Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

Bersila di Balik Hujan


            Langit biru menyapa pagi hari bersama hembusan udara segar dan kicauan melodi burung-burung kecil yang membuatku bersyukur atas hidup yang akan ku jalani hari ini. Menggerakkan otot-otot tubuh seperlunya dan membersihkan tempat tidurku. Bangun dan berjalan santai menuju dapur, lalu menuangkan air  putih dalam gelas bening kaca. Satu teguk dua teguk ku habiskan sebanyak dua gelas. Dua gelas air putih di pagi hari setelah bangun tidur itu bagus loh untuk sirkulasi darah dalam tubuh dan mencegah kantuk yang tak berkesudahan.

            Hari ini adalah hari libur yang terjadwal yang tentunya selalui dilewati leh semua mahasiswa di kampusku. Ku lihat jam dinding sudah menginformasikan, bahwa sekarang sudah pukul tujuh pagi. Waktu yang tepat untuk mengeluarkan racun-racun dalam tubuhku. Aku pergi ke lantai atas dan menyalakan musik. Badanku bergerak ringan untuk meregangkan otot sebelum memulai gerakan yang panas dengan musik ini. Musik lain mulai mengalun, tubuhku bergerak sesuai dengan iramanya. Saat seperti ini, aku merasa bahwa diriku sekarang sedang melakukan konser solo di Stadion Gelora Bung Karno.

            Gemerlap cahaya dan sinar panggung menyorotiku yang menari indah sambil bernyanyi. Kamera panggung  tak lupa sesenti saja untuk menyorot gerak-gerik ku. Tiga layar besar menjadi bantuan untuk fans-fans ku yang datang dan duduk jauhh dari panggungku. Udara di Jakarta sangat panas, keringatku berjatuhan tapi senyumku tetap menawan. Ada perasaan bahagia dan bebas ketika di atas panggung, melalui lagu dan tarianku, aku seperti bercerita tentang diriku sendiri. Aku merasa senang, ternyata banyak orang lain yang tertarik terhadap ceritaku. Ucapan terimakasih pun tak ada titik atau komanya, karena perasaan itu akan selalu ada dalam benakku.

            Begitulah hidupku yang sebatas imajinasi di pagi hari. Aku mematikan musikku, tidur terlentang memandang langit-langit rumahku. Sepi. Sunyi. Bingung. Tanpa sebab aku tiba-tiba takut, bimbang, ragu, dan menyesal. Seandainya aku masih terus berdiri di atas panggung, apa yang akan terjadi kepadaku? Kini aku merindukan suasana pentas, menyuguhkan tarian di depan banyak orang. Berlatih siang malam tanpa henti. Aku tiba-tiba rindu akan sesuatu yang mungkin takkan ku rasakan kembali. Ya, mungkin ini akan menjadi kenangan hingga hari nanti.

            Waktu terus beputar tanpa berhenti. Ketika melihat jam dinding di rumahku, terkadang aku berpikir “Pasti enak banget hidup seseorang, kalau segala-galanya sudah pasti. Sudah pasti mau kemana, sudah pasti mau apa. Seru kali ya! Kayak jam dinding ini, pasti muternya, muternya pasti ke arah situ gak pernah putar balik atau salah putar. Yang dituju pun pasti nomornya, setelah satu, dua, lalu, tiga, dan begitu terus. Nanti balik lagi di satu.”

            Aku menerawang jauh langit abu-abu yang menyelimuti siang hari hingga sore hariku. Hatiku kian kelabu seperti hari ini. Hanya saja aku tak ingin menangis. Rintik-rintik air hujan seperti mengajakku bercengkrama tentang dunia ini, dunia manusia.. Sayang, aku tak mengerti apa yang mereka ungkapkan. Aku menerawang lagi, membayangkan diriku suatu hari nanti. Tapi, tak ada satu pun yang hadir dalam ruang imajinasi ini. Aku berpikir lagi, lebih dalam. Namun, kosong. Sunyi rasanya diri ini. Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana dengan mimpi yang dahulu kala hinggap?

Tunggu!

Mimpi?
Apakah aku bermimpi?
Apakah aku memiliki mimpi?
Mimpi apa?
Seperti apa?
Yang mana?
Apakah aku kehilangan dia?
Haruskan aku mencarinya kembali?
Atau menyerah saja?
Bukankah wanita hanya perlu mengikuti laki-laki?

Hah?!

Tidak!
Tidak begitu!
Wanita tidak seperti itu!
Aku bukan wanita bodoh!
Aku harus berjuang lagi!

Tapi, bagaimana aku harus berjuang?
Salahkah kalau aku bermimpi kembali, mencari yang baru dan meninggalkan yang dahulu?

Comments