Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

Merengkuh Luka




“I’m scared, I can’t wake up, so I’m lying again.”
– Fear by Seventeen

            Rerintik hujan turun mencium tiap sudut cakrawala. Membasahi bumi, membasahi dunia, membasahi mimpi, membasahi insan manusia, namun kedatangannya terkadang meredam keresahan dalam dada. Hujan bagaikan empati yang ikut menangis dikala hati ini merintih meminta belas kasih, hujan bagaikan pengiris hati membuat perih segala luka yang tertatih dan hujan bagaikan kekasih yang merengkuh sedih yang kian pedih. Lantas, berhenti di sini kah langkah yang tertatih akibat pedihnya luka yang ku alami sejauh ini?

            Cinta adalah sebuah kata tak berformula yang melengkapi indahnya dunia ini. Banyak orang mengatakan bahwa cinta itu menyembuhkan luka, cinta membuatmu bahagia dan cinta mewujudkan mimpi-mimpimu menjadi nyata. Sayangnya, dunia ini kian hari semakin membuatku sadar bahwa cinta bukanlah milikku dan ia akan menjauh dari ku. Aku takut, aku gundah dan aku resah. Orang lain hanya bisa bersuara, tapi aku yang merasakan luka. Manusia bisa bertanya tanpa titik, namun aku yang harus menjawab dengan titik. Beginikah cinta? Cinta antara manusia yang kamu elu-elukan bisa mengobati luka dalam kalbu?

            “Bermimpilah! Hiduplah seperti mimpimu, ikuti kata hatimu. Maka semua akan baik-baik saja!” kata mereka yang sudah di dekat langit atau bahkan beberapa dari mereka di atas awan mengejar angan. Hidupku tidak jauh dari yang mereka katakan, tapi aku merasa kosong setiap kali mengingat kalimat itu. Berpeluh-peluh aku mendaki, berdarah-darah aku merangkak hingga ku cium tanah sampai ku hilang akal. Dunia ini ternyata bukan untukku. Kamu bilang cinta menyembuhkan luka, kamu bilang cinta mewujudkan mimpi dan kamu bilang cinta membawa kebahagiaan. Sedangkan setelah berabad-abad di dunia ini aku bernafas, mengapa aku masih terlukai atas nama cinta?

            Bualan-bualan mulutmu takkan pernah melarutkan duka dalam diriku, melainkan merajut indah luka baru dalam dimensi dan galaksi kehidupanku. Betapa mirisnya hidupku, terlukai oleh manusia yang mengaku berakal, beragama dan berpendidikan. Ingin rasanya aku merengkuh diriku yang penuh kepiluan masa lalu dan kegundahan masa depanku. Tak ada satu pun mengerti bagaimana terlukanya aku karena mu. Kamu yang selalu membawa cinta yang terlihat maupun tidak.

            Benarkah begitu caramu mencintaiku? Sampai suatu hari kau rela aku menderita setelah merasakan kehilangan. Kehilangan mimpi-mimpiku yang datang mendekat dan beberapa darinya bahkan sudah di depan mata. Aku ulurkan tanganku untuk menyambutnya. Senyumku juga tak luntur di saat ia datang. Mataku mengerjap berulang-ulang seakan tak percaya bahwa kesempatan itu telah tiba. Tapi, atas nama cinta kau tarik tanganku, kau pejamkan mataku dan kau hapus senyumku dengan untaian diksimu. Aku terkejut karena dirimu seperti tak mengenalku, hingga kamu tega menghakimi mimpiku sebelah mata. Apakah aku yang kamu kenal adalah seseorang yang suka bermain dengan mimpi? Apakah meraih mimpi masih akan selamanya direngkuh hanya di balik bangku pendidikan? Apakah kau tahu bahwa dunia ini tidak hanya membutuhkan itu? Benarkah kau mengenalku?

            Hari ini akan segera usai, esok kita akan bertemu untuk kesekian kalinya. Hujan mungkin akan turun, tapi matahari selalu terbit. Esok ku harap ada cerita baru, tentunya yang jauh lebih baik dari hari ini bahkan hari kemarin. Udara baru yang menyegarkan dunia, ku harap juga menyegarkan indra kita. Ku harap aku akan terus berharap, meski aku tahu kamu akan merajut luka-luka baru. Dan aku tahu, malam ini mungkin aku tak kuat memejamkan mataku. Terima kasih telah membuatku semakin gundah dan layu untuk hidup demi masa depanku.

            Kesunyian malam ini menemaniku untuk memahami lebih jauh tentang cinta dan luka. Kedua hal ini membuatku berhati-hati untuk bermimpi. Tapi, aku juga hampir berhenti bermimpi. Aku sadar bahwa kamu diciptakan memang hanya untuk membuatku terluka, tapi aku lebih tahu bahwa luka yang kamu ciptakan bisa ku ubah menjadi gumpalan api pada diriku sendiri. Suatu saat api itu yang akan membakarku dan membuatku kuat, bukan untuk melawanmu. Tapi, untuk melawanku. Membakar luka yang kau ciptakan dan membersihkan segala keraguan yang membendung mimpiku. Kisah ini akan abadi dan menjadi keindahan dalam galaksiku. Termasuk kamu, manusia yang hanya bisa melukai dengan kekayaan indra yang merekat dalam tubuh manismu.

All I want is home. The warm home with the best people, with their best support and their endless love. I need my home.” - Aku

Comments