Be yourself. Sebuah statement yang sering ku jumpai, tetapi tak satupun ku kenali.
Hari ini hari Jumat, sepulang dari kampus aku
menyempatkan diri mengunjungi toko buku di kota kecil ini. Aku membutuhkan me time. Beberapa hari ini, aku tidak
benar-benar dalam kondisi yang baik. Hal itu membuatku lelah, bukan tubuhku
tapi hatiku. Kemarin malam, aku hampir saja menyerah kembali. Menyerah dalam
kepasrahan hidup, kematian. Meskipun aku sudah mewanti-wanti diriku untuk tidak
menyerah. Karena masih ada Yang Maha Hidup. Untung saja ada sahabatku yang mau
mendengarkan keluh kesahku. Aku terisak ketika aku menyadari bahwa aku lelah. Meskipun
sebenarnya aku tidak tahu di bagian mana yang lelah, tapi sepertinya hati tak
pernah berbohong ketika ia benar-benar ingin istirahat.
Am I loving myself? Or
Am I lost? Pertanyaan ini selalu muncul dalam benakku. Dan dari sinilah,
permasalahanku tentang hidup ini berawal. Entah mengapa, aku merasa bahwa aku
tersesat. Aku merasa sedang berjalan di sebuah lorong gelap tanpa lampu,
menoleh ke kanan ke kiri yang ku jumpai hanyalah dinding kokoh tak bersimpati. Aku
tak membawa apapun ketika berjalan. Kalau aku takut aku hanya memeluk diriku
sendiri. Aku memilih untuk berjalan perlahan daripada berlari ketika takut. Dan
selama ini, aku hanya berjalan menuju pintu di depan sana yang bercahaya. Bahkan aku sempat ragu, adakah pintu itu?
Kadang ujung yang ingin ku capai itu bercahaya, kadang
semi-semi redup. Namun, tidak lama kemudian bercahaya kembali. Suatu hari, aku
berhenti. Wajahku muram dan derai tangisku semalaman membekas jelas. Aku menoleh ke
belakang. Gelap. Mencekam. Aku takut, aku menangis kembali. Aku berbalik menatap ke
arah cahaya itu. Lebih dalam. Apa hanya kamu, Cahaya, yang bisa ku percaya
saat ini? Aku melihat dinding-dinding yang kokoh di sampingku. Putih pucat, kotor, kusam
dan banyak debu-debu yang menempel. Tapi, masih sangat kokoh. Dinding ini
mewakili kesan tua, tak peduli, tapi kokoh. Bahkan dalam sedihku, dinding ini
tak sekalipun berucap. Mereka hanya melihatku. Aku menatapnya rapuh, lalu hanya
mampu menangis lebih dalam sambil menggenggam kedua tanganku di dada. Aku lanjut
berjalan.
Hari tidak selamanya
mendung. Dinding juga tak semuanya putih pucat, kotor, kusam dan berdebu. Ada waktu
dimana aku berjalan begitu riangnnya, sambil aku bersiul dan melompat-lompat. Bahkan
tak malu aku pun berputar dan menari-nari saking bahagianya. Dinding-dinding
itu bahkan bernyanyi untukku. Senyuman di setiap dinding itu merekah lebar dan
tentunya enak sekali dipandang. Mereka berwarna sangat indah. Warna apapun
bisa kalian temukan. Dari pink dengan burung-burung yang terbang, lalu dinding
seperti taman di padang luas. Sungguh indah, ada juga dinding yang biru dan
berawan sedikit. Dinding itu yang menemaniku dalam suasana tenang dan membuatku
mampu berfikir jernih, dan masih banyak lagi.
Tapi, hari ini. Dinding-dinding
itu tidak menemaniku. Aku semakin sedih, karena aku rasa dinding itu hanya
tersenyum ketika aku bahagia. Tapi, ketika aku sedih, menangis dan merana
seperti ini... mereka diam. Satupun tak bersuara, bahkan satupun lagu sedih tak
bersenandung. Mereka hanya melihat dengan tatapan tanpa suara. Mereka melirikku
rendah. Di sinilah, aku merasa sendiri. Aku merasa hilang.
---
Aku lelah. Aku lelah memperjuangkan perasaan yang
semakin lama semakin terabaikan. Aku lelah untuk menyadari, bahwa aku hanya
sendiri. Tapi, aku juga lelah. Karena aku tidak tahu diriku sendiri. Siapakah aku?
Aku lelah. Bahkan kepada Tuhan, aku sudah meminta petunjuk. Namun, bagaimana
mungkin aku masih belum menyadarinya? Tuhan,
Kau mendengarkanku bukan?
Waktu membuatku banyak belajar untuk mengetahui. Manusia bukanlah tempat yang tepat untukku. Mereka lah
dinding itu. Mereka pernah membuatku bahagia, mereka mau menemaniku dalam
keadaan bahagia. Sayang, mereka sombong. Bahkan, aku harus mengeluh untuk membuat mereka
bersuara. Bahkan, setelah mengeluh pun. Mereka hanya melirikku, tak mau
membantuku melewati hari yang mendung ini.
Manusia.
Manusia membuatku lupa diri. Manusia membuatku
tidak tahu siapa aku. Manusia membuatku lupa, bahwa Tuhan itu lebih mampu. Manusia
membuatku lupa, bahwa aku juga manusia.

Comments
Post a Comment