Aku dan Rei duduk di salah satu Café
kesukaan kami sejak putih abu-abu. Letaknya di Jalan
Guntur, Oro-oro Dowo. Dua buah cup ice
cream tersaji di hadapan kami. Rei meraba-raba cup ice cream-nya, lalu memasukkan suap demi sesuap ice cream ke dalam mulutnya. Sambil menikmatinya, pikiranku melayang bersama
angin yang menerpa wajahku. Aku seakan-akan melayang terbawa ke tempat yang sunyi.
“Bagaimana kabarmu, Ra?”
Aku tersadar dari
lamunanku. Namun, aku tetap diam tak bersuara. Sesekali aku memandangi ice
creamku. Rasanya ingin sekali meleburkan seluruh kesedihan ku ke dalam ice cream ini. Aku tetap diam. Kesedihan
ini selalu datang seperti hantu. Mengejutkan dan menakutkan. Rasanya hidupku
hampir mati rasa, karena tidak ada perasaan selain hampa yang menggandrungiku. Hidupku terlalu rumit untuk diceritakan,
Rei. Aku berharap bahwa aku baik-baik saja. Sayangnya, kau tak akan bisa
mendengarkan kata hati ini. Aku memandang jauh ke dalam bola matanya. Ku
perhatikan gerak-geriknya saat memakan ice cream. Dia terlihat tenang dan
baik-baik saja. Aku kembali memandang ice creamku.
“Rei, mengapa kamu mau
mendengarkan cerita-ceritaku?”
“Mengapa kamu mengizinkan
aku untuk pergi bersamamu?”
“Mengapa kamu mau berteman
denganku?”
Dia menghentikan kegiatannya.
Pandangannya lurus ke depan tanpa berkedip. Bisa ku lihat dengan jelas, bola
matanya yang pucat namun indah. Dan keheningan pun menyelimuti kami. Seribu kata
dalam otakku terasa membeku. Rasanya tak ada lagi yang perlu ku sampaikan.
Hanya pertanyaan Rei yang muncul dalam benak ini dan aku tak tahu harus
menjawab apa. Rasanya terlalu berat untuk dijawab.
“Kamu tersesat dan mungkin
terjebak. Masa lalu memang telah menjadi sejarah, tapi tak semua orang mampu
menerimanya. Bahkan melarikan diri dengan cara apapun, tidak akan pernah
mengubah sejarah yang berlalu. Masa lalu memang senang mendatangi kita di masa
kini. Kedatangannya seperti angin, menyelinap masuk tanpa permisi. Padahal
tidak semua kedatangannya sangat kita harapkan. Kamu dan aku sama. Kita merasakan
rasa yang sama dengan sejarah yang berbeda. Bagiku, akan lebih baik jika kita
selalu bersama. Karena bersama lebih baik daripada menahan perasaan itu seorang
diri.”
Detik itu aku sadar, bahwa
kami dipertemukan untuk menjadi kuat. Aku yang dihantui manusia lain, yang
datang sesuka hati namun pergi melukai hati. Aku yang sudah salah menyediakan separuh
hati, bukan secangkir kopi saat kedatangannya. Aku lah kini yang merasakan
kepahitan cinta yang tak kan pernah ku miliki. Hanya rindu yang tersisa menyelinap
masuk tanpa permisi. Aku sadar bahwa aku tak sendiri, masih ada Rei. Wanita
yang terjebak atau mungkin tersesat dalam perasaan yang sama sejak kehilangan
kedua penglihatannya.
“Jadi, bagaimana kabarmu
Rara?”
Aku memandangnya
tersenyum.
“I wish I was happy.”

such a short heartwarming story. I like it!!
ReplyDeleteThank youu!!
Delete