Aku Ayu
Halo semuanya!
Kenalkan aku mahasiswa di salah satu universitas di Malang. Umurku baru akan
menginjak 20 tahun. Alhamdulillah. Tapi gila banget masih bisa hidup sampai
sekarang. Karena aku gak
pernah mikirin sampai bisa hidup selama ini. Aku kira nanti setelah SMP aku
udah gak hidup, eh ternyata masih hidup sampai sekarang.
Sekarang, kesibukanku sedang menuju puncak. Alias sibuknya mau pindah level sibuuukk bangett. Semester ini aku sibuk kuliah, organisasi, kerja dan
sibuk mewujudkan cita-citaku. Kalau dibilang capek, itu sudah pasti. Hanya saja
minusnya, rasa capek ku itu tidak balas dengan dukungan. Jadilah aku mendukung
diri sendiri, jatuh bangun sendiri.. kelihatannya mandiri sih. Tapi menyakiti
diri. Oh iya, aku sekarang sedang bekerja menjadi guru les privat. Muridku
memang tidak banyak, tapi banyak pengalamannya. Hehe..
Aku itu orang yang plegmatis. Artinya
aku mencintai perdamaian. Tapi, saking damainya hidup ini, aku merasa bosan.
Karena hidupku flat-flat aja. Serasa
hidupku ini kurang tantangan, jadinya kisahku tidak berkembang. Aku juga orang
yang terlalu sensitif. Jadi, apa-apa langsung dibawa ke hati gitu. Wajarlah kalau
aku gampang baperan, dikit-dikit sakit hati. Lemah banget memang, tapi itu lah
aku.
Di
malam yang sunyi ini, ditemani segelas greentea
latte. Aku ingin bercerita tentang kenangan ku bersama seseorang yang
pernah ku cintai. Aku menuliskan di sini, karena aku ingin membagikan bahwa
masa lalu kita begitu menyenangkan. Meskipun aku tidak tahu, kalian akan
menyukainya atau tidak. Namun, aku hanya ingin mengakui pada diriku sendiri,
lebih-lebih kepada dunia ini. Bahkan hingga menggema sampai cakrawala sekalipun,
aku ingin mengaku bahwa kami pernah saling cinta. Saling suka dan kami bahagia.
Aku
pernah jatuh cinta dengan keadaan menggebu-gebu, sampai aku terlihat terlalu
memaksakan egoku. Aku juga pernah jatuh cinta dengan keadaan biasa-biasa saja,
sampai aku merasa bahwa hubungan ini membosankan. Aku juga pernah jatuh cinta secukupnya,
sampai aku merasa bahwa hubungan ini diambang ketidak pastian. Itulah aku, Dian
Ayu.
-cinta bayu-
Waktu
itu pagi-pagi sekali, aku lari terbirit-birit. Aku menyambar bedak dan lipstick ku begitu saja. Mengoleskannya pada wajahku dan
mengembalikan ke tempat terdekat. Rambutku ku rapikan secepat yang ku bisa,
lalu menyambar kerudung instanku. Setelah beres aku memasukkan hp dan dompet ke
dalam tas kecilku, menyambar jaket lalu menuruni tangga. Aku terhenti di
tengah-tengah, baru ingat lupa menggunakan parfum. Aku kembali lagi ke kamar
dan menyemprotkan parfum ke tubuhku asal-asalan. Yang penting wangi.
Kondisi terburu-buru seperti ini tidak memungkinkan aku untuk sarapan. Minum
saja tidak mungkin, aku langsung bersiap-siap mengeluarkan sepeda ku. Lalu,
berangkat menuju sebuah tempat yang belum pernah sekalipun ku kunjungi. Tempat
yang baru bagiku.
Studi musik. Yap! Studio musik ini tidak pernah aku kunjungi. Setelah
sampai di sebuah studio musik, aku langsung masuk tanpa permisi. Memang itu tidak
sopan, tapi bagi seseorang yang terburu-buru itu bukanlah hal terpenting. Aku
melihat Rere sudah berkacak pinggang dan teman-teman yang lainnya juga sudah
terlihat bosan menunggu ku.
“DELAPAN LEBIH LIMA!
SATU JAM AYU!” gertak Rere
Rere
adalah temanku yang paling cerewet.
“Iyaa, sorry –
sorry. Macet tadi!!” belaku
“Bilang aja kamu
telat bangun pagi kan, Pev?” tanya Helmy
“Hehe..”
“Nyengir aja!!”
kata Dion sewot
Pev adalah nama
panggilanku di sini. Tapi, hanya Dion dan Helmy aja yang manggil aku begitu, mungkin
karena aku cantik kali yaa jadi dipanggil Pev, biar sama kayak Pevita Pearce
gitu.
Teman-teman yang
sudah sedari tadi menungguku adalah temanku satu band. Disamping aku kuliah,
aku juga anak band yang mengisi sebagai vokalis utama. Band kami terdiri dari
Rere (ketua band sekaligus vokalist),
Dion (keyboard), Jaka (Gitar), Helmy (Drum) dan aku. Kami sudah merintis band
ini mulai kami masuk kuliah. Tapi, hari ini ada orang baru. Dia duduk di antara
Dion dan Jaka.
Dia adalah
laki-laki. Badannya kecil, tidak begitu tinggi, tapi, lebih tinggi dia
dibandingkan aku. Dia memakai kemeja batik tipis bercorak sederhana tidak
terlalu ramai, ditutupi dengan jaket jeansnya. Ia mengenakan celana jeans dan
kaos kaki polkadot hitam. Aneh, tapi entah mengapa itu pas di tubuhnya. Jadi
terkesan cool sekali. Dia sungguh ramah, ia tersenyum memandangku. Aku jadi
kikuk, tapi sebisa mungkin tak ku tunjukkan.
“Hai... kamu?”
tanyaku sambil mengulurkan tanganku
“Hai.. aku Bata”
jawabnya sambil menjabat
tanganku
“Ayu, mas Bata
ini bakalan jadi member baru dari band kita. Dia posisinya dibagian Bass. Tapi,
dia cuma sebentar di band ini, Cuma buat kita lomba nanti aja” jelas Jaka khas
dengan suara medoknya.
“Oh gitu.. kok
aku gak dikasih tau sih!” protesku
kepada teman-teman yang lain.
“...”
“Kamu sibuk
sih..” sindir Rere.
“Re.. ada
teknologi yang namanya WHATS APP! Apa susahnya ngomong di grup juga.”
“Woy! Kita udah
ngomong di grup, lo aja yang gak baca Pevita Pearce!” jawab Helmy ketus.
“Ya udah ya
udah.. yuk latihan” ajak Dion.
Kami memulai
latihan perdana kami. Dalam dua bulan ke depan, kita akan mengikuti lomba band
antar kota. Oleh sebab itu, kita mempersiapkan segalanya mulai dari sekarang.
Mumpung kita lagi libur kuliah juga, jadi kita sempatin untuk kumpul sekaligus
latihan. Anyway, band aku ini sudah sering mengisi acara di dalam maupun di
luar kampus. Tapi, kita belum pernah ikut kompetisi band. So, we decided to join this competition 2 months again. Hope we can
grab our first win!
Setelah dua jam
latihan, kami memutuskan untuk break
sebentar. Rere as always mengajak
Helmy buat makan bakso. Gak tau dah, nemu bakso di mana. Sedangkan Dion dan
Jaka biasanya sih nemenin aku di studio, ngobrol-ngobrol biasa. Kadang, kalau
lagi laper kami semua keluar beli bakso. Tapi, kali ini ada yang beda. Dion dan
Jaka juga ingin makan bakso, sedangkan aku dijadikan jaminan di studio ini.
Jadilah aku sendiri, tapi eh! Aku barusan sadar, aku tidak sendiri. Masih ada
Bata.
“Ayu, kamu
kuliah jurusan apa?” tanya Bata sambil
duduk di samping ku
“Aku pendidikan
bahasa Indonesia. Kamu?”
“Aku teknik
mesin di kampus seberang.”
“Loh, kamu anak
kampus seberang?”
Bata mengangguk.
“Ku kira kita
sekampus. Siapa yang ngajak kamu gabung di sini?”
“Dion.”
“Kamu temennya,
Dion?”
“Iya, kita
pernah ada di satu organisasi gitu. Jadi kenal deh sama Dion.”
“Oh gitu...”
“Kamu kenapa mau
nge-band, Yu?”
“Ngisi waktu
luang aja. Lagian kita semua nge-band kalau lagi libur aja. Kita jarang ngumpul
kalau lagi perkuliahan. Takutnya ganggu gitu, Ta.”
Bata
mengangguk-angguk.
“Suara kamu
bagus, Yu.”
Aku menoleh
heran. Well, even I’m a vocalist here. I
never think, that I have beautiful voice. I’m not a good singer tho.
“Pasti kamu
sering nyanyi ya.”
“Enggak kok.
Biasa aja.. kalau moodku bagus aja nyanyi.”
“Aku dari dulu
pengen bisa nyanyi, tapi suaraku jelek. Hehe..”
“Kata siapa?”
“Kataku.”
“Masa?”
Bata tersenyum.
Tidak lama
kemudian, teman-teman kembali. Dion dan Jaka membawakan roti untuk ku dan Bata.
Kami memakannya lalu bersiap untuk latihan kembali. Selama latihan, kami jarang
sekali berbuat kesalahan. Kami benar-benar menikmati latihan kami, seperti kami
tampil di depan penonton. Aku sesekali melirik Bata, melihatnya dengan enjoy
memainkan Bass di tangannya. Sesekali
dia
tersenyum menyadari hal itu. Aku juga ikut tersenyum.
Matahari mulai mendekat
ke peraduannya. Aku
memutuskan untuk ke musholla terdekat menjalankan sholat. Saat sudah selesai
berwudhu dan membenarkan hijabku, Bata memintaku untuk menunggunya. Ia
menginginkan
sholat berjamaah denganku.
Aku mengagguk. Sambil menunggunya, aku memakai mukenahku.
Aku, Bata dan
Jaka sholat berjamaah bersama. Sungguh, first
impression yang menyenangkan. Aku mencoba menahan senyumku ketika sholat.
Ku teguhkan dalam hatiku, “Yu, kamu tuh lagi komunikasi sama Allah. Yang khusu’!”
Seusai sholat,
aku memutuskan untuk segera pulang. Padahal, kami berniat untuk makan malam
bersama. Tapi, dengan alasan bahwa rumahku jauh. Aku menolak tawaran mereka.
Jadilah, aku pergi menuju rumah seorang diri.
-cinta
bayu-
Aku merebahkan
tubuhku di kasur, sambil membuka-buka novelku. Menikmati me time yang tertunda dengan sebuah novel adalah hobby ku. Sambil bersenandung aku
mencari halaman terakhir
kali aku membaca novel. Setelah menemukannya, hpku
bergetar.
Rere menelponku.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.
Lo di mana?”
“Di rumah.
Kenapa?”
“Ehhhh, menurut
lo Bata itu gimana orangnya?”
“Apaan?”
“Bata!! Bata itu
gimana menurut lo?”
“Ooh..”
“Jangan bilang
lo udah lupa Bata yang mana!”
“Ya kagak lah!
Lo kira gue amnesia apa!”
“Habisnya
jawaban lo cuma
‘ooh’ doang!”
“Emang kenapa
sih, nanyain Bata tiba-tiba?”
“Mmmmm... “ ku
dengar dia terkekeh sendiri
“Kok ketawa? Ada
yang lucu?”
“....hehehe...”
“Oh gue tauu!!
Bata habis ngupil di depan lo, kan?!!!”
“Hah?! Ya enggak
lah!”
“Lah terus
ngapain senyum-senyum sendiri, sambil ketawa? Gue kira lo habis liat Bata
ngupil, terus lo pikir itu lucu!”
“Itu JOROK
NAMANYA AYU! Ihh! Lo tuh cantik-cantik
gak waras ye?”
“Serah lo dah...
cepetan mau ngomong apa?”
“Gue dari tadi
udah nanya, Bata itu gimana menurut lo?”
“Ooh.. baik.
Ramah.”
“Terus?”
“Udah.”
“Lah.. kok
pendek banget!”
“First impression gak usah
panjang-panjang!”
“Ya udah deh...”
“Kenapa emang?”
“Ganteng gak?”
“Mmmmm... masih
gantengan Jin BTS sih”
“Ihh tau ah
ngobrol sama lo! Pusing gue!”
Tut tut tut…
Rere mengakhiri
telpon kami. Aku terkekeh senang, menggoda Rere itu seperti menggoda anak
kecil. Menyenangkan dan memuaskan, hahaha...
Btw, gara-gara Rere aku
jadi kepikiran. Bata itu orangnya baik dan ramah. Tapi, lebih dari itu dia
orangnya enak diajak ngobrol juga. Lucu sih kadang-kadang, rada polos juga. Yang
lebih dari itu, dia mengimami sholat dengan baik sore tadi. Aku jadi
senyum-senyum sendiri mengingatnya.
“Eh! Kok senyum
sih! Ah!” aku kembali fokus ke novelku.
-to
be continue-

Comments
Post a Comment