Assalamualaikum Kamu…
Kemarin setelah memutuskan untuk meluncurkan konten
terbaru, kami langsung membahas suatu isu yang sedang hangat dibicarakan. Apa
sih menurut kalian berjuang itu? Pernahkah kalian memperjuangkan sesuatu? Entah
itu memperjuangkan skripsi, persahabatan, hak, kebahagiaan atau bahkan cinta.
Pernah gak sih kalian merasa sia-sia atas segala usaha yang sudah kalian
kerahkan, karena kalian tidak mendapatkan dukungan?
Nah, kali ini kami akan berpendapat mengenai apresiasi dan langkanya hal
itu di Indonesia. Sadar gak sih kalian, kalau di Tanah Air kita ini miskin
apresiasi? Bahkan saking langkanya, apabila kita mengapresiasi usaha seseorang
atau memberikan dukungan terhadap orang tersebut, seringkali dianggap adanya “sesuatu” di antara kita. Contohnya dalam
kasus lawan jenis yang memberikan dukungan. Jadinya gampang baper :v
Contohnya nih, pada kasus
yang lagi rame-ramenya, pebulutangkis Ginting. Kami yakin kalau kalian sudah
tahu tentang berita itu, karena tidak sedikit orang yang membicarakan hal itu.
Sekilas aja nih ya, mas Ginting ini sudah berjuang untuk menang hingga melewati
batas kemampuannya sampe kakinya kram, gak bisa digerakkan, oh my god coba bayangin kalau kalian
yang kakinya kram. Belum lagi setelah pertandingan bukannya mendapat pujian
dukungan malah mendapat caki-maki dan hinaan. Bahkan dalam keadaan yang sudah
jelas dia kesakitan masih ada yang bilang ‘jangan pura-pura’ ‘malu-maluin
Indonesia, padahal dikit lagi menang’. Coba deh kalau kita yang ada di posisi
Ginting gimana. Kita kan gak tau bagaimana kerasnya dia berlatih, kita gak tau
berapa liter keringat yang keluar dari tubuhnya, kita gak tau berapa baju yang
harus dia cuci, sepatu yang harus dia ganti. Kita gak pernah tahu, kenapa kita
harus sok tahu dan menghakimi orang seenak sendiri?! Oh wahai KITA :’)
Contoh yang kedua nih ya.
Buat kalian yang sudah mengikuti kisahnya Niar yang pilu sedari awal, pasti kalian
mengenal sesorang yang bernama Mawar. Yup, Mawar adalah bunga
merah nan cantik, wangi namun berduri. Tajam pula durinya. Sekilas flashback
nih, Mawar itu selalu mengatur-atur Niar. Daripada mengarahkan, dia lebih suka
menyuruhnya untuk mengikuti a, b, c dan seterusnya. Mungkin bagi dia itu adalah
hal terbaik yang dapat dilakukan karena hal itu mampu mendongkrak prestasi Niar di sekolah. Namun, belum tentu Niar menyukainya caranya kan. Niar sudah
berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan seluruh arahan yang diberikan.
Sayang, Niar tidak seberuntung orang lain. Niar harus merasakan ketidakadilan,
sebagaimana yang dia ceritakan. Dia tidak mendapat satu pun dukungan bahkan
apresiasi dari Mawar. Salah ia disalahkan, benar ia pun tak menerima apa-apa, terkadang malah masih kurang di matanya.
Mengapa dunia ini begitu kejam?
Btw, bagi kalian yang belum tahu ceritanya Mawar, bisa baca di postingan blog ini mulai dari episode 2 yaa!!
Nah, dari sekilas cerita
di atas. Mereka adalah contoh manusia yang hampir terbunuh. Dan kita adalah
pembunuhnya. Kita menjadi seorang pembunuh ketika kita merasa benar menyalahkan
orang lain. Kita berbicara tanpa berpikir. Padahal kita itu manusia yang selalu dekat
dengan nyawa. Meskipun kita bukan seorang pejuang, tetapi kita bisa menjadi sebab
nyawa itu hidup atau mati. Bukan berarti kita bisa menentukan nyawa itu hidup
atau mati, karena itu kehendak Tuhan. Kita hanya SEBAB nyawa itu bisa hidup
atau tidak.
Percaya atau tidak, hingga
saat ini Niar masih berusaha untuk membenahi kerusakan mentalnya. She tries to recover herself. By herself. Oh
no! With God always... hehe... Dia berusaha mendapat dukungan dari orang
lain serta dirinya sendiri. Itulah, pentingnya kita memberikan apresiasi kepada
orang lain. Coba bayangin, kalau mas Ginting malam itu down terus memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri bagaimana?
Bukannya medali yang kita dapat malah duka yang kita peroleh.. in
case dia atlet yang bermental kuat, tapi tidak menutup kemungkinan dia bisa
melakukan hal tersebut. Karena kita manusia.
Well, as a human. Kita tuh punya dua mata dan kita juga memiliki dua
telinga. Bahkan otak aja dua sisi. So, seharusnya segala sesuatu harus dilihat,
didengar dan dipahami dari dua sisi jugaa. Think
before doing. Eh, kalau sekarang think
before typing! Your mouth kill a person, your finger kill a person too. Yuk
guys, kita budayakan memberi
apresiasi kepada semua orang. Budayakan “Terimakasih”, “Maaf” dan “Tolong”. Start from now!
Hentikan semua kenyinyiran
itu, karena semua nyinyiran itu membunuh manusia secara perlahan. Yuk jadi agent of change! Seperti kutipan dari
HR. Imam Baihaqi “Hal yang paling kali
pertama dilarang Tuhanku setelah (larangan) menyembah berhala dan meminum
minuman keras adalah menghujat seseorang.”
Nah, itulah hasil
pemikiran kami. Kalau kalian bagaimana? Speak
up, yuk!
Comments
Post a Comment