Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

Ketidaksempurnaanku (mungkin) Ketidaksempurnaanmu



Halo teman-teman.. Kali ini saya ingin bercerita sesuatu yang lebih serius daripada sebelumnya. Tulisan kali ini berisi curhatan kehidupan saya yang cukup dramatis dan saya yakin beberapa dari kalian mungkin pernah mengalaminya. Semoga tulisan ini bisa membuat kita sedikit lega dari urusan duniawi.

            Bermimpi adalah hal yang mudah. Semua orang bisa bermimpi sesuai dengan kapasitas dirinya sendiri. Saya adalah salah satunya. Mimpi saya cukup tinggi dan butuh effort yang tangguh untuk mewujudkannya. Tapi, siapa yang tahu bahwa saya kini menjadi orang yang pesimis dan suka cemas akan masa depan saya.

            Semua kecemasan ini muncul semenjak saya duduk di bangku smp. Salah satu unsur utama atau gerbang utama dari segala masalah yang menghampiri hingga saat ini dan kecemasan yang tiada henti. Sebagai seorang manusia kita pernah dihadapkan dengan pertumbuhan dan perkembangan. Saat saya menginjak kelas 2 smp, tubuh saya mulai berubah, terutama dari segi ukurannya. Saya tidak lagi kurus dan cantik seperti dahulu. Dan perubahan ini yang memicu saya menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekeliling saya.

            Body shamming. Frasa tersebut pasti sudah sering kita dengar, di manapun dan kapanpun. Saya juga seorang korban sekaligus pelakunya. Ketika saya smp, tiada habisnya orang-orang mengomentari bentuk tubuh saya, tidak terkecuali keluarga saya sendiri. Saya mengakui, ketika masa-masa tersebut saya jarang melakukan olahraga, namun entah bagaimana nafsu makan saya bertambah dua kali lipat. Padahal sejak kecil saya itu tidak bisa makan banyak. Kalau makan porsinya selalu 2 : 1, 2 ayam dan 1 entong nasi atau 2 : 1 : 1. 2 ayam, 1 entong nasi dan 1 sendok sayur. Karena kebiasaan saya suka makan lauk lebih banyak ini, bapak dan ibu tidak pernah berhenti mengingatkan untuk makan lebih banyak. Tapi, ketika smp saya tiba-tiba senangg sekali makan. Mungkin ini yang dinamakan pubertas. Dan di masa ini saya tidak bisa mengontrol mulut saya. Alhasil berat badan saya melonjak tajam dan jadilah saya bahan perbincangan orang-orang.

            Saya masih ingat saat pertama kali saya keluar rumah dan mendapati orang-orang kaget melihat saya yang berubah. Saat itu saya tidak mengerti mengapa orang-orang itu melontarkan hal yang sama dalam satu waktu. Bahkan kalimat mereka apabila ditulis sudah menjadi dua paragraf atau bahkan lebih di seutas kertas. Saya benar-benar tidak paham, apakah dengan saya ‘berbeda’ maka saya benar-benar menjadi orang lain? Sampai akhirnya saya lelah keluar dari rumah di hari selanjutnya. Saya lebih baik mengurung diri saya sendiri di kamar melakukan kegiatan yang saya suka (bukan makan), daripada saya memikirkan omongan orang-orang. Namun, tipikal orang seperti saya yang lincah ke sana kemari mustahil di kamar terus-terusan. Sampai suatu hari saya keluar di teras rumah dan bertemu tetangga yang dekat dengan rumah saya. Tiada angin tiada badai pertanyaan yang sama dilontarkan kepada saya, “Kok kamu gendut banget sih?” Saya hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Lalu lewatlah tetangga yang lain dan melontarkan hal yang sama pula. Hal yang membuat saya sakit hati adalah komentar yang dilontarkan tetangga saya direspon oleh tetangga pertama yag bertemu saya.

Tetangga lewat, “Lo dek, kok kamu sekarang gendutan?”

Tetangga pertama, “Hmm!!!”

            Sejak saat itu saya memilih untuk mengurung diri dan tidak pernah mau dan tidak sudi bertemu orang-orang. Setiap harinya saya selalu diikuti perasaan cemas akan penampilan saya. Saya semakin hari merasa tidak memiliki seseorang yang pantas untuk bersandar. Apalagi ketika bertemu dengan keluarga besar, adik-adik saya yang memang menjadikan saya sebagai lelucon membuat saya lebih sakit hati dan membenci diri saya sendiri. Bahkan sampai saat saya menulis cerita ini, saya masih sedih dan sakit mengingat masa lalu tersebut. Namun, selayaknya manusia yang lain. Saya juga terkadang masih mengomentari penampilan orang lain, meskipun saya tahu itu salah. Bagi saya, setiap orang memiliki kadar emosional yang berbeda-beda. Saya adalah salah satu dari sekian ratus juta manusia yang memiliki kadar emosional lebih tinggi dan ini yang membuat saya sering stres hingga kini.

            Hari berganti hari, semakin lama saya semakin cemas dengan penampilan saya. Saat itu saya juga sangat anti dengan make up atau pakaian. Hari raya biasanya membeli baju baru, saya lebih memilih untuk tidak membeli sesuatu yang baru. Percuma. Toh saya tetap gendut! Tetap menjadi bahan perbincangan orang lain!

            Dan semua ini tidak berhenti sampai semasa saya duduk di bangku smp. Semua ini terus berlanjut hingga ke jenjang sma. Masa-masa paling krusial sepanjang hidup saya. Masa putih abu-abu menjadi momentum bersejarah dalam kehidupan saya. Salah satunya adalah keinginan saya menggunakan hijab dari lubuk hati saya. Bukan karena paksaan kedua orang tua saya, apalagi ibu yang lebih dahulu berhijab. Tapi, memang kehendak saya untuk berhijab karena saya merasa aman dan nyaman. Namun, ternyata berhijab tidak cukup membungkam mulut manusia di bumi ini. Babak awal memang babak terberat bagi saya dan mungkin teman-teman yang menggunakan hijab juga. Saya masih terkena body shamming karena pipi tembam saya. Naasnya kalimat itu keluar dari keluarga saya sendiri. Bukan keluarga inti, tapi keluarga besar. Tapi, tetap saja keluarga saya. L

            Teman-teman sekelas saya juga kadang menggoda saya seperti itu. Namun anehnya, semakin saya mendengar bukannya saya semakin ‘masa bodoh’ tapi saya semakin sakit hati. Bahkan momentum Idulfitri bersama keluarga adalah hal yang saya benci, bahkan kalau boleh saya tinggal di rumah saja tidak usah mudik. Percuma. Toh, saya masih diejek. Adik-adik saya lebih gemar mengejek saya. Om-om saya lebih suka tertawa ketika saya menangis meratapi betapa gendutnya aku. Apa yang bisa saya lakukan? Diam. Menangis. Bahkan menjerit saja tak mampu.

            Apa saya hanya diam saja sejauh ini? Tidak juga. Di era digital dengan kemunculan Instagram sebagai aplikasi baru dan kekinian, saya berkali-kali mencurahkan perasaan kecewa saya terhadap orang-orang tersebut. Saya juga pernah membentak adik saya ketika om saya meledek saya dan malam itu saya menangis tiada henti menjauh dari kerumunan orang-orang. Saya berusaha tidak makan ketika saya diledek, “Nanti tambah gendut kalau makan.” Ya sudah saya tidak makan. Eh, saya tidak makan malah disuruh makan. Menjilat ludah sendiri memang nikmat ya, Tante.

            Saya juga berusaha mencari cara untuk diet, tapi ayah saya marah karena saya gas jadi lebih sering habis. Kakak saya juga tidak setuju saya diet. Ibu saya dengan santai menenangkan, “Enggak kok, dia memang lagi pubertas.” Tapi apa daya 1 : sejuta umat yang mulutnya tidak bisa dikondisikan, saya tetap sakit hati, cemas dan kehilangan percaya diri. Saya lelah sangat lelah... baik kepada orang-orang, maupun diri sendiri. Sejak itu, saya tidak pernah merasa saya cantik dan pantas untuk dipuja seperti wanita pada umumnya. Saya terlalu buruk untuk dipuja oleh orang-orang bermulut manis.

            Gerbang selanjutnya adalah gerbang yang mengantarkan saya pada peliknya kehidupan di dunia ini. Masa sma yang seharusnya asik, menjadi masa-masa terburuk yang pernah saya alami. Mungkin beberapa dari kalian sudah mengetahui cerita saya dengan Mawar. Itu adalah salah satu ujung dari segala masalah kehidupan saya sampai sekarang. Konflik batin itu nyata adanya, self harm itu juga nyata, depresi dan bunuh diri juga nyata adanya.

Masa sma yang harusnya menjadi kenangan manis, kini hanya bisa ditangisi. Masa di mana saya berhasil menjadi bagian dari minoritas yakni masuk kelas bahasa, yang katanya anaknya bodoh-bodoh dan nakal-nakal. Terbukti kami bisa mengharumkan nama sekolah karena nilai un tertinggi se-Jawa Timur. Masa di mana saya mengenal Jerman untuk pertama kali dan berhasil mewujudkan satu mimpi saya yaitu keliling dunia. Meskipun masih mengunjungi satu negara. Masa saya mengalami stres berat dan terberat sepanjang hidup saya, hingga berakhir tuk mengakhiri hidup saya. Masa yang membuat saya lebih dalam mengenal dunia, menyisiri tiap luka dan hingar bingarnya. Sampai saya menemukan Sang Surya yang tak pernah meninggalkan saya sendiri.

Di masa ini saya benar-benar tersesat. Saya hilang arah dan hampir hilang akal. Mungkin jika saya benar-benar mati saat itu, saya akan menyesal sepanjang waktu di alam kubur. Setiap harinya saya diliputi kecemasan dan takut yang tiada habisnya. Saya tertawa tidak sebahagia dan selega orang lain. Saya juga benar-benar kehilangan rasa percaya diri saya, hari-hari saya hanya menangis dan menangis. Hampa sekali rasanya terutama dua tahun terakhir masa sekolah. Saya pikir masalah body shamming adalah masalah terberat dari hidup saya, ternyata tidak. Bertemu Mawar mengubah jalan hidup saya. Semakin berat langkahnya dan semakin tidak jelas jalannya. Masa itu juga membuat saya menjadi orang yang mudah menyerah dan sering ketakutan untuk bermimpi. Sebaik apapun usaha yang pernah saya lakukan, semua itu masih terasa kurang bagi Mawar. Saya semakin stres dan tidak tahu harus bagaimana. Saya seperti melawan kapasitas diri saya sendiri dan benar-benar lelah. Lelah dengan hidup saya dan lelah dengan manusianya.

Hari berganti hari. Purnama dan Surya dengan kompak menjalankan waktu. Saya duduk di bangku perkuliahan dan saya masih dengan kondisi yang sama. Lelah. Tapi saya tidak tahu, bagaimana saya mendeskripsikan lelah. Perjalanan saya semasa sma membuat saya menjadi orang yang tertutup. Saya menjadi seorang pemikir bahkan overthinker, sering pesimis dan sering cemas. Keinginan saya untuk mengakhiri hidup ini masih terus berlanjut, bahkan kadang-kadang saat ini masih muncul meskipun tidak sekuat dahulu. Saya tidak mau mengenal dan dikenal orang, baik teman maupun dosen. Saya terlalu terbebani dengan title atau prestasi yang saya dapatkan dari sekolah karena selama saya meraihnya tidak ada pengakuan yang melegakan dari Mawar, namun ketidakpuasan semata darinya. Dan itu yang tumbuh pada diri ini, tidak puas dan merasa bodoh karena telah menjalaninya. Setelah sekian lama, parahnya saya baru menyadari bahwa saya sebenarnya kehilangan rasa percaya diri saya dan saya memiliki penyakit mental. Hal itu baru terungkap setelah berkali-kali saya mencoba mencari tahu tentang kesehatan mental, membaca banyak artikel dan tanda-tanda penyakit mental. Meskipun saya tidak mau mendiagnosis sendiri, tapi kebanyakan tanda-tandanya saya alami.

Kini saya sudah memasuki semester 6 dan sebentar lagi saya akan lulus, bekerja dan mungkin menikah. Meskipun saya pernah memilih untuk tidak menikah, tapi saya rasa menikah itu juga penting bagi saya. Sampai saat ini, saya masih takut untuk bertemu psikiater atau pergi ke psikolog karena saya merasa diri saya baik-baik saja. Meskipun sepertinya tidak. Terkadang saya menangis tanpa sebab dan kadang saya ingin melukai diri saya sendiri, meskipun saya pernah melukai diri saya. Saya juga melampiaskan semua kesedihan saya kepada sesuatu yang buruk yang tidak bisa saya ungkapkan. Saya juga pernah merasa sesak tanpa sebab. Sepertinya saya memang harus pergi sekarang juga. Semua kenangan dan masa lalu yang terjadi tidak pernah bisa saya lupakan sekuat apapun cara yang saya ambil. Siapa yang melukai dan apa yang dikatakan masih teringat. Berulangkali saya mencoba tuk memaafkan dan mengikhlaskan, nyatanya kenangan itu masih belum terobati.

Masih adakah tempat yang nyaman di dunia ini untuk sekedar berkeluh kesah? Semoga kamu yang pernah merasakan juga bisa menjadi orang yang tangguh karena kamu berhak untuk hidup.

Comments