.
gandum
gandum lagi
gandum di mana-mana
Jerman yang dipikiranku
benar-benar di luar dugaan. Aku membayangkan bahwa Jerman itu yang gedungnya
tinggi-tinggi, banyak orangnya, sibuk sekali orang-orangnya. Ternyata Jerman
yang ku kunjungi, lebih tepatnya Hohebuch, ini menyerupai sebuah desa. Bahkan
asrama kami dikelilingi oleh gandum. Kalau kata temen-temenku, di kelilingi
perkebunan cococrunch. Hahaha...
ASRAMA
ini masih panjang ke belakang gedungnya
Kegiatan pertama kami
adalah mengisi data diri, lalu menitipkan uang kami di salah satu panitia, lalu
mencari kamar kami masing-masing. Alhamdulillah aku dapat kamar yang untuk dua
orang dan sekaligus kamar mandi dalam. Sedangkan, banyak dari teman-temanku
yang sekamar 2-3 orang tapi menggunakan kamar mandi luar. Rezeki punya kamar
mandi dalam adalah menerima sewa kamar mandi untuk teman-teman yang gak
kebagian kamar mandi luar (ngantri cin) atau yang bangun kesiangan hahaha..
itu udah acak-acakan karena udah ditidurin hehe :)
Meine Zimmergenossin aus Ukraine, Lera
Karena kami tinggal di
asrama, jadi semua hal serba diatur. Jadwal makan, pembersihan kamar, Flurbesprechung (diskusi malam dengan Betreuer) dan lain-lain. Bahkan jadwal
menu makan kami pun sudah diatur, jadi gak ada tuh bosen makan dengan menu yang
itu-itu saja. Hidup di Jerman mengajarkan kami untuk hidup serba teratur dan
disiplin waktu.
ini menu makanannya di hari Jumat, 15 Juli 2016
Di hari kedua, kami
melakukan tes penempatan kelas. Tesnya sama seperti tes A1/A2. Bersyukur sekali
aku bisa masuk di kelas B1 dan di sini skill berbicara benar-benar diasah.
Sayangnya, aku tidak melakukan dengan maksimal di kelas. Karena aku terlalu
takut untuk berbicara dalam bahasa Jerman. Mungkin ini ya kekurangan siswa di
Indonesia, kurang terasah skill berbicara bahasa asingnya. Selama ini kita
hanya belajar teori-teori, jadi kurang lihai dalam mempraktikan. Kurang PD! Ayo lebih PD guys!
Setiap hari akan ada
jadwal-jadwal seperti di atas. Biasanya aku foto jadwalnya, karena itu lebih
efektif supaya gak bolak balik liatin jadwal. Yang paling seru tuh kalau
setelah Mittagessen (makan siang) kami akan
melakukan kegiatan yang kadang sama, tapi kadang juga berbeda. Misalnya kami
pergi Wanderung (mendaki), selain itu
kalau yang berbeda biasanya memilih mau aktivitasnya bikin post card, renang atau
bermain mini golf. Di Jerman wajib untuk mengecek keadaan cuaca, karena cuaca di Jerman itu beda dengan di Indonesia yang banyak gak pastinya. Kayak kamuuu.. eh..
Ada cerita unik ketika aku
tes penempatan kelas. Saat Tes Berbicara, penguji bertanya kepadaku mengapa aku
membawa banyak sekali uang saat ke Jerman. Lalu aku menjawab dengan kekurangan
skill berbicaraku, aku mengatakan bahwa keluargaku menyukai Cokelat, jadi aku
harus membelikan mereka cokelat yang banyak. LOL! Maklum sih, orang Jerman
mungkin gak kenal Oleh-Oleh buat keluarga ya guys.. wkwk... tapi, sebenernya kenal kok. Cuma gak se-alay orang Indo aja, kalau kita kan oleh-oleh
boyongan yaa. Wwkwk...
Selama 3 minggu di Jerman
aku juga mengunjungi 3 kota. Kota pertama adalah Nurnberg. Kami pergi
menggunakan bis dan ketika sampai di sana, kami harus pergi berkelompok minimal
3 orang dalam satu kelompok. Kami juga diberi denah kotanya dan diberikan waktu
beberapa jam untuk keliling kota tersebut. Nurnberg ini cukup banyak gerejanya dan rata-rata
bergaya gotik. Bergaya gotik ini
memiliki arti, kalau gedungnya makin lancip ke atas itu menandakan lebih dekat
dengan Tuhan. Mohon dikoreksi ya kalau
salah. J
Ketika kami tiba di sana, kebetulan juga ada Tradisional
Markt. Ada banyak orang menjual sayur mayur yang fresh dan ini menjadi pemandangan yang baru untukku. Aku benar-benar
salut dengan orang Jerman. Meskipun itu pasar tradisional, kebersihan itu tetap
dijaga. Gak ada tuh becek-becek jalannya
atau kotoran sayur dimana-mana. Wirklich sauber!
It’s really clean!
Di kota ini aku jalan-jalan bersama Inez dan Adel. Kami keliling-keliling
kota dan memasuki toko-toko yang menurut kami menarik. Tapi, saking asyiknya
masuk ke sebuah toko. Kami kehabisan waktu berkeliling kota. Jadinya, nyesel..
karena kurang jauh jalannya wkwkwk... Btw,
Nurnberg ini rame banget waktu itu. Padatt sekali, banyak orang yang datang
silih berganti. Selain itu, panasnya bukan main. Dan ketakutanku kalau orang
Jerman tinggi-tinggi itu terpatahkan. Ternyata banyak kok, bule-bule yang
postur tubuhnya sama kayak aku. Bahkan postur tubuh itu bukan penghalang bagi
kami untuk melakukan sesuatu.
Di sini ada banyak cafe dan barang-barang yang dijual relatif mahal
Selain Kota Nurnberg, kami
juga mengunjungi Kota Stuttgart. Ini adalah salah satu kota yang wajib aku
kunjungi di kunjungan selanjutnya! Sebenarnya cukup ambigu alasanku untuk
kembali ke kota ini. Ketika aku datang di kota ini dan jalan-jalan bersama
teman-temanku, tiba-tiba aku merasa jatuh cinta dengan kota ini. Padahal ya di
sana cuma shopping. Aku merasa nyaman
sekali di sini, kotanya memang padat. Padat banget malahan, lebih padat
daripada Nurnberg. Tapi, senangg sekali rasanya di sini. Aku juga sempat tersesat
dengan Adel. Untungnya, ada Tourist Information di sana. Selain itu, saat
tersesat itu aku mensyukuri satu hal. Aku menemukan Stasiun Stuttgart yang mana
bagus banget dari luar. Bangunannya unik menurutku, terkesan eropa banget lah. Namanya,
Bahnhofsturm. Di Google banyak yang bilang kalau ini sedang dalam rekonstruksi,
tapi kalau dulu kami ke sana sedang baik-baik saja. Sayangnya, dulu gak sempat
masuk liat aja dari luar. Stasiun ini adalah stasiun pusat di Kota Stuttgart.
Stasiun Pusat Stuttgart
Di Stuttgart ini aku lebih
banyak berjalan-jalan daripada di Nurnberg. Sampai-sampai kepalaku pusing
karena terlalu banyak jalan, tapi kurang makan haha. Kebetulan juga, ketika
jalan-jalan di sini ada street dance
gitu. Jadi, ada orang yang nge-dance di tengah-tengah jalan lalu ada yang
memberi tip.. Seru sekali pokoknya. Hal yang menarik lagi adalah Schloss atau Istana kerajaan. Tepat di König Straße (Jalan König) ada sebuah istana kerajaan
yang luass dan besarr sekali. Sayangnya, kami tidak bisa masuk ke sana. Jadi,
hanya dilihat dari luar saja. Kalau dilihat dengan mata kepala sendiri asli! Baguss
banget!! Bahkan difoto lewat hapeku gak muat, saking luasnya. Awakmu ae yar kurang mundur lek foto! J
Setelah Stuttgart ada kota
terfavorit aku yang tentunya menjadi list kota selanjutnya yang harus aku
kunjungi lagi, namanya Schwäbisch Hall. Bagi kalian yang mem-follow akun Instagram aku, pastinya
tidak asing jika aku kadang mengunggah foto dengan lokasi Schwäbisch Hall. Kota
ini termasuk kota kecil yang sangat sedikit penghuninya. Di kota ini aku
merasakan rasa damai dan tentram. Bahkan karena kecilnya itu, serasa seperti
rumah. Kami mengunjungi kota ini tidak hanya sekali, tapi kalau tidak salah
tiga kali. Mungkin teman-temanku yang lain ada yang lebih dari itu, karena
mereka memilih aktivitas di luar ruangan dan mungkin jujukannya ya ke kota ini.
Karena kota ini adalah satu-satunya kota yang terdekat dengan Hohebuch. Sayangnya,
di sini tidak ada Starbucks. Jadi, buat pecinta Starbucks ditahan dulu nafsunya
yaa kalau main ke sini. Bagi yang muslim, tenang aja! Di sini ada toko yang
jual kebab halal kok. Murah lagi, banyakk lagi isinya, sehat pula. Kebab ini
favoritnya teman-temanku. Karena emang enak dan murah, tokonya ada sertifikat
halalnya kok. So, don’t be afraid!!
Oh iya! Perjalanan dari
Hohebuch ke Schwäbisch Hall ini ditempuh dengan kereta dari Stasiun Waldenburg ke Stasiun
Schwäbisch Hall. Dari asrama ke Waldenburg sekitar 1 km dan kami menempuh
dengan jalan kaki. Kalau kalian ke Jerman, jangan kaget atau bingung menemukan
stasiun kecil yang sepi. Karena stasiun di sini berbeda dengan stasiun di
Indonesia yang masih menggunakan loket dan tenaga manusia. Di Jerman, tepatnya
di Stasiun Walden Burg dan Schwäbisch Hall, tidak ada loket, adanya mesin
pencetak tiket. Semua penumpang yang naik kereta wajib beli tiket di mesin yang
sudah disediakan. Aku pun belajar pemandangan baru di sini. Di mana stasiun
tapi sepi banget dan memang benar di sini ya hanya ada mesin itu tadi, gak ada
tenaga manusia.
Ini di Stasiun Waldenburg, di belakangnya kotak warna merah itu untuk beli tiket
Kelanjutan cerita ini,
akan aku lanjutnya besok ya guys. Ga tau besok itu kapan wkwk.. tapi, aku
usahkan selesai dalam minggu ini. Cerita selanjutnya aku akan bercerita tentang
Workshop, Party, Kunjungan Museum dan Kunjungan Universitas. Inshaallah kalau
gak kebanyakan, hehehe... Bagi kalian yang ingin bertanya, boleh banget tanya
di komentar. Auf Wiedersehen! See you!
Niar, Alumni JuKu 2016


























Comments
Post a Comment