Langit
biru menyapa pagi hari bersama hembusan udara segar dan kicauan melodi
burung-burung kecil yang membuatku bersyukur atas hidup yang akan ku jalani
hari ini. Menggerakkan otot-otot tubuh
seperlunya dan membersihkan tempat tidurku. Bangun dan berjalan santai menuju
dapur, lalu menuangkan air putih dalam
gelas bening kaca. Satu teguk dua teguk ku habiskan
sebanyak dua gelas. Dua gelas air putih di pagi hari setelah bangun tidur itu bagus loh untuk sirkulasi darah dalam tubuh dan mencegah kantuk yang tak berkesudahan.
Hari
ini adalah hari libur yang terjadwal yang tentunya selalui dilewati leh semua
mahasiswa di kampusku. Ku lihat jam dinding sudah menginformasikan, bahwa
sekarang sudah pukul tujuh pagi. Waktu yang tepat untuk mengeluarkan
racun-racun dalam tubuhku. Aku pergi ke lantai atas dan menyalakan musik. Badanku bergerak ringan untuk meregangkan otot
sebelum memulai gerakan yang panas dengan musik ini. Musik lain mulai mengalun,
tubuhku bergerak sesuai dengan iramanya. Saat seperti ini, aku merasa bahwa
diriku sekarang sedang melakukan konser solo di Stadion Gelora Bung Karno.
Gemerlap cahaya dan sinar panggung
menyorotiku yang menari indah sambil bernyanyi. Kamera panggung tak lupa sesenti saja untuk menyorot
gerak-gerik ku. Tiga layar besar menjadi bantuan untuk fans-fans ku yang datang
dan duduk jauhh dari panggungku. Udara di Jakarta sangat panas, keringatku
berjatuhan tapi senyumku tetap menawan. Ada perasaan bahagia dan bebas ketika
di atas panggung, melalui lagu dan tarianku, aku seperti bercerita tentang
diriku sendiri. Aku merasa senang,
ternyata banyak orang lain yang tertarik terhadap ceritaku. Ucapan terimakasih
pun tak ada titik atau komanya, karena perasaan itu akan selalu ada dalam
benakku.
Begitulah
hidupku yang sebatas imajinasi di pagi hari. Aku mematikan musikku, tidur
terlentang memandang langit-langit rumahku. Sepi. Sunyi. Bingung. Tanpa sebab
aku tiba-tiba takut, bimbang, ragu, dan menyesal. Seandainya aku masih terus
berdiri di atas panggung, apa yang akan terjadi kepadaku? Kini aku merindukan
suasana pentas, menyuguhkan tarian di depan banyak orang. Berlatih siang malam
tanpa henti. Aku tiba-tiba rindu akan sesuatu yang mungkin takkan ku rasakan
kembali. Ya, mungkin ini akan menjadi kenangan hingga hari nanti.
Waktu terus beputar tanpa berhenti. Ketika
melihat jam dinding di rumahku, terkadang aku berpikir “Pasti enak banget hidup
seseorang, kalau segala-galanya sudah pasti. Sudah pasti mau kemana, sudah
pasti mau apa. Seru kali ya! Kayak jam dinding ini, pasti muternya, muternya pasti
ke arah situ gak pernah putar balik atau salah putar. Yang dituju pun pasti
nomornya, setelah satu, dua, lalu, tiga, dan begitu terus. Nanti balik lagi di
satu.”
Aku menerawang jauh langit abu-abu
yang menyelimuti siang hari hingga sore hariku. Hatiku kian kelabu seperti hari
ini. Hanya saja aku tak ingin menangis. Rintik-rintik air hujan seperti
mengajakku bercengkrama tentang dunia ini, dunia manusia.. Sayang, aku tak
mengerti apa yang mereka ungkapkan. Aku menerawang lagi, membayangkan diriku
suatu hari nanti. Tapi, tak ada satu pun yang hadir dalam ruang imajinasi ini. Aku
berpikir lagi, lebih dalam. Namun, kosong. Sunyi rasanya diri ini. Apa yang
harus ku lakukan? Bagaimana dengan mimpi yang dahulu kala hinggap?
Tunggu!
Mimpi?
Apakah aku bermimpi?
Apakah aku memiliki mimpi?
Mimpi apa?
Seperti apa?
Yang mana?
Apakah aku kehilangan dia?
Haruskan aku mencarinya
kembali?
Atau menyerah saja?
Bukankah wanita hanya perlu
mengikuti laki-laki?
Hah?!
Tidak!
Tidak begitu!
Wanita tidak seperti itu!
Aku bukan wanita bodoh!
Aku harus berjuang lagi!
Tapi, bagaimana aku harus berjuang?
Salahkah kalau aku bermimpi
kembali, mencari yang baru dan meninggalkan yang dahulu?

Comments
Post a Comment