Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

BAGAIMANA KABARMU?



            Aku dan Rei duduk di salah satu Café kesukaan kami sejak putih abu-abu. Letaknya di Jalan Guntur, Oro-oro Dowo. Dua buah cup ice cream tersaji di hadapan kami. Rei meraba-raba cup ice cream-nya, lalu memasukkan suap demi sesuap ice cream ke dalam mulutnya. Sambil menikmatinya, pikiranku melayang bersama angin yang menerpa wajahku. Aku seakan-akan melayang terbawa ke tempat yang sunyi.

            Bagaimana kabarmu, Ra?”

            Aku tersadar dari lamunanku. Namun, aku tetap diam tak bersuara. Sesekali aku memandangi ice creamku. Rasanya ingin sekali meleburkan seluruh kesedihan ku ke dalam ice cream ini. Aku tetap diam. Kesedihan ini selalu datang seperti hantu. Mengejutkan dan menakutkan. Rasanya hidupku hampir mati rasa, karena tidak ada perasaan selain hampa yang menggandrungiku. Hidupku terlalu rumit untuk diceritakan, Rei. Aku berharap bahwa aku baik-baik saja. Sayangnya, kau tak akan bisa mendengarkan kata hati ini. Aku memandang jauh ke dalam bola matanya. Ku perhatikan gerak-geriknya saat memakan ice cream. Dia terlihat tenang dan baik-baik saja. Aku kembali memandang ice creamku.

            “Rei, mengapa kamu mau mendengarkan cerita-ceritaku?”

            “Mengapa kamu mengizinkan aku untuk pergi bersamamu?”

            “Mengapa kamu mau berteman denganku?”

            Dia menghentikan kegiatannya. Pandangannya lurus ke depan tanpa berkedip. Bisa ku lihat dengan jelas, bola matanya yang pucat namun indah. Dan keheningan pun menyelimuti kami. Seribu kata dalam otakku terasa membeku. Rasanya tak ada lagi yang perlu ku sampaikan. Hanya pertanyaan Rei yang muncul dalam benak ini dan aku tak tahu harus menjawab apa. Rasanya terlalu berat untuk dijawab.

            “Kamu tersesat dan mungkin terjebak. Masa lalu memang telah menjadi sejarah, tapi tak semua orang mampu menerimanya. Bahkan melarikan diri dengan cara apapun, tidak akan pernah mengubah sejarah yang berlalu. Masa lalu memang senang mendatangi kita di masa kini. Kedatangannya seperti angin, menyelinap masuk tanpa permisi. Padahal tidak semua kedatangannya sangat kita harapkan. Kamu dan aku sama. Kita merasakan rasa yang sama dengan sejarah yang berbeda. Bagiku, akan lebih baik jika kita selalu bersama. Karena bersama lebih baik daripada menahan perasaan itu seorang diri.”

            Detik itu aku sadar, bahwa kami dipertemukan untuk menjadi kuat. Aku yang dihantui manusia lain, yang datang sesuka hati namun pergi melukai hati. Aku yang sudah salah menyediakan separuh hati, bukan secangkir kopi saat kedatangannya. Aku lah kini yang merasakan kepahitan cinta yang tak kan pernah ku miliki. Hanya rindu yang tersisa menyelinap masuk tanpa permisi. Aku sadar bahwa aku tak sendiri, masih ada Rei. Wanita yang terjebak atau mungkin tersesat dalam perasaan yang sama sejak kehilangan kedua penglihatannya.

            “Jadi, bagaimana kabarmu Rara?”

            Aku memandangnya tersenyum.

            I wish I was happy.”

Comments

Post a Comment