Sabtu, 10 Oktober 2018
Assalamualaikum semuanyaa!!
Hari ini aku akan berbagi cerita tentang pengalaman bunuh diri aku. Sebenarnya,
aku sudah pernah menulis pengalaman ini. Hanya saja, karena aku terinspirasi
dari video Menjadi Manusia yang aku tonton tadi pagi, jadi ada keinginan dari
diriku untuk menceritakan pengalaman yang lebih detail tentang aku.
Some of you,
maybe know that I tried to kill myself because I never get appreciation from
Mawar. Well, that is true. But, there is something more than that. Let me tell
you now.
---
Hidup ini bukanlah sesuatu yang pasti seperti matematika.
Dunia ini, tak lebih dari sebuah ketidak pastian. Abstrak. Bagaimana dunia ini
berkembang, we never know. Ketika kita
tersesat di suatu jalan dan tak ada satu manusia yang membantu, and you feel alone. Bahkan kamu tak
memiliki kompas untuk menunjukkan “kemana aku ini pergi?” “Dimana semua ini
berakhir?” “Lalu, adakah di sana yang mau mendengarku?” Di sinilah kita kehilangan
harapan.
Dulu ketika aku masih SD, aku siswa yang aktif. Aku suka
berlari, main basket dan berenang. Berenang adalah jadwal yang tidak boleh aku
lewatkan, apalagi Babe selalu mengajariku untuk berenang. I love swimming because of him. Babe selalu mengajariku untuk berenang dengan benar, ia
juga selalu menghitung berapa banyak nafas yang mampu ku ambil dalam sekali
jalan. Sepulang dari renang, kami menyempatkan diri makan bakso atau yang
anget-anget, alias jagung bakar. Lalu,
aku tertidur di sepeda sampai aku sampai rumah. What a beautiful memories.
Tak lama lagi, semua itu tidak berjalan lagi. Aku yang
dulu rajin mengukur tinggi badan setelah olahraga, berubah menjadi rajin
mengurung diri di kamar. Itu terjadi karena saat itu aku mengenal musik K-pop. Entah
mengapa, aku menyibukkan diri dengan gadget, aku menonton dari pagi hingga pagi
video-video musik mereka. Mungkin ini yang membuatku jarang lagi melakukan
sosialisasi dan mulai tidak mampu mengontrol diri sendiri. Yang terjadi adalah
berat badanku yang semula 40 kg berubah drastis menjadi 48 kg. Lalu itu masih
berkembang hingga 53 kg di usia 14 tahun, kalau tidak salah.
Karena aku suka mengurung diri di kamar, sekalinya aku keluar
kamar untuk menghirup udara bebas, tetanggaku yang juga sudah cukup lama tidak
bersua denganku jadi terkaget-kaget. “Niar, is
that you?” kurang lebih begitulah isi pikiran mereka. Start from here, I got body shamming for 4 years. Yaa, kurang lebih
selama itu. Awalnya aku biasa aja gitu, tapi ternyata not only once. Aku mendapatkan pertanyaan bahkan pernyataan yang sama,
namun orang yang berbeda. Aku masih ingat di antaranya berkata seperti ini.
“Lo dek? Sumpah luemuuu!”
I just smile.
“Lo Niar, kamu gendutan
yaa..”
My Sist said, “Hemm!!!!”
Maksudnya dia itu memberi
penekanan, bahwa yang diungkapkan mbak di sebelah dia itu benar adanya. Double attack, dah.
And I started to cry. Kenapa gak berhenti-berhenti sih? Gaada
bahasan lain apa, selain ngomonin tubuh manusia?
Someone else once said, “Kamu itu udah pendek, gendut, bantet.”
My heart was broken. I wanna cry, but I can’t show it to them.
Dan ketika aku di rumah,
aku hanya bisa mengurung diri di kamar. Menangis menangis menangis terus. Di situlah
aku mulai tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain. Aku tidak tahu
aku bisa percaya kepada siapa. Bahkan kepada diri sendiri saja, aku tak mampu.
Aku seperti mengutuk
diriku sendiri. Menyalahkan diriku sendiri karena aku gendutan dan seperti
mengganggu hidup orang lain begitu. Semua orang mengatakan hal yang sama. Aku lelah
mendengarkan hal yang sama berulang-ulang terus. Eventhough Maybe, orang lain
bisa menerima itu.
“Halah.. nanti juga kurus
lagi.”
“Aku justru merasa
diperhatikan kalau aku digituin.”
“Itu hal yang biasa.”
#RIPINDONESIA
“GAK ITU GAK BIASA! ITU
BURUK! APA FAEDAHNYA NGOMONGIN BADAN
ORANG HAH?!” Jeritan hatiku.
In this case, I hate
people. I hate their beautiful mouth. Why should we talk about something bad? Why
don’t we talk about, what will happend in 2050? Are there a flying car? Why don’t
we talk about, what is your dream? How is your plan in the next 2 years? Why we
should talk about someone’s body? Their face? Are he/she slimm or fat? How many
kilograms did you gain your weight? WHY DON’T YOU LOOK IN A MIRROR? Are you
good enough? Beautiful enough? Are you THE BEST HUMAN in this WORLD? Why people
why???
Sampai kapan kita gini
terus? Ini gak sehat, guys.
---
Tibalah di masa-masa SMA. Kalau
kata orang, masa SMA itu masa yang palng indah. Hampir semua orang ingin balik
ke masa-masa SMA. Aku? GAK AKAN PERNAH.
Mawar adalah alasan
terbesarku untuk tidak kembali ke SMA. Jangankan mengulang, datang ke SMA aja
aku ogah. Sampai detik ini pun, I don’t
want to meet her. Bagiku sudah cukup untuk 3 tahun bersamanya, dimana 2
tahun bersamanya adalah kenangan terburuk, terpahit dan terbaik yang aku punya.
Bagaimanapun juga, tanpa adanya Mawar aku tidak bisa menuliskan kisahku di
sini. Pasti ada pelajaran berharga yang mampu kita petik, tapi terlalu banyak
rasa sakit yang tersisa di relung hati ini. Mendengar namanya saja, berat
bagiku untuk bernafas. Apalagi bertemu kembali?
Do you know how it feels when you tried so hard, learning something
that is not an easiest thing in this world? And you keep doing your best, but
you feel confused? You don’t know that your work is neither false nor true. And
you never get appreciation. Lalu, tibalah di titik bahwa ternyata.... semua
yang kau lakukan, SALAH. Itulah yang aku rasakan bersama Mawar. Everything was wrong. The fatal thing was,
she didn’t give the right direction, after she told me that it was wrong. My day
passed like this, day by day. Always wrong in her eyes, always dissapointed her
and never fulfil her expectation. It was me!
Di sini lah aku merasa
bahwa no one understand me. No one listen
to me. I’m alone in this world. Lalu mengapa aku masih hidup? This world doesn’t belongs to me. Why don’t
I just end my life? Toh, nanti juga bakalan mati. Toh, nanti juga kiamat.
Lalu dengan tangis yang
menderu malam itu, ku ambil sebuah pensil di dekatku. Aku tidak yakin, sudah
lupa itu pensil atau pena. Tapi, yang jelas itu cukup tajam. Aku pandangi
denyut nadi di tanganku. Beberapa detik lagi, darah akan mengucur dari nadiku. Lalu
aku bisa tidur dengan tenang selamanya. Oke aku siap. Ayo kita akhiri hari ini.
Air mataku masih menetes,
suara tangis yang ku tahan masih saja keluar, kepalaku berat menyimpan berbagai
macam pertanyaan, dan aku hanya bisa menyalahkan Tuhan. Karena hanya Dia yang
membuat jalan hidupku seperti ini. Bahkan di titik ini juga, aku mempertanyakan
keberadaan Tuhan. Bahkan berapa banyak aku sholat pun, hingga tangis di sujud
akhirku, aku merasa Tuhan tidak ada untukku. Kemana Dia?
Dengan seluruh kekuatan jiwa
dan raga, aku memutuskan untuk menaruh kembali pena/pensilku itu. Menangis lagi,
aku tak mampu melawan diriku. Aku tak jadi mati, tapi aku masih ingin mati. Tapi,
aku masih ingin percaya bahwa aku masih berhak untuk hidup. Aku hanya ingin
pergi dari sini. Aku hanya ingin, orang lain tahu bahwa aku ingin dimengerti. Tapi,
apakah ada orang itu? Siapa?
Malam itu, aku menyerah
dengan skenario Tuhan. Aku ingin tidur, aku tak tahu esok hari akan seperti
apa. Aku tak berharap esok akan tiba, aku ingin malam ini di dalam tidurku. Biarkan
kesunyian ini, sepi ini yang mengantarkanku untuk tidur selamanya. Tolong jangan
bangunkan aku di esok hari, biarkan aku tidur dengan tenang. Aku lelah. Kalau memang
Tuhan mendengarkan ku, tolong kabulkan permohonan ini.
---
Mimpi. Begitulah aku memanggilnya. Mimpi yang membuatku
berhenti untuk tidak menyakiti diriku sendiri. Dulu waktu SMP aku punya mimpi,
aku ingin mengelilingi dunia ini. Dan begitulah mimpi itu tiba-tiba hadir
kepadaku. Satu hal yang membuatku kembali dalam hidup, dalam pagi yang
menyesakkanku saat itu. Mimpi.
Mungkin, kalau saat itu
malaikat dan Tuhan menyetujui keputusanku. Aku tidak mungkin bisa sampai di Jerman
pada tahun 2016. Mungkin aku tidak pernah tahu merasakan transit singkat di
Kuala Lumpur, tertawa remeh membaca bahasa melayu yang unik dan terkesan
bersahabat dengan bahasa kita. Mungkin aku tidak pernah tahu, rasanya tidak
bisa tidur di pesawat dengan tenang, saking penasarannya seperti apa Jerman
itu? Dan mungkin aku tidak pernah bisa bertemu dengan teman-teman terbaik yang
selama ini aku punya. Mungkin beginilah Tuhan meyakinkanku, bahwa “Hei.. Aku
mendengarmu. Aku ada di sisi mu.”
Sayangnya, aku menyadari
bahwa Tuhan memang benar-benar ada itu ketika aku sudah lulus dari SMA. Sudah tidak
lagi berkecimpung dengan Mawar. Tapi, tak ada kata terlambat untuk
mengenal-Nya. Begitulah aku menghibur diriku sendiri. Yaa, pada akhirnya aku
masih hidup juga sampai sekarang. Meskipun trauma itu ada dan susah juga bagiku
untuk menjadi orang yang terbuka dengan orang lain. Susah juga untuk percaya
dengan orang lain. But, it’s okay. Itulah
hidup dengan segala ke-abstrakkannya.
Sekarang, kalau ditanya
keinginan untuk bunuh diri lagi ada atau tidak. Aku berani menjawab ada, tapi
TIDAK untuk sekarang. Ada tapi dulu dan itu tidak hanya sekali. Namanya juga
orang belajar percaya yaa, pasti gak ada yang instan juga. Usahaku untuk tetap
bertahan adalah dengan cara meyakinkan diri bahwa aku tidak sendiri. Dengan aku
menulis, itu sudah cukup bagiku untuk meluapkan semua hal yang ‘biasanya’
dipandang sebelah mata orang lain. Dan mungkin ini sudah menjadi takdirku untuk
bertemu dengan sahabatku, Aren, juga. Karena Aren ini adalah pendengar yang
sangaaattt baik. Karena dia aku percaya, bahwa masih ada orang yang mau
mendengarkan ku, masih ada orang yang mengerti keadaanku dan aku tidak sendiri.
Jadi, ya beginilah aku sekarang. Mencoba bertahan semampuku untuk tetap hidup
di dunia ini.
Bagi kalian yang memiliki
pengalaman dan perasaan yang sama denganku, jangan takut. Masih banyak orang
baik di dunia ini. You’re not alone, tie
your hand with mine. Let’s walk together. J

Comments
Post a Comment