“I’m scared, I
can’t wake up, so I’m lying again.”
– Fear by Seventeen
Rerintik hujan turun mencium tiap
sudut cakrawala. Membasahi bumi, membasahi dunia, membasahi mimpi, membasahi
insan manusia, namun kedatangannya terkadang meredam keresahan dalam dada.
Hujan bagaikan empati yang ikut menangis dikala hati ini merintih meminta belas kasih, hujan bagaikan
pengiris hati membuat perih segala luka yang tertatih dan hujan bagaikan
kekasih yang merengkuh sedih yang kian pedih. Lantas, berhenti di sini kah
langkah yang tertatih akibat pedihnya luka yang ku alami sejauh ini?
Cinta adalah sebuah kata tak
berformula yang melengkapi indahnya dunia ini. Banyak orang mengatakan bahwa
cinta itu menyembuhkan luka, cinta membuatmu bahagia dan cinta mewujudkan
mimpi-mimpimu menjadi nyata.
Sayangnya, dunia ini kian hari semakin membuatku sadar bahwa cinta bukanlah
milikku dan ia akan menjauh dari ku. Aku takut, aku gundah dan aku resah. Orang lain hanya
bisa bersuara, tapi aku yang merasakan luka. Manusia bisa bertanya tanpa titik,
namun aku yang harus menjawab dengan titik. Beginikah cinta? Cinta antara
manusia yang kamu elu-elukan bisa mengobati luka dalam kalbu?
“Bermimpilah!
Hiduplah seperti mimpimu, ikuti kata hatimu. Maka semua akan baik-baik saja!”
kata mereka yang sudah di dekat langit atau bahkan beberapa dari mereka di atas
awan mengejar angan. Hidupku tidak jauh dari yang mereka katakan, tapi aku
merasa kosong setiap kali mengingat kalimat itu. Berpeluh-peluh aku mendaki,
berdarah-darah aku merangkak hingga ku cium tanah sampai ku hilang akal. Dunia
ini ternyata bukan untukku. Kamu bilang cinta menyembuhkan luka, kamu bilang
cinta mewujudkan mimpi dan kamu bilang cinta membawa kebahagiaan. Sedangkan setelah
berabad-abad di dunia ini aku bernafas, mengapa aku masih terlukai atas nama cinta?
Bualan-bualan
mulutmu takkan pernah melarutkan duka dalam diriku, melainkan merajut indah
luka baru dalam dimensi dan galaksi kehidupanku. Betapa mirisnya hidupku,
terlukai oleh manusia yang mengaku berakal, beragama dan berpendidikan. Ingin
rasanya aku merengkuh diriku yang penuh kepiluan masa lalu dan kegundahan masa
depanku. Tak ada satu pun mengerti bagaimana terlukanya aku karena mu. Kamu
yang selalu membawa cinta yang terlihat maupun tidak.
Benarkah begitu caramu mencintaiku? Sampai
suatu hari kau rela aku menderita setelah merasakan kehilangan. Kehilangan mimpi-mimpiku
yang datang mendekat dan beberapa darinya bahkan sudah di depan mata. Aku ulurkan tanganku untuk menyambutnya. Senyumku juga
tak luntur di saat ia datang. Mataku mengerjap berulang-ulang seakan tak
percaya bahwa kesempatan itu telah tiba. Tapi, atas nama cinta kau tarik
tanganku, kau pejamkan mataku dan kau hapus senyumku dengan untaian diksimu. Aku
terkejut karena dirimu seperti tak mengenalku, hingga kamu tega menghakimi
mimpiku sebelah mata. Apakah aku yang kamu kenal adalah seseorang yang suka
bermain dengan mimpi? Apakah meraih mimpi masih akan selamanya direngkuh hanya di balik bangku pendidikan? Apakah kau tahu bahwa dunia ini tidak hanya
membutuhkan itu? Benarkah kau mengenalku?
Hari ini
akan segera usai, esok kita akan bertemu untuk kesekian kalinya. Hujan mungkin
akan turun, tapi matahari selalu terbit. Esok ku harap ada cerita baru,
tentunya yang jauh lebih baik dari hari ini bahkan hari kemarin. Udara baru
yang menyegarkan dunia, ku harap juga menyegarkan indra kita. Ku harap aku akan
terus berharap, meski aku tahu kamu akan merajut luka-luka baru. Dan aku tahu,
malam ini mungkin aku tak kuat memejamkan mataku. Terima kasih telah membuatku
semakin gundah dan layu untuk hidup demi masa depanku.
Kesunyian
malam ini menemaniku untuk memahami lebih jauh tentang cinta dan luka. Kedua
hal ini membuatku berhati-hati untuk bermimpi. Tapi, aku juga hampir berhenti
bermimpi. Aku sadar bahwa kamu diciptakan memang hanya untuk membuatku terluka,
tapi aku lebih tahu bahwa luka yang kamu ciptakan bisa ku ubah menjadi gumpalan
api pada diriku sendiri. Suatu saat api itu yang akan membakarku dan membuatku
kuat, bukan untuk melawanmu. Tapi, untuk melawanku. Membakar luka yang kau
ciptakan dan membersihkan segala keraguan yang membendung mimpiku. Kisah ini
akan abadi dan menjadi keindahan dalam galaksiku. Termasuk kamu, manusia yang
hanya bisa melukai dengan kekayaan indra yang merekat dalam tubuh manismu.
“All I want is home. The warm home with the best
people, with their best support and their endless love. I need my home.” - Aku

Comments
Post a Comment