Blog Archive

Labels

Advertisement

Report Abuse

Popular Posts

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

NEW POST!

Popular Posts

Skip to main content

CINTA BAYU : Ayu



Aku Ayu

Halo semuanya! Kenalkan aku mahasiswa di salah satu universitas di Malang. Umurku baru akan menginjak 20 tahun. Alhamdulillah. Tapi gila banget masih bisa hidup sampai sekarang. Karena aku gak pernah mikirin sampai bisa hidup selama ini. Aku kira nanti setelah SMP aku udah gak hidup, eh ternyata masih hidup sampai sekarang.

Sekarang, kesibukanku sedang menuju puncak. Alias sibuknya mau pindah level sibuuukk bangett. Semester ini aku sibuk kuliah, organisasi, kerja dan sibuk mewujudkan cita-citaku. Kalau dibilang capek, itu sudah pasti. Hanya saja minusnya, rasa capek ku itu tidak balas dengan dukungan. Jadilah aku mendukung diri sendiri, jatuh bangun sendiri.. kelihatannya mandiri sih. Tapi menyakiti diri. Oh iya, aku sekarang sedang bekerja menjadi guru les privat. Muridku memang tidak banyak, tapi banyak pengalamannya. Hehe..

Aku itu orang yang plegmatis. Artinya aku mencintai perdamaian. Tapi, saking damainya hidup ini, aku merasa bosan. Karena hidupku flat-flat aja. Serasa hidupku ini kurang tantangan, jadinya kisahku tidak berkembang. Aku juga orang yang terlalu sensitif. Jadi, apa-apa langsung dibawa ke hati gitu. Wajarlah kalau aku gampang baperan, dikit-dikit sakit hati. Lemah banget memang, tapi itu lah aku.

Di malam yang sunyi ini, ditemani segelas greentea latte. Aku ingin bercerita tentang kenangan ku bersama seseorang yang pernah ku cintai. Aku menuliskan di sini, karena aku ingin membagikan bahwa masa lalu kita begitu menyenangkan. Meskipun aku tidak tahu, kalian akan menyukainya atau tidak. Namun, aku hanya ingin mengakui pada diriku sendiri, lebih-lebih kepada dunia ini. Bahkan hingga menggema sampai cakrawala sekalipun, aku ingin mengaku bahwa kami pernah saling cinta. Saling suka dan kami bahagia.

Aku pernah jatuh cinta dengan keadaan menggebu-gebu, sampai aku terlihat terlalu memaksakan egoku. Aku juga pernah jatuh cinta dengan keadaan biasa-biasa saja, sampai aku merasa bahwa hubungan ini membosankan. Aku juga pernah jatuh cinta secukupnya, sampai aku merasa bahwa hubungan ini diambang ketidak pastian. Itulah aku, Dian Ayu.

-cinta bayu-

Waktu itu pagi-pagi sekali, aku lari terbirit-birit. Aku menyambar bedak dan lipstick ku begitu saja. Mengoleskannya pada wajahku dan mengembalikan ke tempat terdekat. Rambutku ku rapikan secepat yang ku bisa, lalu menyambar kerudung instanku. Setelah beres aku memasukkan hp dan dompet ke dalam tas kecilku, menyambar jaket lalu menuruni tangga. Aku terhenti di tengah-tengah, baru ingat lupa menggunakan parfum. Aku kembali lagi ke kamar dan menyemprotkan parfum ke tubuhku asal-asalan. Yang penting wangi.

Kondisi terburu-buru seperti ini tidak memungkinkan aku untuk sarapan. Minum saja tidak mungkin, aku langsung bersiap-siap mengeluarkan sepeda ku. Lalu, berangkat menuju sebuah tempat yang belum pernah sekalipun ku kunjungi. Tempat yang baru bagiku.

Studi musik. Yap! Studio musik ini tidak pernah aku kunjungi. Setelah sampai di sebuah studio musik, aku langsung masuk tanpa permisi. Memang itu tidak sopan, tapi bagi seseorang yang terburu-buru itu bukanlah hal terpenting. Aku melihat Rere sudah berkacak pinggang dan teman-teman yang lainnya juga sudah terlihat bosan menunggu ku.

DELAPAN LEBIH LIMA! SATU JAM AYU!” gertak Rere

Rere adalah temanku yang paling cerewet.

“Iyaa, sorry – sorry. Macet tadi!!” belaku

“Bilang aja kamu telat bangun pagi kan, Pev?” tanya Helmy

“Hehe..”

“Nyengir aja!!” kata Dion sewot

Pev adalah nama panggilanku di sini. Tapi, hanya Dion dan Helmy aja yang manggil aku begitu, mungkin karena aku cantik kali yaa jadi dipanggil Pev, biar sama kayak Pevita Pearce gitu.

Teman-teman yang sudah sedari tadi menungguku adalah temanku satu band. Disamping aku kuliah, aku juga anak band yang mengisi sebagai vokalis utama. Band kami terdiri dari Rere (ketua band sekaligus vokalist), Dion (keyboard), Jaka (Gitar), Helmy (Drum) dan aku. Kami sudah merintis band ini mulai kami masuk kuliah. Tapi, hari ini ada orang baru. Dia duduk di antara Dion dan Jaka.

Dia adalah laki-laki. Badannya kecil, tidak begitu tinggi, tapi, lebih tinggi dia dibandingkan aku. Dia memakai kemeja batik tipis bercorak sederhana tidak terlalu ramai, ditutupi dengan jaket jeansnya. Ia mengenakan celana jeans dan kaos kaki polkadot hitam. Aneh, tapi entah mengapa itu pas di tubuhnya. Jadi terkesan cool sekali. Dia sungguh ramah, ia tersenyum memandangku. Aku jadi kikuk, tapi sebisa mungkin tak ku tunjukkan.

“Hai... kamu?” tanyaku sambil mengulurkan tanganku

“Hai.. aku Bata” jawabnya sambil menjabat tanganku

“Ayu, mas Bata ini bakalan jadi member baru dari band kita. Dia posisinya dibagian Bass. Tapi, dia cuma sebentar di band ini, Cuma buat kita lomba nanti aja” jelas Jaka khas dengan suara medoknya.

“Oh gitu.. kok aku gak dikasih tau sih!” protesku kepada teman-teman yang lain.

“...”

“Kamu sibuk sih..” sindir Rere.

“Re.. ada teknologi yang namanya WHATS APP! Apa susahnya ngomong di grup juga.”

“Woy! Kita udah ngomong di grup, lo aja yang gak baca Pevita Pearce!” jawab Helmy ketus.

“Ya udah ya udah.. yuk latihan” ajak Dion.

Kami memulai latihan perdana kami. Dalam dua bulan ke depan, kita akan mengikuti lomba band antar kota. Oleh sebab itu, kita mempersiapkan segalanya mulai dari sekarang. Mumpung kita lagi libur kuliah juga, jadi kita sempatin untuk kumpul sekaligus latihan. Anyway, band aku ini sudah sering mengisi acara di dalam maupun di luar kampus. Tapi, kita belum pernah ikut kompetisi band. So, we decided to join this competition 2 months again. Hope we can grab our first win!

Setelah dua jam latihan, kami memutuskan untuk break sebentar. Rere as always mengajak Helmy buat makan bakso. Gak tau dah, nemu bakso di mana. Sedangkan Dion dan Jaka biasanya sih nemenin aku di studio, ngobrol-ngobrol biasa. Kadang, kalau lagi laper kami semua keluar beli bakso. Tapi, kali ini ada yang beda. Dion dan Jaka juga ingin makan bakso, sedangkan aku dijadikan jaminan di studio ini. Jadilah aku sendiri, tapi eh! Aku barusan sadar, aku tidak sendiri. Masih ada Bata.

“Ayu, kamu kuliah jurusan apa?” tanya Bata sambil duduk di samping ku

“Aku pendidikan bahasa Indonesia. Kamu?”

“Aku teknik mesin di kampus seberang.”

“Loh, kamu anak kampus seberang?”

Bata mengangguk.

“Ku kira kita sekampus. Siapa yang ngajak kamu gabung di sini?”

“Dion.”

“Kamu temennya, Dion?”

“Iya, kita pernah ada di satu organisasi gitu. Jadi kenal deh sama Dion.”

“Oh gitu...”

“Kamu kenapa mau nge-band, Yu?”

“Ngisi waktu luang aja. Lagian kita semua nge-band kalau lagi libur aja. Kita jarang ngumpul kalau lagi perkuliahan. Takutnya ganggu gitu, Ta.”

Bata mengangguk-angguk.

“Suara kamu bagus, Yu.”

Aku menoleh heran. Well, even I’m a vocalist here. I never think, that I have beautiful voice. I’m not a good singer tho.

“Pasti kamu sering nyanyi ya.”

“Enggak kok. Biasa aja.. kalau moodku bagus aja nyanyi.”

“Aku dari dulu pengen bisa nyanyi, tapi suaraku jelek. Hehe..”

“Kata siapa?”

“Kataku.”

“Masa?”

Bata tersenyum.

Tidak lama kemudian, teman-teman kembali. Dion dan Jaka membawakan roti untuk ku dan Bata. Kami memakannya lalu bersiap untuk latihan kembali. Selama latihan, kami jarang sekali berbuat kesalahan. Kami benar-benar menikmati latihan kami, seperti kami tampil di depan penonton. Aku sesekali melirik Bata, melihatnya dengan enjoy memainkan Bass di tangannya. Sesekali dia tersenyum menyadari hal itu. Aku juga ikut tersenyum.

Matahari mulai mendekat ke peraduannya. Aku memutuskan untuk ke musholla terdekat menjalankan sholat. Saat sudah selesai berwudhu dan membenarkan hijabku, Bata memintaku untuk menunggunya. Ia menginginkan sholat berjamaah denganku. Aku mengagguk. Sambil menunggunya, aku memakai mukenahku.

Aku, Bata dan Jaka sholat berjamaah bersama. Sungguh, first impression yang menyenangkan. Aku mencoba menahan senyumku ketika sholat. Ku teguhkan dalam hatiku, “Yu, kamu tuh lagi komunikasi sama Allah. Yang khusu’!”

Seusai sholat, aku memutuskan untuk segera pulang. Padahal, kami berniat untuk makan malam bersama. Tapi, dengan alasan bahwa rumahku jauh. Aku menolak tawaran mereka. Jadilah, aku pergi menuju rumah seorang diri.

-cinta bayu-

Aku merebahkan tubuhku di kasur, sambil membuka-buka novelku. Menikmati me time yang tertunda dengan sebuah novel adalah hobby ku. Sambil bersenandung aku mencari halaman terakhir kali aku membaca novel. Setelah menemukannya, hpku bergetar.

Rere menelponku.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Lo di mana?”

“Di rumah. Kenapa?”

“Ehhhh, menurut lo Bata itu gimana orangnya?”

“Apaan?”

“Bata!! Bata itu gimana menurut lo?”

“Ooh..”

“Jangan bilang lo udah lupa Bata yang mana!”

“Ya kagak lah! Lo kira gue amnesia apa!”

“Habisnya jawaban lo cuma ‘ooh’ doang!”

“Emang kenapa sih, nanyain Bata tiba-tiba?”

“Mmmmm... “ ku dengar dia terkekeh sendiri

“Kok ketawa? Ada yang lucu?”

“....hehehe...”

“Oh gue tauu!! Bata habis ngupil di depan lo, kan?!!!”

“Hah?! Ya enggak lah!”

“Lah terus ngapain senyum-senyum sendiri, sambil ketawa? Gue kira lo habis liat Bata ngupil, terus lo pikir itu lucu!”

“Itu JOROK NAMANYA AYU! Ihh! Lo tuh cantik-cantik gak waras ye?”

“Serah lo dah... cepetan mau ngomong apa?”

“Gue dari tadi udah nanya, Bata itu gimana menurut lo?”

“Ooh.. baik. Ramah.”

“Terus?”

“Udah.”

“Lah.. kok pendek banget!”

First impression gak usah panjang-panjang!”

“Ya udah deh...”

“Kenapa emang?”

“Ganteng gak?”

“Mmmmm... masih gantengan Jin BTS sih”

“Ihh tau ah ngobrol sama lo! Pusing gue!” Tut tut tut…

Rere mengakhiri telpon kami. Aku terkekeh senang, menggoda Rere itu seperti menggoda anak kecil. Menyenangkan dan memuaskan, hahaha...

Btw, gara-gara Rere aku jadi kepikiran. Bata itu orangnya baik dan ramah. Tapi, lebih dari itu dia orangnya enak diajak ngobrol juga. Lucu sih kadang-kadang, rada polos juga. Yang lebih dari itu, dia mengimami sholat dengan baik sore tadi. Aku jadi senyum-senyum sendiri mengingatnya.

“Eh! Kok senyum sih! Ah!” aku kembali fokus ke novelku.

-to be continue-

Comments