Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

AKU #9 AKU MANUSIA

         


   Be yourself. Sebuah statement yang sering ku jumpai, tetapi tak satupun ku kenali.


            Hari ini hari Jumat, sepulang dari kampus aku menyempatkan diri mengunjungi toko buku di kota kecil ini. Aku membutuhkan me time. Beberapa hari ini, aku tidak benar-benar dalam kondisi yang baik. Hal itu membuatku lelah, bukan tubuhku tapi hatiku. Kemarin malam, aku hampir saja menyerah kembali. Menyerah dalam kepasrahan hidup, kematian. Meskipun aku sudah mewanti-wanti diriku untuk tidak menyerah. Karena masih ada Yang Maha Hidup. Untung saja ada sahabatku yang mau mendengarkan keluh kesahku. Aku terisak ketika aku menyadari bahwa aku lelah. Meskipun sebenarnya aku tidak tahu di bagian mana yang lelah, tapi sepertinya hati tak pernah berbohong ketika ia benar-benar ingin istirahat.

            Am I loving myself? Or Am I lost? Pertanyaan ini selalu muncul dalam benakku. Dan dari sinilah, permasalahanku tentang hidup ini berawal. Entah mengapa, aku merasa bahwa aku tersesat. Aku merasa sedang berjalan di sebuah lorong gelap tanpa lampu, menoleh ke kanan ke kiri yang ku jumpai hanyalah dinding kokoh tak bersimpati. Aku tak membawa apapun ketika berjalan. Kalau aku takut aku hanya memeluk diriku sendiri. Aku memilih untuk berjalan perlahan daripada berlari ketika takut. Dan selama ini, aku hanya berjalan menuju pintu di depan sana yang bercahaya. Bahkan aku sempat ragu, adakah pintu itu?

            Kadang ujung yang ingin ku capai itu bercahaya, kadang semi-semi redup. Namun, tidak lama kemudian bercahaya kembali. Suatu hari, aku berhenti. Wajahku muram dan derai tangisku semalaman membekas jelas. Aku menoleh ke belakang. Gelap. Mencekam. Aku takut, aku menangis kembali. Aku berbalik menatap ke arah cahaya itu. Lebih dalam. Apa hanya kamu, Cahaya, yang bisa ku percaya saat ini? Aku melihat dinding-dinding yang kokoh di sampingku. Putih pucat, kotor, kusam dan banyak debu-debu yang menempel. Tapi, masih sangat kokoh. Dinding ini mewakili kesan tua, tak peduli, tapi kokoh. Bahkan dalam sedihku, dinding ini tak sekalipun berucap. Mereka hanya melihatku. Aku menatapnya rapuh, lalu hanya mampu menangis lebih dalam sambil menggenggam kedua tanganku di dada. Aku lanjut berjalan.

            Hari tidak selamanya mendung. Dinding juga tak semuanya putih pucat, kotor, kusam dan berdebu. Ada waktu dimana aku berjalan begitu riangnnya, sambil aku bersiul dan melompat-lompat. Bahkan tak malu aku pun berputar dan menari-nari saking bahagianya. Dinding-dinding itu bahkan bernyanyi untukku. Senyuman di setiap dinding itu merekah lebar dan tentunya enak sekali dipandang. Mereka berwarna sangat indah. Warna apapun bisa kalian temukan. Dari pink dengan burung-burung yang terbang, lalu dinding seperti taman di padang luas. Sungguh indah, ada juga dinding yang biru dan berawan sedikit. Dinding itu yang menemaniku dalam suasana tenang dan membuatku mampu berfikir jernih, dan masih banyak lagi.

            Tapi, hari ini. Dinding-dinding itu tidak menemaniku. Aku semakin sedih, karena aku rasa dinding itu hanya tersenyum ketika aku bahagia. Tapi, ketika aku sedih, menangis dan merana seperti ini... mereka diam. Satupun tak bersuara, bahkan satupun lagu sedih tak bersenandung. Mereka hanya melihat dengan tatapan tanpa suara. Mereka melirikku rendah. Di sinilah, aku merasa sendiri. Aku merasa hilang.

---

            Aku lelah. Aku lelah memperjuangkan perasaan yang semakin lama semakin terabaikan. Aku lelah untuk menyadari, bahwa aku hanya sendiri. Tapi, aku juga lelah. Karena aku tidak tahu diriku sendiri. Siapakah aku? Aku lelah. Bahkan kepada Tuhan, aku sudah meminta petunjuk. Namun, bagaimana mungkin aku masih belum menyadarinya? Tuhan, Kau mendengarkanku bukan?

           Waktu membuatku banyak belajar untuk mengetahui. Manusia bukanlah tempat yang tepat untukku. Mereka lah dinding itu. Mereka pernah membuatku bahagia, mereka mau menemaniku dalam keadaan bahagia. Sayang, mereka sombong. Bahkan, aku harus mengeluh untuk membuat mereka bersuara. Bahkan, setelah mengeluh pun. Mereka hanya melirikku, tak mau membantuku melewati hari yang mendung ini.

           Manusia. 

Manusia membuatku lupa diri. Manusia membuatku tidak tahu siapa aku. Manusia membuatku lupa, bahwa Tuhan itu lebih mampu. Manusia membuatku lupa, bahwa aku juga manusia.

Comments