Berbicara tentang mimpi itu menggelitik hati dan pikiran.
Mimpi sendiri nama lainnya cita-cita
maknanya adalah keinginan, gairah, kegemaran atau semangat yang muncul secara alamiah
di setiap jiwa manusia. Kenapa manusia, karena tumbuhan atau hewan gak bisa
bermimpi seperti kita. Kalau kita bisa bermimpi kuliah di Harvard, kaktus gak
mungkin dong bermimpi tumbuh di Harvard juga. Hehe... bercanda, eh serius ding.
Kan bener apa yang ku katakan. Seorang manusia itu bisa memiliki mimpi yang
berbeda dan tak terhitung jumlahnya. Sebut saja Wirda Mansur, dia bermimpi
punya bisnis helikopter, tapi dia juga ingin kuliah S1, S2, S3 S teh manis dan
s s seterusnya. Ada juga mungkin orang di luar sana mimpinya cuma satu, dia
hanya ingin kerja dan punya uang untuk menghidupi keluarganya. Semua mimpi
punya takaran masing-masing dan tergantung pemiliknya. Mimpi itu salah satu
kewajiban yang harus dimiliki semua manusia, kalau manusia ini ingin hidup
lebih lama dan bahagia. Setiap orang pasti punya titik henti di mana mereka
akan berpikir, “Apa sih sebenarnya yang ku inginkan di dunia ini?” atau “Aku
ingin jadi orang seperti apa?” Ya, paling tidak seperti itu lah. Tapi, apa
jadinya kalau manusia itu tidak punya mimpi? Like me, I was lost. Then what did I do to find that dream? Begini ceritanya...
Penulis konten yang tulisannya lagi kalian baca ini
sebenarnya adalah seorang pemimpi sejati. Tiap hari ngehalu doang nih anak. Mau tau
ngehalu apa aja? Gak usah lah
ya, aib cyin wkwkwk... Ya udah aku kasih bocoran sedikit, pernah kok Mbak Halu
ini ngimpi jadi pacarnya Lee Min Ho.
Hahaha... main drama bareng terus cinlok ehh pacaran, ehh nikah, bahagia
sekali. Yha, namanya juga HALU. Hehe... back
to the topic!
Mbak Halu atau aku ini adalah pemimpi sejak smp, kebayang
gak tuh udah ngehalu jadi istrinya
oppa siapa aja.. wkwk.. gak-gak. Maksudnya mimpinya Mbak Halu ini sejak smp no kaleng-kaleng gaes! Dia pengin banget
keliling dunia dan bisa menguasai seluruh bahasa di dunia dan inilah yang
mengantarkannya masuk sma ke Jurusan Bahasa. Singkat cerita, perjalanannya
ternyata gak semudah yang dibayangkan. Banyak nangisnya timbang sumringahnya, banyak
stresnya daripada cengengesannya. Bagi pembaca setia konten di blog ini pasti
sudah hafal dengan Ibu Mawar. Semua tali-tali mimpi simpulnya di Ibu Mawar ini,
keterkaitannya pun sampai sekarang belum luntur. Beliau juga yang berhasil
memporak-porandakan mimpi ku yang dirajut berjuta-juta purnama. Tapi, justru
aku juga salah. Kenapa? Karena akhirnya aku sadar, kalau seandainya aku bisa
menerima semuanya dengan lapang dada dan tidak melepaskan mimpiku mungkin saat
ini aku sudah mencicipi indahnya negara-negara di luar sana lebih dalam. Menjamahnya
penuh cinta dan kebahagiaan, tapi ternyata Tuhan berkata lain. Tidak apa,
inilah proses. Proses menuju pendewasaan dan proses menuju kesuksesan. J
Sejak menjadi mahasiswa, ternyata aku masih memendam
amarah selama masa sma. Banyak hal yang menyakitkan telah terjadi dan mengubah
semua hidupnya. Tuntutan keluarga juga membuatnya tertekan dan linglung
berkali-kali. Lelah, anxiety, depresi, insomnia dan semua hal menyakitkan aku
telan. Perasaan ingin menyerah datang dan pergi tanpa permisi, bagaikan angin
yang berhembus. Sayangnya keinginan itu selalu kalah dengan keinginan lain
yaitu KUDU SURVIVE. Iya, mau gak mau bagaimanapun caranya kita harus bertahan.
Proses ini menjadi saksi kesuksesan masa depan nanti, jadi harus bertahan
bagaimanapun letihnya. Demi mimpi, demi aku, demi kebahagiaan. Waktu yang terus
berputar pada porosnya menyadarkanku bahwa perasaan gagal yang selalu
menghampiri adalah petarung yang bisa merebut waktumu kapan saja secara
percuma. Oleh sebab itu, daripadi menghabiskan waktu untuk menyesali semua
takdir ini, mengapa kita tidak lanjut berjalan saja. Sebelum Sang Raja Siang
menghembuskan nafas terakhirnya dan purnama pergi meninggalkan kita selamanya, why don’t we walk together? Shadow is also
the part of my body, my life. Melangkahlah aku akhirnya menuju jalan yang
lebih pasti, meskipun terjal, berlubang, gelap dan entah ada apa lagi di jalan
ini.
Semenjak aku kuliah, waktuku tidak hanya habis untuk
kuliah tapi juga organisasi dan part time.
Sekali-kali aku juga mengasah skill
yang lain, salah satunya adalah menulis. Konten-konten di blog ini adalah salah
satu proses pengembangan skill ku. Blog
ini dibuat tahun 2017 dan konten pertamanya adalah curhat. Iya, curhat yang
harusnya jadi rahasia pribadi sekarang jadi rahasia umum. Hahaha... Btw, thank you for all the silent readers and
commentators out there. I’ve gained a lot of strength from you! Dan sampai
sekarang kontennya juga tetap sama, curhat. LOL.
TAPI, justru karena konten curhat ini tulisanku semakin lama juga semakin baik.
Setelah konten curhat, akhirnya aku mulai bisa menulis artikel ilmiah dan
non-ilmiah, cerita pendek, puisi, esai dan masih banyak lagi. Selain itu,
bahasa yang digunakan juga tidak melulu Bahasa Indonesia, tapi juga Bahasa
Inggris dan Bahasa Jerman. Dulu tujuan membuat blog hanya untuk pelepas stres
dan senang-senang doang, lama-lama dunia tulis-menulis ini membuahkan hasil. Dari
menghasilkan konten, menang lomba, diterima sebagai partisipan exchange ke LN, dibayar dan masih banyak lagi. Semua ini
berkat kalian juga, berkat kritik dan saran kalian aku bisa sampai sini.
Berkat dunia tulis-menulis ini lah aku semakin semangat
untuk menjadi penulis. Tapi karena kebanyakan tulisanku berangkat dari
pengalaman pribadi, sedangkan pengalamanku masih kuraangg untuk modal menulis. That’s why, I tried to look for new chances.
Salah satunya, memperbanyak baca buku. Semakin banyak buku yang dibaca semakin
banyak juga informasi yang didapatkan untuk menulis dan imbasnya juga aku mulai
mengenal genre buku favoritku. Beberapa genre yang aku suka adalah all novel by Ika Natasa dan self improvment books by Wirda Mansur
and Maudy Ayunda. Ketiga penulis itu adalah penulis favoritku sepanjang masa
hehe. Berangkat dari buku-buku ini, aku mulai belajar sedikit-sedikit tentang
dunia psikologi. Mulai dari Anxiety, Depresi, Introverts vs Extroverts, Looking for our own happiness dan masih
banyak lagi. Ini lah yang membuatku lebih bergairah,
nulis..nulis..nulis..diskusi..baca..nulis..
Langkah selanjutnya adalah meminta kekuatan-Nya. Berdoa,
ikhtiar, mendekatkan diri kepada Yang Maha Besar. Minta ke yang punya dunia,
karena kita itu tinggal di kerajaan-Nya. Semakin mendekatkan diri, harusnya
semakin tahu cara untuk membenahi diri. Termasuk membenahi mimpi. Bawa mimpi ke
sajadah, ke doa, berdoa sedetail mungkin baru lanjut usaha duniawi, terus
ditutup dengan doa lagi. Kalau katanya Wirda tuh “Allah dulu, Allah lagi, Allah
terus..” Gunanya apa sih? Supaya diberikan petunjuk dan kekuatan. Bagi yang
belum punya mimpi, doa aja dulu minta diberikan petunjuk. Allah itu as-Sami’
atau Maha Mendengar. J
sumber: Buku Unlimited You by Wirda Mansur
Setelah mengumpulkan semua hal yang berkecimpung di
kehidupanku, aku mulai berpikir lebih dalam tentang apa yang benar-benar aku
ingin lakukan di dunia ini. Finally, I
found it! Salah satunya adalah kuliah Psikologi di Universität Wien atau
Universität Innsbruck. Kedua universitas itu lokasinya di Austria, Eropa. Why Austria not Germany? Meskipun aku mahasiswa Sastra Jerman, mein erstes
Traumland ist Österreich (negara impian utamaku adalah Austria). Sejak sma udah ngidam pengin ke Austria terutama
ke Wien/Vienna, karena nama
kotanya dalam
Bahasa Jerman cukup membingungkan dengan wine atau
dalam bahasa Jerman tulisannya Wein. Wien and Wein, hmm.. sounds cute.
Haha..
Other than that I’m falling in love with
their architecture building. You need to check this out here and here forInssbruck.
Doain
ya guys! Semoga bisa keturutan, meskipun ngulang S1 lagi gapapa. Berjuang itu
tidak mengenal waktu.
Selain kedua universitas itu, ada satu universitas yang
sudah kalian kenal karena salah satu artis Indonesia adalah alumni kampus ini. Apalagi
kalau bukan Oxford University. Alasannya masih sama England is my second dreamland. Kapan lagi ketemu Prince Harry.
#halulagi alasan kedua juga masih sama, their
old style building captivating my eyes. Pantes Maudy Ayunda senang banget
kuliah di sini. Kuliah di sini jurusannya juga masih sama yaitu Psikologi. Ada satu
alasan yang membuat aku terpikat dengan jurusan ini. Punya gangguan mental dan
merasa tidak ada yang mendengarkan itu gak enak. Itu sebabnya aku ingin menjadi
satu dari sekian psikolog lainnya yang menemani mereka berjuang melawan
gangguan itu. Doain aja semoga diizinkan.
Jadi, intinya pembahasan di atas adalah kita harus punya
mimpi yang besarr dan kuat. Bawa mimpi ke sajadah, curhat aja ke Allah yang
detail. Contohnya aku berdoa gini, “Ya Allah Yang Mahakuasa, Yang Mahapendengar, Yang Mahapemberi, Yang Mahapengampun terimakasih sudah dicukupkan
kebutuhanku, diaktifkan semua inderaku, diberikan rezeki yang cukup dan
diberikan kesempatan memperbaiki diri lagi. Ya Allah aku ingin jadi Psikolog
dan punya kantor bercabang-cabang seluruh Indonesia, aku juga ingin kuliah di
Austria di Universität Innsbruck gratis dapat beasiswa kuliah dan beasiswa
kehidupan selama di sana. Tolong bimbing aku dan dekatkan aku kepadanya. Aamiin.”
INGAT HARUS DETAIL. Ilmu ini aku pelajari dari Wirda Mansur, karena apa yang
kita inginkan ya harus spesifik dan gak usah sunkan sama Allah. Jusrtru Allah
tuh suka kalau hamba-Nya meminta kepada-Nya dan hanya bersandar pada-Nya. Yuk! Kita
semua pasti bisa! Sekian cerita hari ini. Stay
Positive! Semangat!


semangat kakkkk!!!! kakak pasti bisa
ReplyDeleteTerimakasih, kamu juga semangatt
Delete