Halo teman-teman.. Kali
ini saya ingin bercerita sesuatu yang lebih serius daripada sebelumnya. Tulisan
kali ini berisi curhatan kehidupan saya yang cukup dramatis dan saya yakin
beberapa dari kalian mungkin pernah mengalaminya. Semoga tulisan ini bisa
membuat kita sedikit lega dari urusan duniawi.
Bermimpi adalah hal yang mudah. Semua orang bisa bermimpi
sesuai dengan kapasitas dirinya sendiri. Saya adalah salah satunya. Mimpi saya
cukup tinggi dan butuh effort yang
tangguh untuk mewujudkannya. Tapi, siapa yang tahu bahwa saya kini menjadi
orang yang pesimis dan suka cemas akan masa depan
saya.
Semua kecemasan ini muncul semenjak saya duduk di bangku
smp. Salah satu unsur utama atau gerbang utama dari segala masalah yang menghampiri
hingga saat ini dan kecemasan yang tiada henti. Sebagai seorang manusia kita
pernah dihadapkan dengan pertumbuhan dan perkembangan. Saat saya menginjak
kelas 2 smp, tubuh saya mulai berubah, terutama dari segi ukurannya. Saya tidak
lagi kurus dan cantik seperti dahulu. Dan perubahan ini yang memicu saya
menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekeliling saya.
Body shamming. Frasa
tersebut pasti sudah sering kita dengar, di manapun dan kapanpun. Saya juga
seorang korban sekaligus pelakunya. Ketika saya smp, tiada habisnya orang-orang
mengomentari bentuk tubuh saya, tidak terkecuali keluarga saya sendiri. Saya
mengakui, ketika masa-masa tersebut saya jarang melakukan olahraga, namun entah bagaimana nafsu makan saya
bertambah dua kali lipat. Padahal sejak kecil saya itu tidak bisa makan banyak.
Kalau makan porsinya selalu 2 : 1, 2 ayam dan 1 entong nasi atau 2 : 1 : 1. 2
ayam, 1 entong nasi dan 1 sendok sayur. Karena kebiasaan saya suka makan lauk
lebih banyak ini, bapak dan ibu tidak pernah berhenti mengingatkan untuk makan
lebih banyak. Tapi, ketika smp saya tiba-tiba senangg sekali makan. Mungkin ini
yang dinamakan pubertas. Dan di masa ini saya
tidak bisa mengontrol mulut saya. Alhasil berat badan saya melonjak tajam dan
jadilah saya bahan perbincangan orang-orang.
Saya masih ingat saat pertama kali saya keluar rumah dan
mendapati orang-orang kaget melihat saya yang berubah. Saat itu saya tidak
mengerti mengapa orang-orang itu melontarkan hal yang sama dalam satu waktu.
Bahkan kalimat mereka apabila ditulis sudah menjadi dua paragraf atau bahkan
lebih
di seutas kertas. Saya benar-benar
tidak paham, apakah dengan saya ‘berbeda’ maka saya benar-benar menjadi orang
lain? Sampai akhirnya saya lelah keluar dari rumah di hari selanjutnya. Saya lebih baik mengurung diri saya sendiri di
kamar melakukan kegiatan yang saya suka (bukan makan), daripada saya memikirkan
omongan orang-orang. Namun, tipikal orang seperti saya yang lincah ke sana
kemari mustahil di kamar terus-terusan. Sampai suatu hari saya keluar di teras
rumah dan bertemu tetangga yang dekat dengan rumah saya. Tiada angin tiada
badai pertanyaan yang sama dilontarkan kepada saya, “Kok kamu gendut banget
sih?” Saya hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Lalu lewatlah tetangga yang
lain dan melontarkan hal yang sama pula. Hal yang membuat saya sakit hati
adalah komentar yang dilontarkan tetangga saya direspon oleh tetangga pertama
yag bertemu saya.
Tetangga lewat, “Lo dek, kok kamu sekarang gendutan?”
Tetangga pertama, “Hmm!!!”
Sejak saat itu saya
memilih untuk mengurung diri dan tidak pernah mau dan tidak sudi bertemu
orang-orang. Setiap harinya saya selalu diikuti perasaan cemas akan penampilan
saya. Saya semakin hari merasa tidak memiliki seseorang yang pantas untuk
bersandar. Apalagi ketika bertemu dengan keluarga besar, adik-adik saya yang
memang menjadikan saya sebagai lelucon membuat saya lebih sakit hati dan
membenci diri saya sendiri. Bahkan sampai saat saya menulis cerita ini, saya
masih sedih dan sakit mengingat masa lalu tersebut. Namun, selayaknya manusia
yang lain. Saya juga terkadang masih mengomentari penampilan orang lain,
meskipun saya tahu itu salah. Bagi saya, setiap orang memiliki kadar emosional
yang berbeda-beda. Saya adalah salah satu dari sekian ratus juta manusia yang
memiliki kadar emosional lebih tinggi dan ini yang membuat saya sering stres
hingga kini.
Hari berganti hari,
semakin lama saya semakin cemas dengan penampilan saya. Saat itu saya juga
sangat anti dengan make up atau
pakaian. Hari raya biasanya membeli baju baru, saya lebih memilih untuk tidak
membeli sesuatu yang baru. Percuma. Toh saya tetap gendut! Tetap menjadi bahan
perbincangan orang lain!
Dan semua ini tidak
berhenti sampai semasa saya duduk di bangku smp. Semua ini terus berlanjut hingga
ke jenjang sma. Masa-masa paling krusial sepanjang hidup saya. Masa putih
abu-abu menjadi momentum bersejarah dalam kehidupan saya. Salah satunya adalah keinginan
saya menggunakan hijab dari lubuk hati saya. Bukan karena paksaan kedua orang
tua saya, apalagi ibu yang lebih dahulu berhijab. Tapi, memang kehendak saya
untuk berhijab karena saya merasa aman dan nyaman. Namun, ternyata berhijab
tidak cukup membungkam mulut manusia di bumi ini. Babak awal memang babak
terberat bagi saya dan mungkin teman-teman yang menggunakan hijab juga. Saya
masih terkena body shamming karena
pipi tembam saya. Naasnya kalimat itu keluar dari keluarga saya sendiri. Bukan
keluarga inti, tapi keluarga besar. Tapi, tetap saja keluarga saya. L
Teman-teman sekelas saya
juga kadang menggoda saya seperti itu. Namun anehnya, semakin saya mendengar
bukannya saya semakin ‘masa bodoh’ tapi saya semakin sakit hati. Bahkan
momentum Idulfitri bersama keluarga adalah hal yang saya benci, bahkan kalau
boleh saya tinggal di rumah saja tidak usah mudik. Percuma. Toh, saya masih
diejek. Adik-adik saya lebih gemar mengejek saya. Om-om saya lebih suka tertawa
ketika saya menangis meratapi betapa gendutnya aku. Apa yang bisa saya lakukan?
Diam. Menangis. Bahkan menjerit saja tak mampu.
Apa saya hanya diam saja
sejauh ini? Tidak juga. Di era digital dengan kemunculan Instagram sebagai aplikasi baru dan kekinian, saya berkali-kali
mencurahkan perasaan kecewa saya terhadap orang-orang tersebut. Saya juga
pernah membentak adik saya ketika om saya meledek saya dan malam itu saya
menangis tiada henti menjauh dari kerumunan orang-orang. Saya berusaha tidak
makan ketika saya diledek, “Nanti tambah gendut kalau makan.” Ya sudah saya
tidak makan. Eh, saya tidak makan malah disuruh makan. Menjilat ludah sendiri
memang nikmat ya, Tante.
Saya juga berusaha mencari
cara untuk diet, tapi ayah saya marah karena saya gas jadi lebih sering habis.
Kakak saya juga tidak setuju saya diet. Ibu saya dengan santai menenangkan,
“Enggak kok, dia memang lagi pubertas.” Tapi apa daya 1 : sejuta umat yang
mulutnya tidak bisa dikondisikan, saya tetap sakit hati, cemas dan kehilangan
percaya diri. Saya lelah sangat lelah... baik kepada orang-orang, maupun diri
sendiri. Sejak itu, saya tidak pernah merasa saya cantik dan pantas untuk
dipuja seperti wanita pada umumnya. Saya terlalu buruk untuk dipuja oleh
orang-orang bermulut manis.
Gerbang selanjutnya adalah
gerbang yang mengantarkan saya pada peliknya kehidupan di dunia ini. Masa sma
yang seharusnya asik, menjadi masa-masa terburuk yang pernah saya alami.
Mungkin beberapa dari kalian sudah mengetahui cerita saya dengan Mawar. Itu
adalah salah satu ujung dari segala masalah kehidupan saya sampai sekarang.
Konflik batin itu nyata adanya, self harm
itu juga nyata, depresi dan bunuh diri juga nyata adanya.
Masa sma yang harusnya menjadi kenangan manis, kini hanya
bisa ditangisi. Masa di mana saya berhasil menjadi bagian dari minoritas yakni
masuk kelas bahasa, yang katanya anaknya bodoh-bodoh dan nakal-nakal. Terbukti
kami bisa mengharumkan nama sekolah karena nilai un tertinggi se-Jawa Timur.
Masa di mana saya mengenal Jerman untuk pertama kali dan berhasil mewujudkan
satu mimpi saya yaitu keliling dunia. Meskipun masih mengunjungi satu negara.
Masa saya mengalami stres berat dan terberat sepanjang hidup saya, hingga
berakhir tuk mengakhiri hidup saya. Masa yang membuat saya lebih dalam mengenal
dunia, menyisiri tiap luka dan hingar bingarnya. Sampai saya menemukan Sang
Surya yang tak pernah meninggalkan saya sendiri.
Di masa ini saya benar-benar tersesat. Saya hilang arah
dan hampir hilang akal. Mungkin jika saya benar-benar mati saat itu, saya akan
menyesal sepanjang waktu di alam kubur. Setiap harinya saya diliputi kecemasan
dan takut yang tiada habisnya. Saya tertawa tidak sebahagia dan selega orang
lain. Saya juga benar-benar kehilangan rasa percaya diri saya, hari-hari saya
hanya menangis dan menangis. Hampa sekali rasanya terutama dua tahun terakhir
masa sekolah. Saya pikir masalah body
shamming adalah masalah terberat dari hidup saya, ternyata tidak. Bertemu
Mawar mengubah jalan hidup saya. Semakin berat langkahnya dan semakin tidak
jelas jalannya. Masa itu juga membuat saya menjadi orang yang mudah menyerah
dan sering ketakutan untuk bermimpi. Sebaik apapun usaha yang pernah saya
lakukan, semua itu masih terasa kurang bagi Mawar. Saya semakin stres dan tidak
tahu harus bagaimana. Saya seperti melawan kapasitas diri saya sendiri dan
benar-benar lelah. Lelah dengan hidup saya dan lelah dengan manusianya.
Hari berganti hari. Purnama dan Surya dengan kompak
menjalankan waktu. Saya duduk di bangku perkuliahan dan saya masih dengan
kondisi yang sama. Lelah. Tapi saya tidak tahu, bagaimana saya mendeskripsikan
lelah. Perjalanan saya semasa sma membuat saya menjadi orang yang tertutup.
Saya menjadi seorang pemikir bahkan overthinker,
sering pesimis dan sering cemas. Keinginan saya untuk mengakhiri hidup ini
masih terus berlanjut, bahkan kadang-kadang saat ini masih muncul meskipun
tidak sekuat dahulu. Saya tidak mau mengenal dan dikenal orang, baik teman
maupun dosen. Saya terlalu terbebani dengan title
atau prestasi yang saya dapatkan dari sekolah karena selama saya meraihnya
tidak ada pengakuan yang melegakan dari Mawar, namun ketidakpuasan semata darinya.
Dan itu yang tumbuh pada diri ini, tidak puas dan merasa bodoh karena telah
menjalaninya. Setelah sekian lama, parahnya saya baru menyadari bahwa saya
sebenarnya kehilangan rasa percaya diri saya dan saya memiliki penyakit mental.
Hal itu baru terungkap setelah berkali-kali saya mencoba mencari tahu tentang
kesehatan mental, membaca banyak artikel dan tanda-tanda penyakit mental. Meskipun
saya tidak mau mendiagnosis sendiri, tapi kebanyakan tanda-tandanya saya alami.
Kini saya sudah memasuki semester 6 dan sebentar lagi
saya akan lulus, bekerja dan mungkin menikah. Meskipun saya pernah memilih
untuk tidak menikah, tapi saya rasa menikah itu juga penting bagi saya. Sampai
saat ini, saya masih takut untuk bertemu psikiater atau pergi ke psikolog
karena saya merasa diri saya baik-baik saja. Meskipun sepertinya tidak.
Terkadang saya menangis tanpa sebab dan kadang saya ingin melukai diri saya
sendiri, meskipun saya pernah melukai diri saya. Saya juga melampiaskan semua
kesedihan saya kepada sesuatu yang buruk yang tidak bisa saya ungkapkan. Saya
juga pernah merasa sesak tanpa sebab. Sepertinya saya memang harus pergi
sekarang juga. Semua kenangan dan masa lalu yang terjadi tidak pernah bisa saya
lupakan sekuat apapun cara yang saya ambil. Siapa yang melukai dan apa yang
dikatakan masih teringat. Berulangkali saya mencoba tuk memaafkan dan
mengikhlaskan, nyatanya kenangan itu masih belum terobati.
Masih adakah tempat yang nyaman di dunia ini untuk
sekedar berkeluh kesah? Semoga kamu yang pernah merasakan juga bisa menjadi
orang yang tangguh karena kamu berhak untuk hidup.

Comments
Post a Comment